Anak-Anak Perlu Dibiasakan Kaya dalam Melihat Hidup

Catatan Sinau Bareng Ultah Tamansiswa Mojokerto ke-92, Mojokerto 19 Maret 2017

Kerapkali saat mendengarkan sambutan tuan rumah dalam banyak Sinau Bareng, saya menemukan ungkapan-ungkapan tulus yang menggambarkan rasa terima kasih, kebahagiaan, dan kegembiraan atas kehadiran Cak Nun. Tampak bahwa kehadiran Cak Nun memiliki arti dan makna bagi mereka. Serupa peristiwa kehadiran “orangtua” atau figur yang dituakan, yang kehadirannya saja sudah menumbuhkan rasa bangga, bahagia senang, dan tersanjung.

Di situ, pembahasan tema atau topik akhirnya sebenarnya bersifat mengikut saja. Apalagi jika tema cukup luas cakupannya sehingga tak mungkin digapai seluruhnya dalam satu kali Maiyahan, meskipun Cak Nun sendiri selalu berusaha menyuguhkan respons ilmu yang semaksimalnya, setitis mungkin, dan semengena mungkin dengan situasi dan kebutuhan dalam cara-cara yang kreatif. Termasuk dalam pemilihan lagu-lagu KiaiKanjeng.

Tamansiswa Mojokerto 19 Maret 2017
Para guru Tamansiswa berebut menyalami dan mencium tangan Cak Nun. Foto: Adin.

Dalam Sinau Bareng HUT Tamansiswa Mojokerto Ke-92 itu, Bapak Vincentius Darwanto mengemukakan kepada Cak Nun dan KiaiKanjeng serta segenap hadirin bahwa dirinya selaku Ketua Tamansiswa Mojokerto betul-betul merasa bangga dapat memuncaki rangkaian kegiatan dengan bersama-bersama mengikuti Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk memperoleh motivasi, informasi, dan ilmu-ilmu baru.

Harapan Pak Vincentius rasanya tidak meleset, sebab Cak Nun memang menyajikan cukup banyak detail ilmu pendidikan yang bergayutan dengan kebutuhan para guru maupun praktisi pendidikan pada umumnya. Namun, sebelum itu beberapa hal dasar diletakkan terlebih dahulu oleh Cak Nun.

Indonesia saat ini sedang dirampok-rampok. Ada yang kena, dan ada yang tidak. Dan menghadapi situasi Indonesia yang demikian ini, kata Cak Nun, salah satu yang diandalkannya adalah anak-anak sekolah. Dalam bahasa Cak Nun, merekalah arek-arek nyar yang top-top yang langsung dibimbing malaikat. “Cintamu semua adalah air kawah yang akan melahirkan bayi-bayi Indonesia Baru,” kata Cak Nun.

Ini landasan yang patut kita catat. Sebab, tak semua orang hari ini punya tatapan yang demikian. Dalam kesenjangan dan akutnya problematika, ada ceruk dan celah di mana harapan itu ada, dan itu dekat dengan kita, tapi kita tak terbiasa menangkap hal yang sama. Kita miskin papa dalam kepekaan terhadap lahirnya benih-benih masa depan. Kita sibuk bertengkar dan bertikai sehingga tak sempat menoleh ke mana-mana.

Tapi alur perubahan itu selayaknya ditempuh, dimasak, dan dijalani. Tapi mungkin sunyi jalannya dan membutuhkan kesetiaan. Contohnya, kesetiaan para guru. Dalam acara malam itu, itu bisa terwakili dari penampilan para siswa-siswi SMA dan SMK Tamansiswa Mojokerto dan Mojoagung melalui beberapa persembahan kesenian. Di situ, terlihat para guru setia mendampingi. Tentu saja tak hanya saat tampil, melainkan dari proses awal, proses pendidikan dan pembelajaran sehari-hari mereka di sekolah.

Tugas Cak Nun selanjutnya adalah menajamkan apa yang sudah ada supaya lebih menandas dan mendasar lagi. Salah satunya, meminta beberapa perwakilan siswa untuk maju dan diajak berpikir dan menemukan. “Apa beda antara Tamansiswa dengan sekolah pada umumnya?,” begitu Cak Nun menugasi mereka untuk menjawab pertanyaan ini.

Dengan penuh percaya diri dan penuh semangat, mengalir beberapa jawaban dari mereka. Ada materi khusus ketamansiswaan. Misalnya, cara hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat. Demikian salah satu jawaban. Ini membuat Cak Nun berkelakar tapi serius pula, “Di sekolah negeri tidak ada kenegerian. Berarti ketamansiswaan itu penting.”

Tamansiswa Mojokerto 19 Maret 2017

Jawaban lain datang: di sekolah lain pengajar disebut guru, sedang di Tamansiswa sebutan untuk guru adalah pamong, dengan detailnya Ki buat guru pria dan Nyi buat guru perempuan. Cak Nun mengapresiasi bahwa di belakang pilihan sebutan tersebut ada keputusan filosofi tersendiri.

Dialog dengan perwakilan siswa ini lantas menjadi jalan bagi Pak Vincentius untuk ikut serta mengurai sejarah hidup Ki Hadjar Dewantara yang merupakan pendiri Tamansiswa, Bapak Pendidikan Nasional, dan sekaligus Pahlawan Pergerakan Nasional Indonesia. Diceritakan bagaimana perubahan dari nama Ningrat Raden Mas Soewardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara serta liku-liku perjuangannya. Memang tema besar Rangkaian peringatan Ultah Tamansiswa Mojokerto ke-93 kali ini adalah meneladani kiprah dan ajaran Ki Hadjar Dewantara.

Cak Nun sendiri juga telah menyinggung ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yang amat masyhur, “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.” Di KiaiKanjeng sendiri ada dua personel yang lahir dan besar di komplek dan lingkungan Tamansiswa Yogyakarta. Mas Jijid dan Mas SP Joko. “Ari-ari saya itu dipendam di komplek Tamansiswa, Mas,” kata mas Jijid kepada saya. Kedua orangtuanya mengabdikan diri di Perguruan Tamansiswa. Baik Mas Jijid maupun Mas SP Joko juga sekolah di lembaga pendidikan Tamansiswa. Bagi Mas Joko, sejauh ini yang lebih banyak dikaji adalah Ki Hadjar Dewantara sebagai Pendidik dan Budayawan, tetapi kurang dieksplor Ki Hadjar Dewantara sebagai Jurnalis dan Santri.

Indah dan Produktif Sekaligus

Akan ada banyak hal bisa dikemukakan mengenai Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa dalam konteks pendidikan nasional saat ini dalam view Adopsi dan Kontinuasi misalnya, dengan fakta bahwa Ki Hadjar Dewantara sebagai peletak dasar pendidikan nasional dan menteri pendidikan nasional pertama RI, tapi bagaimana jejak-jejak dan pemikirian Beliau dijaga, dipelihara, dan benar-benar dijiwakan ke dalam konsep pendidikan nasional merupakan pertanyaan yang selalu menarik dikaji.

Malam itu Cak Nun justru masuk ke pintu-pintu sederhana, yang muaranya adalah meneguhkan kepercayaan diri para insan pendidikan Tamansiswa. “Apa sih bedanya taman dan kebon/kebun?”. Itulah salah satu pertanyaan pemantik agar para guru dan karyawan bisa melihat kembali jatidiri Tamansiswa. Umpamanya dari segi mana yang lebih berfungsi produktif. Ini mengundang respons yang beragam. Seorang JM melontarkan jawaban dengan ringan dan mengundang tawa, “Taman ada di depan rumah, sedangkan kebon ada di belakang rumah.”

