Al-Qur`an, Pengajian Maiyah, dan Masyarakat (2)

Bagian 2 dari 4. Diterbitkan dalam buku "Agama, Kitab Suci, dan Masyarakat", 2013.

Menghadirkan “Islam” di kalangan Umat Islam Sendiri

Sebagai suatu majelis keilmuan, serta dengan keberadaan Cak Nun sebagai tokoh masyarakat yang memiliki bidang perhatian yang luas, sangat sering beliau diminta turun langsung ke dalam masyarakat untuk membantu mencari pemecahan atas masalah-masalah yang dihadapi. Belum lama ini, di Yogyakarta, komplek makam Kyai Ageng Prawiro Purbo yang terletak di Jalan Kusumanegara dirusak oleh sekelompok orang yang tak dikenal. Sejumlah pihak pun menyampaikan keluhan kepada Cak Nun. Cak Nun kemudian menanggapi dengan mengadakan acara ziarah dan doa bersama di makam tersebut didampingi beberapa elemen masyarakat tak terkecuali dari lingkaran komunitas Maiyah. [6] Sebelum acara berlangsung, Cak Nun meminta terlebih dahulu kepada Cak Fuad untuk menyusun tulisan singkat mengenai syirik menurut Al-Qur`an. Tulisan ini kemudian di-share atau dibagi kepada yang hadir siang itu termasuk kepada media yang meliputnya.

Cak Fuad menulis artikel pendek yang diberi judul “Syirik”. Dengan nada arif, bijak, dan moderat Cak Fuad menulis di bawah judul itu sebuah kalimat: jangan gampang mengatakan ini syirik, jangan gampang mengatakan ini tidak syirik. Seperti menjadi kekuatan dan ciri penafsirannya, Cak Fuad menguraikan firman Allah surat an-Nisa: 48. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dosa (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar”, dengan menekankan bahwa syirik itu dosa besar dan tidak bisa disepelekan, karena menurut Cak Fuad hendaknya siapa saja jangan mudah mengatakan ini syirik atau itu bukan syirik. Pun mereka yang dituduh syirik juga jangan bersikap reaktif dengan langsung menolak sebelum benar-benar menelitinya dengan sebaik-baiknya.

Dengan berpijak pada ayat di atas, sebagian orang mungkin dengan penuh semangat sangat mudah menuduh orang lain syirik, seakan tanpa pernah berpikir andaikan tuduhan itu salah di mata Tuhan, maka kira-kira apa yang akan menjadi hukuman atau konsekuensi yang akan menimpa dirinya. Tulisan Cak Fuad yang berjudul “Syirik” mengurai ayat tersebut dengan sekomprehensif mungkin. Bagi orang yang gegabah menyatakan orang lain syirik, dengan membaca tulisan Cak Fuad ini dihimbau untuk berhati-hati, apalagi syirik itu terutama terletak di dalam hati. Sementara, bagi yang lain, yang mungkin pernah dituduh, diharapkan tidak reaktif melainkan menelitinya dengan saksama, apakah benar telah terhindar dari syirik ataukah belum.

Pada ujungnya, semua pihak diajak saling berendah hati dan belajar, serta tidak mementingkan nafsu dan kesempitan berpikirnya sendiri. Khusus tentang tawasul (perantara dalam do’a), dalam tulisan tersebut, Cak Fuad menyebutkan bahwa baik yang membenarkan maupun yang menolak doktrin ini sama-sama memiliki dasar dan argumentasinya, sehingga seyogyanya saling menghormati atau kalau berdiskusi sebaiknya dengan sikap dingin dan penuh kedewasaan.

Persoalan-persoalan yang menyangkut tuduhan syirik, bid’ah, sesat, dan lain-lain seperti ini semakin gencar tahun-tahun belakangan ini oleh kelompok-kelompok Islam tertentu juga disodorkan umat kepada Cak Nun dalam pelbagai acara di desa-desa, di kampung-kampung, juga di kampus-kampus, mulai dari pelosok Purbalingga, Boyolali, Gunungkidul, Kartosuro, Lamongan, kampung-kampung di Yogyakarta, dan tempat-tempat lain. Banyak di antara masyarakat yang mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng meminta secara khusus agar Cak Nun menguraikan persoalan tersebut. Mereka mengeluhkan hal ini, karena di banyak tempat apa yang mereka lakukan kadangkala sudah menjurus kepada konflik horisontal. Mereka meminta Cak Nun menjelaskan dan menerangkannya di hadapan publik luas.

Pemahaman dasar di lingkungan Maiyah yang sudah lama diintroduksi oleh Cak Nun dan juga sudah banyak dikemukakan di forum-forum lain bersama masyarakat luas adalah dua konsep dasar: agama/religi dan religiusitas. Agama atau religi adalah sesuatu yang datangnya dari Allah melalui malaikat disampaikan kepada Rasulnya melalui kitab suci dan kemudian rasul tersebut menyampaikannya kepada umat manusia. Agama bersifat top-down (dari atas ke bawah). Dalam konteks agama Islam, ajaran agama secara pokok dan mendasar tercakup dalam rukun Iman dan rukun Islam.

Sementara itu, religiusitas adalah cara dan bentuk yang diupayakan manusia dalam mengungkapkan rasa ketuhanan (menyangkut kekuasaan dan kebesaran-Nya) atau kecintaan kepada sosok yang dicintai-Nya. Religiusitas bersifat bottom-up (dari bawah ke atas). Termasuk di dalam religiusitas adalah rasa, kearifan, munculan-munculan dari hati nurani yang diekspresikan dalam berbagai bentuk dan sarana seperti kesenian. Manusia memiliki keduanya.

Pemahaman dasar berikutnya adalah mengenai bid’ah dan bukan bid’ah. Dalam hal ini Cak Nun menyumbangkan pemahaman yang lebih sederhana, bahwa wilayah bid’ah terletak pada ibadah mahdloh, sedangkan apa-apa yang dilakukan di luar wilayah ibadah mahdloh tidak tergolong dalam bid’ah. Sebagai contoh sederhana, orang yang berjabatan tangan usai shalat tidaklah tergolong melakukan tindakan bid’ah karena hal itu dilakukan di luar shalat (ibadah mahdloh). Tidak bisa semata-mata melihat sesuatu sebagai bid’ah hanya karena tidak terdapat contohnya di masa Nabi.

Di acara Ngaji Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Kartosuro Sukoharjo 30 November 2013, Cak Nun lebih jelas mengatakan bahwa bid’ah itu baik yang baik, bid’ah itu jelek yang jelek, sebagaimana penerapan “ibadah” bisa baik dan bisa juga berkonteks tidak baik atau tidak sholeh. Umpamanya, di tengah orang-orang yang sedang bekerja bakti bersih-bersih desa, ada yang tidak mau ikut dan memilih wiridan di rumah. Tidak bisa dipastikan bahwa orang yang berwirid tadi akan tidak bagus nilainya di hadapan Allah, tetapi dalam dilema seperti itu, Cak Nun sendiri lebih memilih untuk ajur-ajer ikut serta bekerja bakti seraya berharap Allah memiliki kearifan-Nya sendiri dalam menilai orang yang mau kerja bakti.

Artinya, dalam hal bid’ah atau tidak, letak penilaiannya bukan pada baru atau tidaknya sesuatu hal atau tindakan, melainkan pada bagaimana sesuatu hal yang baru menyalahi atau tidak terhadap ajaran agama dengan metodologi penilaian yang tidak saja melibatkan mekanisme pengambilan hukum yang complicated, melainkan juga melibatkan cara berpikir ushul fikih.

Demikian juga mengenai hubungan agama dan budaya. Dalam banyak kesempatan Cak Nun telah menguraikan pandangannya mengenai pelbagai dimensi budaya, salah satunya seperti diungkapkan di acara Maiyahan di Masjid Sirojuddin Mancasan Lor Condongcatur Juli 2013, bahwa semesta budaya adalah semesta kekhalifahan yang telah diamanatkan oleh Allah kepada manusia dengan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan mandat kekhalifahan manusia mencipta sesuatu yang bermanfaat bagi hidupnya, baik menyangkut tata sosial politik, teknologi, maupun ekspresi-ekspresi kesenian.

Maka dalam perspektif ini, sebenarnya manusia tidak mungkin mengelak dari budaya justru karena dirinya adalah khalifatullah. Sedemikian rupa pemahaman Cak Nun, sehingga katakanlah orang tidak semuanya mau memahami budaya dalam pengertian tersebut, serta tidak semua mau melakukannya, Cak Nun berkomentar, “Budaya itu fardhu kifayah. Harus ada yang mengerjakannya, kalau tidak berarti seluruh komunitas tersebut menanggung dosa.”

Itu semua hanya mungkin dipahami jika kita melihat sedemikian gencarnya arus yang coba memberangus dan mencerabut orang dari bangunan tradisi dan budaya yang sudah mapan dan mereka miliki, baik arus itu (terutama sekali) datang dari gerakan-gerakan keagamaan maupun dari desakan-desakan globalisasi di dunia yang acapkali hendak melakukan standardisasi cita rasa dengan memandang rendah cita rasa yang mereka sebut “lokal”.

