Al-Qur`an, Pengajian Maiyah, dan Masyarakat (4)

Bagian 4 dari 4. Diterbitkan dalam buku "Agama, Kitab Suci, dan Masyarakat", 2013.

Media Diseminasi

Proses penghadiran lazimnya juga berkaitan dengan media sehingga disebut sebagai representasi. Pada tahapnya yang paling dini, forum Maiyah boleh dikatakan hanya sesekali saja mendapat liputan di media cetak. Tetapi sosok Cak Nun sebagai figur sentral telah menempati posisi yang sangat unik, yakni sebagai kolumnis yang paling produktif pada tahun 80-90-an dengan sudut-sudut pandangnya yang khas serta gaya bahasanya yang enak dan memikat, sehingga sebenarnya publik telah mengetahui gaya dan pola berpikir Cak Nun melalui tulisan-tulisannya di pelbagai media cetak, yang umumnya kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku. Dalam hal ini, Cak Nun telah menempati tempat tersendiri di hati publik. Maka, ketika pengajian Maiyah atau Padhangmbulan sebagai yang paling pertama sangat mudah proses sosialisasinya ke masyarakat, sebab kadangkala Cak Nun juga menulis tentang Padhangmbulan di media cetak tersebut.

Pengajian Padhangmbulan sendiri juga pernah menerbitkan Tabloid yang diberi nama Padhangmbulan yang terbit setiap kali acara Padhangmbulan dilangsungkan. Kemudian seiring dengan kemajuan teknologi informasi, proses representasi itu hadir dalam wujud website, blog, jejaring sosial (facebook dan twitter), atau youtube, dan juga grup-grup di blackberry dan whatsapp.

Melalui media sosial, para jamaah biasanya berbagi catatan atau reportase acara-acara Cak Nun dan KiaiKanjeng sehingga teman mereka atau siapa pun saja juga bisa menyimak materi-materi yang diulas atau didiskusikan. Bahkan foto-foto yang menggambarkan suasana berlangsungnya acara juga mereka tayangkan sehingga lebih mendekatkan mereka yang melihat dengan suasana tersebut.

Selain ADiTV, televisi lokal yang juga menayangkan acara pengajian Maiyah untuk wilayah Jawa Timur adalah Doho TV Kediri, TV9 dan JTV Surabaya, serta BBS TV Madiun. Selain televisi, ada juga media berbasis internet yakni streaming yang juga dimanfatkan oleh para jamaah untuk menyiarkan acara-acara Maiyahan.

Selain sebagai media yang berfungsi sebagai sarana sharing, media-media tersebut juga sekaligus mendokumentasikan kegiatan Maiyahan, selain bentuk-bentuk dokumentasi klasik tetapi utama yaitu dokumentasi video dan audio.

Epilog

Sampai saat ini, Cak Nun sangat menghindarkan diri dari kemungkian forum pengajian Maiyah dengan jamaah yang telah ada di berbagai daerah untuk menjadi organisasi semisal ormas atau bentuk-bentuk organisasi lainnya. Alasannya, bila dijadikan sebagai organisasi atau ormas maka Maiyah akan menjadi lebih padat sehingga tidak memiliki banyak fleksibilitas. Dalam bahasa lain, Cak Nun tampaknya lebih memilih Maiyah sebagai organisme ketimbang organisasi. Dalam hal ini organisme dipahami sebagai kekuatan yang lebih banyak mengilhami, merangsang, melatarbelakangi, atau memacu tumbuhnya berbagai bentuk kebaikan, tanpa terlalu mempedulikan bentuknya secara lebih padat.

Tentu saja, hal ini tidak berarti tidak adanya mekanisme-mekanisme koordinasi. Dalam hal ini, Cak Nun justru lebih memberikan peluang yang lebih besar bagi jamaah untuk berperan, berkontribusi, dan memosisikan dirinya di tengah jamaah Maiyah maupun memosisikan diri di hadapan masyarakatnya. Sehingga, acapkali Cak Nun lebih banyak memberikan dorongan dan aktivitas bagi para jamaah untuk berbuat sebaik-baiknya di dalam masyarakat. Tak jarang pengajian Maiyah tak ubahnya forum pembekalan atau penyuntikan energi baru bagi para jamaah.

Yang diharapkan oleh Cak Nun bagi mereka adalah mereka memedomani nilai-nilai kehidupan yang datang dari agama, hati nurani, atau dari kearifan-kearifan yang sesungguhnya telah ada di dalam diri mereka namun selama ini belum terasah dan teraplikasikan dengan baik, dan dalam hal ini forum pengajian Maiyah berfungsi sebagai penggosoknya, melalui diskusi keilmuan, mendengarkan dan mengikuti musik, atau melantunkan doa dan dzikir.

Selebihnya, dengan para jamaah bertemu satu sama lain yang umumnya berdatangan dari wilayah-wilayah yang berbeda, mereka dapat bersilaturahmi, berteman, dan bisa melakukan interaksi-interaksi kreatif yang bermanfaat apakah di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lainnya. Sebagai contoh kecil, keberadaan kelompok musik KiaiKanjeng di dalam Maiyahan ini telah mengilhami lahirnya banyak kelompok musik yang sama yang berafiliasi kepada musikalitas KiaiKanjeng. Di Jawa Timur terhitung lebih dari 200-an kelompok musik ala KiaiKanjeng telah lahir. Mereka melakukan aktivitas musik mereka sendiri-sendiri di tempat mereka, dan pada suatu ketika mereka pernah ber-workshop bersama KiaiKanjeng.

Dalam kecenderungan organisme tadi, dalam konteks yang lebih luas, hal itu disadari atau tidak tampaknya telah memberikan kemudahan bagi Cak Nun, KiaiKanjeng, dan komunitas Maiyah untuk memberikan kontribusi di tengah-tengah masyarakat, sebab secara normatif dan pada kenyataan Cak Nun dan KiaiKanjeng tidak dipandang sebagai mewakili golongan tertentu, melainkan bersemangatkan lintas golongan, lintas budaya, lintas bangsa, dan bahkan lintas agama.

Dengan latar belakang itulah, dapat dilihat keunikan Cak Nun dan pengajian Maiyah dalam menghadirkan “Islam” di tengah-tengah masyarakat Islam itu sendiri maupun dalam di hadapan masyarakat nonmuslim. Dua hal ini kiranya bukan pekerjaan yang mudah bila tidak didasari oleh pemahaman, interpretasi, dan keyakinan terhadap agama secara lebih mendekati nilai-nilai universal ajaran agama itu sendiri, yakni rahmatan lil ‘alamin, serta jika ditopang oleh kemampuan kultural di dalam memahami hakikat kemanusiaan yang ragam latar belakang agama, budaya, etnis, bangsa, strata, lapisan sosial, dan lain-lainnya. Karenanya, dalam bagian awal dari tulisan ini disajikan juga proses pembelajaran, penghayatan, interpretasi, dan pemahaman di lingkaran Cak Nun dan forum pengajian Maiyah itu sendiri dengan harapan dapat dilihat garis hubung antara proses internalisasi tersebut dengan proses eksternalisasinya.

Peranan Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam menghadirkan Islam dapat dikatakan memiliki karakter dan keunikannya sendiri tidak saja dikarenakan proses penafsiran dan pemahamannya atas Al-Qur`an dan agama Islam, melainkan bahwa di dalam proses penghadiran itu senantiasa ditopang oleh kemampuan komunikasi sosial Cak Nun, yang kerap mengutarakan suatu gagasan dengan bahasa yang sederhana dan kadangkala dengan analogi, kemudian ditopang juga oleh adanya kelompok musik KiaiKanjeng, serta ragam audiensnya yang luas, bukan saja kalangan terbatas apakah itu perusahaan, kantor, atau lembaga lainnya, tetapi juga khalayak masyarakat luas yang hadir dalam forum-forum Maiyahan baik yang merupakan Maiyahan regular di enam kota maupun Maiyahan yang diselenggarakan oleh berbagai macam panitia pengundang dari berbagai lapisan masyarakat.

Peranan yang unik Cak Nun dan KiaiKanjeng atau pengajian Maiyah ini selayaknya merangsang pelbagai penelitian, walaupun sampai saat ini dengan pelbagi fokus dan tematiknya, telah banyak juga kajian-kajian dari para mahasiswa baik S1 atau S2 dari beragam disiplin seperti etnomusikologi, sastra, pendidikan agama, antropologi, maupun sosiologi yang telah mengambil penelitian dengan fokus kajian Cak Nun dan Maiyahan. Tetapi kajian yang lebih mendalam mengenai konteks agama, kitab suci, dan masyarakat pada kasus forum pengajian Maiyah layak dilakukan secara komprehensif.  []

Daftar Pustaka

Aboe El Fadl, Khaled, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Serambi, Jakarta, 2006. 

Algar, Hamid, Wahhabisme: Sebuah Tinjauan Kritis, Paramadina, Jakarta, 2008. 

Betts, Ian L, Jalan Sunyi Emha, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006.  

Effendy, Ahmad Fuad, Maiyah di dalam Al-Qur’an, Misykat, Malang, 2009. 

Esposito, John, Masa Depan Islam, Mizan, Bandung, 2010. 

Koentjaraningrat dan Donald K. Emmerson, Aspek Manusia dalam Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta,1982. 

Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, Mizan, Bandung, 2001. 

Lawrence, Bruce, The Qur’an: A Biography, Grove Press, New York, 2006. 

Mu’tasim, Radjasa dan Abdul Munir Mulkhan, Bisnis Kaum Sufi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

Nadjib, Emha Ainun, Kafir Liberal, Progress, Yogyakarta, 2005. 

Rasmussen, Anne K, Women, the Recited Qur’an, and Islamic Music in Indonesia, University of California Press, California, 2010. 

Rohmat, Yudi, “Quranic Explorer: Kamus & Indeks Al-Qur’an”, BeeMarketer Institute, Jakarta, 2010.

Setiawan, Erik, Gamelan Langit: Dialog Komunikasi Transendental KiaiKanjeng, Prudent Media, Yogyakarta, 2013. 

Artikel

Effendy, Ahmad Fuad, “Syirik”, makalah tidak diterbitkan, Dokumentasi Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib, 2013.

Nadjib, Emha Ainun, “Islamic 10 Popular Idioms”, makalah tidak diterbitkan, Dokumentasi Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib 2008.

Media Cetak

Doa Bersama untuk Kyai Ageng Prawiro Purbo, Harian Kedaulatan Rakyat, Senin, 14 Oktober 2013.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image