Anak-anak Bersekolah Buat Menjawab Tantangan Zamannya

Catatan Sinau Bareng Pondok Modern As Salam, Bangsal Mojokerto 12 Maret 2017

Pada hari-hari biasa lingkungan belajar di pondok pesantren nyaris “steril” dari akses masyarakat umum. Namun, suasana dan lingkungan di Pondok Modern As Salam Kauman Bangsal Mojokerto berubah drastis. Malam itu warga Kauman, masyarakat Mojokerto dan sekitarnya berbaur dengan jamaah Maiyah dari luar kota, memadati lapangan pesantren.

Sinau Bareng bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Pondok Modern As Salam makin menegaskan pesantren adalah pusat belajar warga—guyub rukun, ngaji bareng, memetik butiran ilmu dan hikmah. Kehadiran Cak Fuad di tengah ngaji bareng terasa spesial. KH Abbas Nawawi, sahabat Cak Fuad, adalah alumni Pondok Modern Gontor.

Sinau Bareng Pondok Modern As Salam Mojokerto 12 Maret 2017

Cak Nun mengawali sinau bareng dengan mengajak jamaah membaca kalimah syahadat sebanyak tiga kali. Alur sinau bareng mulai bergerak. Nyicil pointer sedikit demi sedikit, Cak Nun tidak langsung tancap gas. Tonggak berpikir ditancapkan. Pelan-pelan jamaah diajak menatap kenyataan agar menjadi manusia yang kaya dan bisa dipercaya. Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.

Bagaimana bisa menjadi manusia yang bisa dipercaya? Kuncinya terletak pada iman. Elaborasi terkait pengertian keimanan dan persentuhan kontekstualitasnya dengan hidup bangsa Indonesia akan diuraikan lebih spesifik pada alur selanjutnya. Dan musik pembuka dari KiaiKanjeng pun menyatukan fokus pikiran dan perasaan jamaah.

Mewakili tuan rumah, KH Habib Achmad Ghozali menyapa jamaah. Sejarah, latar belakang berdirinya pesantren, pengelolaan pendidikan, dan harapan-harapan mulia terhadap sistem dan model pendidikan yang dikembangkan As Salam dituturkan KH Habib Achmad Ghozali. Santri As Salam tidak sekadar menyerap informasi pengetahuan. “Produk dari kegiatan belajar, seperti karya tulis dan audio visual memperoleh porsi yang cukup penting,” ungkapnya.

Usai KH Habib Achmad Ghozali menyampaikan sambutan, Mbak Yuli menyambungnya dengan lagu Wujud Qidam Baqa’. Saya menyaksikan Cak Nun dan Kiai Kanjeng memang tumbu ketemu tutup. Musik bisa menjadi alat untuk mengedukasi cara berpikir. Disampaikan oleh Cak Nun musik pada lagu Wujud Qidam Baqa’ dan Subhanallah nadanya bercita rasa Barat.
“Jangan gampang menuduh. Jangan mudah menghakimi ciptaan Allah!” tegas Cak Nun. Penegasan ini disampaikan Cak Nun, selain karena maraknya labelling kafir yang gampang terlontar dan disematkan pada “status” seseorang, juga untuk membuka cakrawala berpikir jamaah agar tidak terjebak memahami Islam secara sempit dan dangkal.

Ketika Harta Benda Dirampok dan Harga Diri Diinjak

Malam itu ritme komunikasi dialogis berjalan gayeng. Dinamika muatan nilai yang disampaikan Can Nun, pelan namun pasti, mulai naik. Merespons sambutan tuan rumah, Cak Nun melontarkan pertanyaan kepada jamaah, apa tujuan kita bersekolah? Jamaah pun merespons: untuk bekal hidup, mendapatkan ijazah, meraih kepandaian, mencapai profesionalitas, dan supaya orang tua senang. Jawaban tersebut direspons Cak Nun sebagai titik berangkat untuk menyentuh sikap yang lebih mendasar bahwa tujuan sekolah adalah untuk menjawab tantangan zaman.

Sinau Bareng Pondok Modern As Salam Mojokerto 12 Maret 2017
Suasana interaktif dan santri diajak mekantunkan Ilaahi Lastu (Syi’ru Abi Nuwas).

“Anak-anak ini sekolah supaya mampu menyelesaikan masalah pada zaman mereka,” kata Cak Nun. Setiap zaman memliki tantangan dan persoalan. Anak-anak ini akan menjadi pemimpin pada zaman mereka untuk mengatasi masalah—bukan untuk menjadi bagian dari masalah, apalagi menciptakan masalah.

