Daur-II • 026

Allah Yang Melempar

Dengan kecerdasannya masing-masing, simulasi pikiran dan imajinasi kreatif, anak-anak muda itu mencari “perang malam hari”.

“Perang dalam keadaan gelap”, kata Toling, “tidak kelihatan ada peluru akan datang, apalagi senapan dan penembaknya”

“Tidak bisa diukur jauh atau dekat kecuali dengan kepekaan telinga dan rasa”, sambung Jitul, “skala medan perang hanya bisa diperkirakan berdasarkan informasi sebelum gelap”

“Kalau diserang belum tentu bisa diidentifikasi penyerangnya”, Junit meneruskan, “kalau menyerang juga tidak boleh ketahuan asal usulnya”

“Pertempuran tanpa jejak”, suara Seger, “tidak ada sesumbar, tidak ada teriakan, tidak ada takbir atau pekikan, tidak ada tanda-tanda lewat suara atau media informasi lainnya apapun”

“Kegelapan tidak hanya karena medan dan cuaca”, kata Jitul, “tapi juga karena jenis atau formula atau teknik serangannya. Bisa peluru timah, pisau besi, atau lontaran lain yang menembus batas sistem jasad”

“Perang malam hari diperlukan oleh pasukan yang jumlah maupun mesiu dan perangkat-perangkat perangnya kalah dari lawan”, Toling juga meneruskan, “maka pelajaran utama adalah menahan diri, membungkam mulut dari sesumbar dan meneriakkan amarah-amarah….”

Ndusin menyela. “Mudah-mudahan yang terjadi adalah — maka sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. Allah berbuat demikian untuk membinasakan merek) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [1] (Al-Anfal: 17).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra