Daur-II • 231

Apa Qur`an Punya Mbahmu

“Anak-anakku sekalian, mana yang lebih utama bagi kalian: mempelajari Al-Qur`an ataukah mempelajari tafsir-tafsir Al-Qur`an?”, Pakde Tarmihim bertanya kepada Junit, Jitul, Toling, dan Seger. Itu merupakan tanggapan beliau terhadap ide Junit tentang bersemayam di Negeri Al-Qur`an.

Pakde Tarmihim membombardir mereka: “Kalau memfokuskan diri pada penikmatan atas Al-Qur`an, apakah kalian akan atau ingin menjadi Mufasir? Apakah kalian sudah siap kalau orang-orang atau teman-temanmu sendiri menanggapi dengan sinis dan meremehkan: ‘Lho memang siapa kalian? Punya bekal apa kok mau menafsirkan Al-Qur`an? Apa kalian punya latar belakang pendidikan untuk memenuhi syarat menafsirkan Qur`an?”

Pakde Sundusin bahkan menambahkan: “Nanti mereka bilang kepada kalian: Memangnya Qur`an itu punya Mbahmu!”

Toling malah tertawa. “Saya akan jawab, Pakde: Memang Qur`an bukan milik Mbahku, tapi itu mending daripada Mbahmu tidak punya Qur`an”

Kemudian Junit menjawab serius: “Jangankan menjadi Mufasir, Pakde, kami bahkan tidak ingin menjadi apapun dalam hidup. Kami belajar dari Pakde Paklik bukan bagaimana menjadi apa atau siapa, melainkan sekedar memastikan berbuat yang Tuhan setuju”

“Seandainya pun Bersemayam di Negeri Al-Qur`an itu maksudnya adalah tiap hari membaca, menelaah, mendalami dan menikmati Al-Qur`an, tidak berarti yang kami lakukan adalah sebagaimana orang-orang pandai melakukan. Tidak berarti yang kali lakukan adalah analisis intelektual atas Al-Qur`an. Yang kami lakukan bukan pekerjaan ilmiah…”

Seger menegaskan: “Ini soal kecerahan hati saja, Pakde. ‘Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?’. [1] (Muhammad: 24). Kami harus memastikan hidup tidak dengan hati terkunci.