Nah, apa masalah yang sedang menimpa bangsa Indonesia? Transisi tema pembahasan cukup lembut berpindah pada tema selanjutnya tanpa kehilangan alur kontinuasi. Cak Nun mengantarkan jamaah menuju esensi iman. Ketika orang lain merasa aman atas kehadiran kita—nyawa aman, harga diri aman, harta benda aman, itulah indikator perilaku orang beriman.

Masalah bangsa Indonesia adalah ketiga hal tersebut, terutama harta benda dan harga diri sudah sangat tidak aman. Harta benda dirampok. Harga diri diinjak-injak. Terkait harga diri, umat Islam mengalami dua tantangan: tantangan dari luar, orang muslim dicitrakan intoleran; tantangan dari dalam, orang muslim dihadapkan perilaku saudara sendiri yang selalu ngrepoti dan ngewohi.

Harga diri yang dimaksud tidak bisa lepas dari harga diri keimanan. Membela Islam yang dilecehkan tidak terutama demi membela Islam itu sendiri—karena Islam adalah milik Allah yang tidak bisa dikalahkan dan dihancurkan oleh siapapun. Membela Islam adalah membela harga diri keimanan.

Paparan tentang esensi keimanan menemukan gathukan-nya dengan tantangan pendidikan dan permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Saya menangkap visi pendidikan yang sebenarnya, yaitu mempersiapkan masa depan generasi yang sanggup merebut kembali harta benda, harga diri, dan nyawa kebangsaan yang kini terancam, lalu memastikannya aman di tangan bangsa Indonesia sendiri.

Apa yang diuraikan Can Nun tersebut adalah cara berpikir-melingkar, yang bukan hanya meluas dan mendalam—namun juga indah dan gamblang.

Suasana interaktif bertambah gayeng ketika Cak Nun memberi kesempatan para santri As Salam membawakan Ilaahi lastu bersama Cak Fuad. Disambung dengan simulasi tanya jawab menggunakan bahasa Arab, Cak Nun dan Cak Fuad melakukan interview kepada santri. Siapa nama, asal dari mana, apa tujuan nyantri di pondok As Salam ditanyakan Cak Fuad. Setiap santri menjawabnya dengan lugas.

Cak Nun mengambil sisi interview yang lain. “Apa kalimat thayyibah yang paling kalian sukai?” tanya Cak Nun. Beberapa santri menjawab suka membaca istighfar, subhanallah, alhamdulillah. Ragam jawaban itu digunakan Cak Nun untuk menyentuh kesadaran jamaah bahwa kita bisa mendekat kepada Allah melalui berbagai cara dan keadaan.

“Ada Kiai ‘Subhaanallah’. Ada Kiai ‘Alhamdulillah’. Tidak masalah, karena setiap orang memiliki tekanan pengalaman dan ragam otentiknya masing-masing. Apapun yang kita hadapi jadikanlah itu sebagai rahmat dari Allah!” tegas Cak Nun.

Fa’fuu Washfahuu: Maafkan dan Berlapang Dadalah

Sinau bareng di Pondok Modern As Salam Bangsal Mojokerto tak ubahnya pengajian Padhangmbulan. Kehadiran Cak Fuad di tengah jamaah menghadirkan kejernihan dan kekhusyukan khas Padhangmbulan.

Anak-anak Bersekolah Buat Menjawab Tantangan Zamannya
Cak Fuad menggoda jamaah dengan pertanyaan: apakah kita sekadar jadi orang muslim ataukah sudah menjadi orang mukmin?

Cak Fuad meneguhkan cakrawala berpikir jamaah dengan merujuk pada Al-Qur`an dan Hadits. Terkait harga diri keimanan Cak Fuad menggoda jamaah dengan pertanyaan: apakah kita sekadar jadi orang muslim ataukah sudah menjadi orang mukmin? Sungguh, ini pertanyaan yang tidak lazim dilontarkan saat pengajian dan masyarakat nyaris tak pernah diusik oleh kritisisme semacam itu.

Namun, ini maiyahan—tidak ada yang tidak mungkin selama hal itu diletakkan pada koordinat maqamat dan empan papan yang tepat dan bijaksana. Cak Fuad menyitir surat Al-Hujurat 14: “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Pertanyaan yang bukan sekadar pertanyaan—secara reflektif jamaah diajak untuk introspeksi, menakar kembali kesungguhan dan keyakinan dalam beriman kepada Allah. Pertanyaan yang mungkin tidak dibutuhkan oleh individu atau kelompok yang terseret arus benere dhewe, menganggap diri paling beriman, sehingga berhak dan layak menilai orang lain tidak atau belum beriman.

Tidak berhenti pada ayat ke-14 surat Al-Hujurat. Cak Fuad melanjutkan uraiannya, membawa jamaah menyelami ayat ke-15: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka Itulah orang-orang yang benar.”

