Antusiasme Santriwati Bersama Kiaikanjeng

Di antara ribuan hadirin dan anak muda yang memadati Alun-alun Purbalingga, adalah para santriwati Ponpes An-Nahl Purbalingga.
Mewadahi antusiasme santriwati Ponpes An-Nahl Purbalingga. Setiap KiaiKanjeng bawakan lagu, mereka semangat mengikuti dengan bendera. Akhirnya, Cak Nun meminta mereka naik panggung.
Mewadahi antusiasme santriwati Ponpes An-Nahl Purbalingga. Setiap KiaiKanjeng bawakan lagu, mereka semangat mengikuti dengan bendera. Akhirnya, Cak Nun meminta mereka naik panggung (Foto: Adin).

Di antara ribuan hadirin dan anak muda yang memadati Alun-alun Purbalingga, adalah para santriwati Ponpes An-Nahl Purbalingga. Mereka rame-rame datang ke Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng ini.

Pak Kiai-nya mungkin bukan hanya mengizinkan tetapi bahkan mendorong mereka supaya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas bertemu Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Mereka mengambil tempat tak jauh dari panggung. Adik-adik ini ingin mengekspresikan gembira dan antusiasmenya. Mereka bawa bendera warna hijau. Setiap KiaiKanjeng membawakan lagu, mereka ekspresif mengikuti dengan mengibar-ngibarkan bendera seirama lagu itu ditembangkan.

Pancaran semangat itu ditangkap oleh Mbah Nun. Dimintanya mereka naik panggung. Para santriwati ini diberi kesempatan unjuk kebahagiaan dengan mempersembahkan lagu bagi  kebersamaan malam itu. Tiga lagu, di antaranya Astaghfirullah, mereka pilih dan mereka nyanyikan dengan diiringi KiaiKanjeng.

Saat lagu One More Night dihadirkan, mereka juga diajak terlibat oleh Mas Jijid. Ditanyakan ke mereka, mau nyanyi lagu Jawa apa, dan Lagu Sluku-Sluku Bathok mereka pilih. Begitu pun ketika Mas Imam Fatawi meneruskan segmen itu dengan nomor Melayu Beban Kasih Asmara. Lagi-lagi mereka tunjukkan antusiasme yang sama.

Tetapi mereka datang bukan karena ingin meluapkan ekspresi dan jiwa remaja mereka. Di dalam diri mereka dan di usia belia mereka, sudah terdapat alasan dan pikiran mendasar, yang entah bagaimana prosesnya, mengenai Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang mencerminkan sikap dan benih-benih kematangan mereka.

Simak saja pengakuan dua santriwati ini. Aisya Hidayati namanya. Ia mengatakan,  “Saya sangat gembira ngaji dengan Mbah Nun dan Kiai Kanjeng, membuat hati saya tenang dan mengagumi semua karya Mbah Nun dan KiaiKanjeng”.

Dan satu lagi Masrurota Ainaya. “Saya merasa sangat senang karena dakwah model Mbah Nun dan KiaiKanjeng sangat komplet, ada shalawat, ada ilmu ada pengetahuan, ada musik, ada wawasan yang luas.”

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image