Wédang Uwuh (56)

Asi Maupun Asu

Kedaulatan Rakyat, 5 Desember 2017

Mungkin karena pekéwuh sendiri tidak mau diaturi hadir rembug sesepuh desa, besoknya Simbah malah mengutus Pèncèng sowan ke rumah pribadi Pak Lurah. Untuk menyampaikan bahwa Simbah akan datang nanti pada acara Penyuluhan Sosialisasi Air Susu Ibu.

Pak Lurah malah bingung: “Penyuluhan apa? Dan kapan?”

Pèncèng ikut bingung: “Lho nyumanggaaken. Simbah pesannya begitu…”

Pak Lurah meminta Pèncèng untuk kembali ke rumah Simbah menanyakan apa maksud Simbah, karena di Kelurahan tidak ada rencana acara seperti yang dipesankan oleh Simbah. Jengkel juga Pèncèng pada Simbah, dan merasa agak malu kepada Pak Lurah.

Sesampainya di rumah Simbah, Pèncèng menemukan Gendhon dan Beruk sedang duduk berdua bersandar tembok dengan wajah agak kosong dan deleg-deleg.

“Ada apa kalian ini kok seperti orang stress…?”, Pèncèng gabung duduk.

Beberapa lama mereka tidak menjawab. Tapi akhirnya Beruk nyeletuk: “Setelah Simbah menyuruh kamu ke Pak Lurah tadi, Simbah tiba-tiba menanyakan kepada kami satu persatu apakah dulu waktu bayi kita disusui langsung oleh Ibu atau tidak?”

“Ya. Terus?”, Pèncèng mengejar.

“Saya sedang mikir bagaimana caranya bertanya kepada Simbok”, Gendhon nyeletuk.

“Mestinya saya ya disusui”, sambung Beruk, “tidak pernah ada perasaan atau ingatan bahwa waktu bayi saya disusui”

“Lantas apa yang membuat kalian seperti kebingungan?”, Pèncèng bertanya lebih lanjut. Gendhon dan Beruk berpandangan satu sama lain.

Pèncèng kemudian malah tertawa. “Kalau saya sangat jelas”, katanya, “tidak mungkin ketika lahir saya disusui oleh Ibu, karena Ibu saya meninggal sesudah melahirkan saya. Ibu saya meninggal demi melahirkan saya. Ibu saya meninggal demi supaya saya ada dalam kehidupan…”. Pèncèng tertawa lebih keras dan agak berkepanjangan.

Rupanya situasi itu yang membuat dua temannya seperti salah tingkah dan stres. Kenapa Pèncèng yang disuruh oleh Simbah menyampaikan hal air susu Ibu kepada Pak Lurah. Kenapa bukan Beruk atau Gendhon. Kok tega-teganya Simbah.

Atau justru Simbah membenturkan sesuatu di dalam diri ketiga anak-anak yang bersahabat dengannya itu. Simbah mungkin sedang menginformasikan bahwa perilaku, watak dan temperamen Pèncèng sangat berbeda dengan Beruk dan Gendhon, itu karena Pèncèng waktu bayi tidak disusui oleh Ibunya.

“Pèncèng tidak mengalami disusui langsung oleh Ibunya”, kata Simbah tadi, “tidak mendapatkan sentuhan dan usapan cinta langsung dari Ibunya. Tidak berada di alur getaran dan aliran tajalli Allah melalui hakikat eksistensi dan fungsi Rahman Rahim sang Ibu. Tidak merasuk ke dalam darah, jasad, urat saraf, hati dan rohnya, rahmah hidayah barakah Allah melalui tetesan dan aliran susu Ibu. Dan itu menentukan bangunan kejiwaannya sepanjang hidup. Menentukan bukan hanya karakternya, juga alur nasibnya”.

Simbah meminta Gendhon untuk merenungi, meneliti dan merumuskan “Air Susu Ibu sebagai satu dari sekian keajaiban Allah yang dianugerahkan ke dalam tubuh setiap manusia”. Sementara Beruk diberi PR untuk meneliti “Para pelaku Klithih itu berapa persen yang waktu bayi disusui oleh Ibunya, berapa persen yang tidak”. Boleh ASI maupun ASU. Air Susu Ibu maupun Air Susu Ummi. Simbah menambahkan, para Dokter anak mengeluh bahwa jumlah Ibu yang menyusui bayinya sekarang sangat menurun, jumlahnya sampai di bawah 30 persen”.

Tiba-tiba Kasmin, putra tertua Pak Lurah, nongol menemui Pèncèng dan dua sahabat Simbah itu. “Mas Pèncèng”, katanya, “di Balai Desa sedang ada tamu beberapa Dokter Anak. Bapak pesan agar mas Pèncèng tidak perlu menemui Simbah”.

Mungkin karena pekéwuh sendiri tidak mau diaturi hadir rembug sesepuh desa, besoknya Simbah malah mengutus Pèncèng sowan ke rumah pribadi Pak Lurah. Untuk menyampaikan bahwa Simbah akan datang nanti pada acara Penyuluhan Sosialisasi Air Susu Ibu. Pak Lurah malah bingung: “Penyuluhan apa? Dan kapan?”…