Daur-II • 003

Ancaman Untuk Sesat

Jitul, Seger, dan Toling nimbrung. Tak bisa dielakkan. “Jadi maksudnya fisabilillah itu tinggal di Negara orang tanpa visa izin tinggal. Penduduk gelap atau tidak legal di Negeri orang? Apakah itu tidak berarti mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang batil, Pakde?”

Jitul tertawa. “Akhir-akhir ini Junit agak rajin buka-buka Al-Qur`an, Pakde”, katanya, “dia khawatir disalahkan Tuhan kalau mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan….”.

Brakodin tersenyum. “Wah, hati-hati kalau baca Al-Qur`an, Nit. Baca hurufnya pakai mata, tapi baca kata-katanya kan pakai otak, untuk memahami maknanya harus pakai akal. Nanti jadi terjebak untuk menafsirkan. Padahal kamu kan bukan Ahli Tafsir”

“Siapa di antara kita yang Ahli Tafsir, Pakde?”, tanya Junit.

“Tidak ada”, jawab Brakodin.

“Mbah Sot?”

“Dia Ahli Taksir….”

“Jadi gimana kalau begitu?”

“Ya ndak gimana-gimana. Firman Tuhan ‘Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui’ [1] (Al-Baqarah: 42) itu kalau kita yang mencoba memahaminya pakai akal kemungkinan artinya bisa sangat luas, dinamis, dan relatif….”

“Serta mudah terpeleset ke jurang kesesatan”, Toling nimbrung.

“Waduh. Baca Qur`an itu malah terancam untuk tersesat ya…”, sahut Jitul. Padahal Iqra` saja pun baru meraba-raba.

“Kalau begitu di setiap kampung atau jamaah harus ada Ahli Tafsir. Jumlah Ahli Tafsir harus berjuta-juta dan merata keberadaannya”.