Daur-II • 233

Ancaman Batuk dan Wahing

Seger menjelaskan: “Apa yang kami pelajari, semua yang saya catat dari proses kami di sini, tak seorangpun tahu. Kami bukan hanya tahu bahwa kehadiran kami di manapun jangan sampai menimbulkan masalah”

“Kami bukan hanya mengerti bahwa kami jangan sampai melakukan apapun yang bisa membuat kemudaratan sosial. Bahkan kebaikan dan kebenaran pun kami siap menyimpannya di hati dan pikiran, kalau memang itu diperlukan untuk memelihara kemashlahatan dengan lingkungan manusia di mana kami berada”, Jitul ikut berusaha meyakinkan Pakde Tarmihim.

Toling tak mau kalah. “Andaikan berdehem, batuk atau wahing kami bisa menyebabkan ancaman bagi lingkungan, menyebabkan destruksi sosial, merusak situasi pergaulan masyarakat, maka kami siap untuk menahan diri tidak berdehem, tidak batuk, apalagi wahing…”

Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat”. [1] (Adz-Dzariyat: 8). “Kami belajar kepada Pakde Paklik karena kami mengalami bahwa perbedaan pendapat dalam masyarakat dan kehidupan manusia adalah bagian yang hakiki dari keterciptaan manusia oleh Tuhan”, Junit menambahkan, “Andaikan ada kepemimpinan di kalangan masyarakat yang mendidikkan kedewasaan dalam perbedaan serta kebijaksanaan dalam ketidaksamaan, tentu kami tidak terseret untuk belajar kepada para Sesepuh di sini”

Juga Seger. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu dan tidak senantiasa berselisih pendapat”. [2] (Hud: 118). “Yang kami bisa lakukan mungkin bukan berjuang mempersatukan manusia, melainkan mengupayakan perilaku dan sikap kami semua menuju kemungkinan di mana Allah berkenan menjadikan kita semua ummat yang satu. Kalaupun itu tidak berhasil, kami diperkenankan menjadi bagian dari “Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. [3] (Hud: 119). ***