Daur-II • 223

Apa Malaikat Tahu

Belum ditafsirkan kenapa Ashabul Kahfi dibangunkan kembali oleh para Malaikat atas perintah Allah sesudah 309 tahun.

“Andaikan saya tahu Malaikat siapa yang ditugasi Allah membangunkan mereka”, kata Toling, “Saya akan memberanikan diri bertanya, kenapa 309 tahun, kenapa tidak 310, 307 atau 300 tahun saja, atau sekalian 350 tahun”

“Apakah kita yakin para Malaikat tahu apa konsep Allah tentang 309 tahun?”

“Makanya saya pengin tanya”, jawab Toling, “kalau beliau-beliau tidak tahu kan kita jadi tahu bahwa beliau tidak tahu”

“Atau mungkin tahu tapi Allah melarangnya untuk memberitahumu”, Junit menyahut.

Seger tertawa. “Seperti Kitab Lauhul Mahfudh, apakah semua Malaikat sudah khatam membacanya? Apakah Allah memperkenankan mereka untuk membacanya? Kalau melihat kasus Malaikat menawarkan kepada Nabi Ibrahim tatkala dibakar oleh Firaun: akan meluapkan air laut, alias bikin tsunami. Atau Malaikat menawarkan kepada Rasulullah di Perang Uhud untuk mengangkat gunung dan menimpakannya ke pasukan kafir. Logikanya para Malaikat belum membaca Lauhul Mahfudh…”

“Belum tentu”, Seger menyela, “Bisa saja Malaikat sudah tahu teks skenario di bab tertentu Lauhul Mahfudh yang scene Perang Uhud: beliau menawari mengangkat gunung, justru untuk menjalankan skrip yang sudah ditulis, meskipun beliau tahu Baginda Muhammad akan menolaknya”

“Ya”, kata Junit, “Allah tidak menginformasikan apa saja yang para Malaikat tahu dan tidak tahu. Al-Qur`an memang buat manusia, bukan untuk Malaikat:

Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya…[1] (Al-A’raf: 188).