Perwakilan Tamansiswa juga turut ambil bagian menguraikan. Sampai pada kesimpulan bahwa Tamansiswa adalah lembaga pendidikan yang sadar akan kodrat alam dengan kebudayaan dan kasih sayang. Poin Cak Nun sederhana saja pada akhirnya: Tamansiswa perlu menjadi taman yang kebun dan kebun yang taman, produktif dan indah sekaligus.

Tamansiswa Mojokerto 19 Maret 2017
Di bawah Sport Center Tamansiswa Mojokerto ini adalah ruang guru dan administrasi.

Acara berlangsung di Sport Center Tamansiwa Mojokerto. Sebuah lantai dua dari bangunan yang di lantai satunya berfungsi sebagai kantor guru dan administrasi. Ukurannya tidak terlalu besar untuk menampung jamaah Maiyah, dan mungkin hanya memuat para guru, karyawan, siswa, dan sebagian tamu. Selebihnya jamaah dan masyarakat umum disediakan layar-layar di luar dan di jalan. Secara keseluruhan acara berjalan dengan baik. Dari sisi kepanitian pun demikian, seluruh item terkawal dengan baik pula.

Tatkala Cak Nun belum tiba, karena faktor delay pesawat, awak KiaiKanjeng sudah siap memulai acara dengan serangkaian nomor-nomor Soran. Bergantian para vokalis KiaiKanjeng menyapa, berbicara, dan mengajak segenap hadirin untuk melantunkan shalawat. Sesudah nomor Pambuko, yang membuat sebagian anak-anak SMA Tamansiswa ini yang sebelumnya tampil bermusik dalam tembang-tembang Jawa memelototkan mata memerhatikan dengan penuh perhatian pada penampilan Bapak-Bapak KiaiKanjeng itu, para civitas Tamansiswa ini diajak menikmati nomor Jawa lama pepujian Asyahadu An-la Ilaha illallah. Lalu shalawat Ya Nabi Salam ‘Alaika, La Ilaha Illallah, dan tembang Padhangmbulan.

Salah satu nomor lagu yang dipersembahkan KiaiKanjeng adalah ABCD. Lagu bermuatan pendidikan, dan sering dieksplor oleh Cak Nun untuk menjangkau sejumlah kesadaran sejarah dan pendidikan itu sendiri. Di dalam komposisi lagu dan liriknya ada nama-nama hari, selain abjad-abjad. “Orang harus punya skala. Rentang urusan juga harus jelas. Dulu waktu Ki Hadjar Dewantara masih hidup, hari-hari pakai nama apa? Di dalam Jawa, ada putaran-putaran, juga ada weton, dan lain-lain. Apa beda antara huruf dan aksara?,” beberapa pancingan dimunculkan Cak Nun.

Itu juga membawa Cak Nun mengingat berbagai hal, misal tentang nama-nama desa yang kebanyakan diambil dari nama-nama pohon, yang setiap pohon itu punya fungsi dan artinya bagi kehidupan manusia. “Tamansiswa perlu pengetahuan tentang nama-nama itu. Mari meneruskan kekayaan simbah-simbah kita dari masa silam. Menghagai dan mempelajarinya supaya bisa meneruskan yang baik dari mereka.”

Nomor lain yang dihadirkan antara lain Ruang Rindu mengiringi siswa putri yang sedari awal ikut maju menjawab pertanyaan Cak Nun, Medley Jogja, Cinta Bersabarlah oleh Mas Alay di bagian awal, dan Fix You di bagian akhir Sinau Bareng oleh Mas Donni. Dan tentu saja beberapa nomor pengiring jabat tangan dan kepulangan hadirin, semisal Sing Jembar Atine.

Semua nomor KiaiKanjeng tadi, sebagaimana biasa dijadikan metode buat menyampaikan pesan-pesan. Dari uraian Cak Nun, salah satunya dipesankan agar Tamansiswa benar-benar mengembalikan kelas kepercayaan diri manusia Indonesia. Ini sejalan dengan tatkala usai lagu Ruang Rindu Cak Nun menerangkan ada filosofi/prinsip, ada ilmu, dan ada aplikasi. Dalam frame itu, Cak Nun bertanya, apakah negara benar-benar membangun manusia. Dari situ, para guru diajak meneguhkan diri: sekolah itu yang penting prestasi sekolah atau pendidikannya. Kalau prestasi sekolah nanti akan berlanjut menjadi prestasi dinas pendidikan. Sekali lagi, Cak Nun mengisyaratkan pentingnya kita semua menjaga roh dan substansi pendidikan manusia.

Hansamu Yama dan Mukhlis Hadining Timnas U-19 Alumni Tamansiswa Mojokerto

Mungkin tak banyak yang tahu, kalau dua pemain timnas PSSI U-19 asuhan Indra Sjafri adalah lulusan Tamansiswa Mojokerto ini. Dialah Hansamu Yama dan Mukhlis Hadining. Malam itu, Mukhlis Hadining berkesempatan pulang kampung dan hadir di alamater tercintanya. Dia ikut menemui Cak Nun sejak di ruang transit dengan mengenakan peci Maiyah. Cak Nun pun segera memeluk dan berbicara dengan salah satu “anaknya” itu.

Tamansiswa Mojokerto 19 Maret 2017
Mukhlis Hadining, perjuangannya bersama tim U-19 Indra Sjafrie membanggakan Cak Nun.

Di panggung, keberadaan Mukhlis Hadining tentu menjadi salah satu pintu masuk Cak Nun bercerita soal keikutsertaannya menemani Timnas U-19 saat itu sampai ke Myanmar bersama Ibu Novia Kolopaking, tentang PSSI yang tak tepat memperlakukan timnas U-19, sampai soal cerita Cak Nun membantu Arema ketika itu yang akan tanding di final dan belum punya sangu buat melakoni final tersebut. Kehadiran Mukhlis ini juga dijadikan contoh oleh ketua Yayasan mengenai bagaimana praktik pendidikan seyogyanya dijalankan. “Mukhlis dulu sering absen sekolah, tapi nilai tetap bagus yang dia dapatkan. Kita perlu sistem pendidikan yang melihat potensi atau sukses siswa tidak hanya dari sisi akademis saja. Dibutuhkan kurikulum yang benar-benar sesuai dengan siswa,” tegasnya.

Sementara itu Ki Saur Pandjaitan yang mewakili Majelis Luhur Tamansiswa turut memberikan wawasan tentang budi pekerti, dalam hal ini bagaimana sosok Ki Hadjar Dewantara mengasah diri untuk senantiasa memiliki kecerdasan budi pekerti.

Apa Hukum Su’udh dhon?

Itu bukan pertanyaan di bahtsul masa`il, melainkan salah satu pertanyaan dalam lembar soal di pelajaran anak sekolah dasar. Ini Cak Nun bercerita dari pengalaman sang anak bungsu yang masih duduk di SD. Sebuah pertanyaan yang menjadi perhatian tersendiri bagi Cak Nun. Kok bisa pertanyaan kok hukum atas su’udh dhon (bersangka buruk). Bukan soal anak bisa menjawab atau tidak. Tetapi pertanyaan seperti itu membawa implikasi pada penyempitan atas realitas hidup.

“Hidup itu tidak seperti itu. Ora padet (tidak padat), tapi cair, dinamis, bersisi-sisi. Dalam situasi perang Anda bisa kalah kalau tidak su’udh dhon. Dalam banyak hal, su’udh dhon itu mirip atau dekat waspada dan itu perlu. Sama antara pelit dengan hemat. Anak-anak harus dibiasakan kaya dalam melihat hidup,” pinta Cak Nun. Ringkas kata, pertanyaan tadi menyederhanakan persoalan dan realitas hidup yang luas dan berdimensi-dimensi. Tidak bisa serta merta langsung dibikin pertanyaan seperti itu. Ada konteks, momentum, dan situasi yang perlu diperhatikan, yang akan menghasilkan jawaban yang berbeda-beda pula sesuai konteks tersebut.