Orang beriman itu mengamankan nyawa, harga diri, dan harta benda orang lain dengan lisan dan tangannya (kekuasaan). Tidak berbeda dengan Cak Nun, esensi iman yang diuraikan Cak Fuad mendapatkan sentuhan kontekstualitas kekinian tanpa kehilangan akar maknanya yang subtansial dan mendalam.

Tidak luput pula disampaikan Cak Fuad beberapa lontaran pemikiran, seperti esensi memperingati Maulud Nabi, menerbitkan cinta kepada Sang Rasul, memahami misi (risalah), menekankan perilaku yang berakhlak mulia sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad.

Sinau Bareng Pondok Modern As Salam Mojokerto 12 Maret 2017

Misi Rasulullah adalah mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya. “Alif Laam Raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

Mencermati kalimat litukhrija (fi’il mudlori’: kata kerja yang menunjukkan waktu sedang terjadi dan akan terus berlangsung), proses mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terjadi hari ini dan berlangsung hingga waktu yang akan datang. Cahaya itu dipancarkan melalui perilaku yang berakhlak mulia.

Ironisnya, menurut Cak Fuad, kita tengah disuguhi perilaku yang saling serang, saling membenarkan diri dan menyalahkan orang lain—itu pun sebatas tataran syariat ibadah, tapi lupa bahwa perilaku itu justru menodai akhlak yang mulia.

Apa akibat semua itu? Umat Islam gampang marah, dan apakah marah adalah satu-satunya ekspresi dan sikap yang tepat? Cak Fuad menawarkan perspektif yang berbeda. Adalah surat Al-Baqarah 109 yang dijadikan rujukan. “Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkan dan berlapang dadalah, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Fa’fuu washfahuu—maafkan dan berlapang dadalah, sikap kunci untuk meredam amarah yang kerap membuahkan benturan dan perilaku saling serang, bahkan sesama kaum muslim sendiri.

Islam Kok Jadi Seperti Kulit Durian?

Gayung bersambut. Cak Nun merespons pentingnya bersikap fa’fuu washfahuu. Apa pasal? Islam yang begitu indah dan konprehensif ditampilkan seperti kulit durian—sangar, lancip, dan melukai. Sempit dan dangkal. Celakanya, Islam yang demikian itu merupakan hasil dari tafsir sepihak yang sarat oleh subjektivisme kepentingan.

Nek kono sing butuh, gak sido haram (kalau kelompoknya yang membutuhkan, apa yang tadi diharamkan tidak jadi haram)!” sindir Can Nun. Mereka mengharamkan sesuatu dengan menggunakan cara dan media dari pihak yang diharamkan.

Di kepala saya terbayang kulit durian—ah, Islam dikenalkan sebagai kulit durian. Padahal di balik kulit durian tersimpan aroma dan kelezatan buah durian. Tidak heran, tasyabbaha bi qoumin (menyerupai kaum lain) dipahami secara sepihak oleh kalangan tertentu—dengan logika berpikir yang cacat.

Sinau Bareng Pondok Modern As Salam Mojokerto 12 Maret 2017

Menjelang penghujung acara, Cak Nun memberikan kesempatan kepada jamaah untuk bertanya. Pertanyaan cukup beragam, mulai dari kebijakan sekolah yang meniadakan siswa tidak naik kelas, mimpi ketemu Kanjeng Nabi, bacaan kalimah syahadat, akhlaq mendoakan orang beda agama, shalat yang “tidak” menjauhkan perbuatan munkar, dan cinta yang menyatukan cinta.

Angin malam terasa dingin, tanda sudah lewat tengah malam. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 01.30 WIB. Cak Fuad dan Cak Nun telaten menjawab pertanyaan-pertanyan. Hingga tiba waktu ngaji bareng dikahiri. Jamaah berdiri, doa penutup dilantunkan.

Ketika acara dipungkasi mayoritas jamaah tidak mingket dari posisi duduknya. Mulai pukul sembilan hingga dua dinihari, tidak terasa saya duduk, juga tidak mingket-mingket, di panggung paling belakang. Ketika berdiri badan terasa enteng tapi penuh isi.

Para civitas Pondok Pesantren As Salam sendiri, dari para ustadz hingga kiai, telah mendapatkan peneguhan dari Cak Nun bahwa sejatinya para siswa atau santri bersekolah itu buat menjawab tantangan zamannya. Hal yang tidak semua orang tua dan praktisi pendidikan menyadari sepenuhnya. Adapun sebagian tantangan zaman itu sebagian telah dipaparkan oleh Cak Nun dan Cak Fuad, dari soal kehancuran harga diri dan martabat, Islam ditampilkan sebagai kulit durian, hingga tiadanya sikap mudah memaafkan dan lapang dada. (Achmad Saifullah Syahid)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image