Ulasan Cak Nun tentang pertanyaan dari soal pelajaran SD ini rasanya penting dicatat dan diresapi para guru, khususnya para pembuat soal. Pertanyaan mungkin mudah dibuat, tapi perlu dipertimbangkan berbagai sisinya, termasuk efeknya pada pembangunan konstruksi berpikir siswa. Sebuah sumbangan tersendiri dari Cak Nun ihwal subtil pendidikan dari lapangan nyata sekolah kita.

Paparan itu disampaikan Cak Nun dalam merespons beberapa pertanyaan dari jamaah terkait pendidikan, dari soal apakah kurikulum pendidikan Barat perlu ditinggal atau tidak sampai soal dilema atau kebingungan pelaksanaan di bawah. “Itu tergantung konsep pendidikan nasional kita. Fokus pendidikan adalah yang dididik, yaitu manusia itu sendiri. Yang penting dari manusia itu apanya: benar, baik, indah, ataukah apa? Indonesia tidak kunjung memperbaiki diri, sehingga Anda yang di bawah ini mengalami kebingungan. Sementara kenyataannya manusia mendapatkan kelebihan di antara sesama mereka. Kesalahan pendidikan adalah memandang orang sama semua,” respons Cak Nun.

Tamansiswa Mojokerto 19 Maret 2017
Anak-anak perlu dibiasakan kaya dalam melihat hidup

Sementara itu, pada bagian lain di tengah dialog dengan siswa dan yayasan, Cak Nun juga berbicara tentang aspek lain dari manusia yang menjadi perhatian dan fokus pendidikan yaitu bakat dan minat. “Seharusnya setiap sekolah memupuk minat dan bakat, dan jangan itu disebut keistimewaan, karena memang begitu harusnya. Itu bukan prestasi. Bukan plus. Tapi tidak min. Presiden membikin jalan tol itu hal biasa. Kita harus punya parameter.”

Jika ditarik sebuah garis, bisa diperoleh pemahaman dari apa-apa yang disampaikan bahwa Cak Nun, bahwa pendidikan sebagai salah satu pekerjaan peradaban manusia dalah kegiatan dan aplikasi dari serangkaian filosofi dan ilmu yang juga harus dilakukan dengan tingkat presisi dan keseimbangan yang tingkat. Bahkan kadar prioritas tinggi. Tak boleh terlalu mbleset dan goyang.

***

Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin langsung oleh Cak Nun dengan doa penutup yang sangat kuat getarannya dalam suara dan lantunan khas Beliau. Seluruh hadirin berdiri, mengamini, dan berdoa untuk hajat masing-masing pula.

Harapan-harapan yang disampaikan Pak Vincentius saat menyampaikan sambutan tampaknya tercapai adanya. Tak sedikit hal-hal baru dikemukakan Cak Nun, utamanya bagaimana Cak Nun dan KiaiKanjeng cukup kaya dalam memahami hakikat pendidikan Ki Hadjar Dewantara. “Ki Hadjar Dewantara sendiri berprinsip bahwa pendidikan tak hanya melulu soal intelektualitas, tapi soal yang lainnya pula dalam diri manusia. Cak Nun dan KiaiKanjeng itu kombinasi yang luar biasa,” demikian Beliau merespons Cak Nun dan KiaiKanjeng saat menjelaskan sejarah Tamansiswa, yang salah satunya dijelaskan bahwa tujuan Perguruan Tamansiswa adalah Indonesia Merdeka. (Helmi Mustofa)

Kerapkali saat mendengarkan sambutan tuan rumah dalam banyak Sinau Bareng, saya menemukan ungkapan-ungkapan tulus yang menggambarkan rasa terima kasih…