Terkait dengan serangan dari gerakan keagamaan yang mudah menyebut tradisi-tradisi Islam sebagai bid’ah dan syirik, selama ini Cak Nun memberikan penjelasan baik kepada jamaah Maiyah maupun pada masyarakat luas dalam beberapa jenis atau level penjelasan.

Pertama, dalam merespons masalah yang diajukan oleh masyarakat tersebut Cak Nun akan menyampaikan konsep-konsep dasar menyangkut agama, budaya, bid’ah-tidak bid’ah sebagaimana disinggung di atas, religi-religiusitas, ibadah mahdloh dan ibadah muamalah, yang disampaikan dengan cara yang sederhana, komunikatif, seringkali dengan humor-humor segar, dan tentu saja dengan disertai contoh-contoh musik dari KiaiKanjeng.

Kedua, Cak Nun memberikan pandangan bahwa dari sudut demokrasi atau kebebasan memilih pendapat, sebenarnya tidak boleh juga seseorang mengeluhkan pilihan pandangan orang lain. Persoalan memang terjadi ketika mereka melakukan pemaksaan. Jadi, menurut Cak Nun, yang harus menjadi perhatian adalah ketika mereka memaksakan pandangannya itu. Karenanya, Cak Nun juga sering menyampaikan kepada para lurah, bupati, atau pejabat pemerintahan lainnya dalam pelbagai forum Maiyahan, bahwa apapun saja yang membuat konflik sosial atau memicu ketidakharmonisan harus ditindak dengan tegas, termasuk kepada kelompok yang getol menuduh kelompok lainnya sebagai syirik.

Ketiga, Cak Nun akan memberikan analisis politiknya mengenai skenario politik internasional yang terkait dengan beberapa negara yang memang bermaksud melakukan pemecahbelahan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Umat akan dibikin congkrah (tidak akur) dengan cara seperti itu. Pemecahbelahan melalui jalur agama merupakan salah satu cara yang efektif dilakukan misalnya dengan menghembuskan virus tuduhan-tuduhan bid’ah, syirik, dan sesat terhadap kelompok lain yang berbeda dengan dirinya. Cak Nun menguraikan setting politik internasional Wahabiisme. [7]

Selain itu, dalam konteks penjelasan ketiga ini, Cak Nun juga menengarai bahwa gerakan ini memang tidak menghendaki adanya hubungan batin antara umat Islam dengan Nabi Muhammad. Kelompok shalawatan dipandang bid’ah. Situs-situs bersejarah yang terkait dengan perjuangan Nabi Muhammad dihanguskan. Kelak pada waktunya, generasi mendatang akan kehilangan jejak sejarah. Ujung dari usaha-usaha ini antara lain membuat masyarakat sempit pikirannya.

Karenanya, Cak Nun sering menyatakan di pelbagai kesempatan bahwa musuh kita saat ini adalah kesempitan berpikir: orang tidak lagi mengerti budaya, tidak mengerti canggihnya peradaban umat manusia, tidak mengerti betapa telah panjang sejarah peradaban dan kemajuan umat Islam, tidak mengerti keindahan, dan hilang kemanusiaannya.

Keempat, dalam menanggapi keluhan masyarakat itu, Cak Nun menyemangati mereka secara psikologis. “Jangan mudah tertekan oleh apapun, termasuk oleh tuduhan-tuduhan bid’ah atau syirik yang ditimpakan Anda, sepanjang Anda yakin dengan segala argumentasinya, Anda tenang saja. Anda memiliki Allah. Anda memiliki Rasulullah, jadi jangan cemas dan jangan tertekan,” demikian kerap Cak Nun mengatakan. Masalahnya, kata Cak Nun, “Kita sendiri kurang yakin sehingga mudah goyah juga.” Bahkan Cak Nun juga menyulut semangat mereka dengan menyatakan, “Tiga tahun lagi yang bikin congkrah-congkrah itu akan kalah.”

Kelima, kepada orang-orang yang suka mensyirikkan atau menyesatkan itu, Cak Nun hendak mengatakan, “Kalau Anda menuding-nuding orang, persoalannya bukan semata-mata benar tidaknya tuduhan itu, apalagi sejatinya yang tahu hanya Tuhan, tetapi bahwa ini adalah masalah sesrawungan atau hubungan antar manusia. Kalau anda menuding-nuding orang lain, itu berarti merendahkan martabat mereka dan menyakiti hati mereka. Padahal tidak dibenarkan oleh ajaran agama untuk merendahkan dan menyakiti hati orang. Bahkan kalau manusia yang normal, misalkan dia tanpa sengaja menyakiti orang lain maka dia sendiri sebenarnya yang akan merasakan sakit itu. Itulah manusia. Manusia yang sewajarnya adalah yang mengerti bahwa tindakan-tindakannya itu menyakiti hati orang lain atau tidak. Maka, hal yang pertama harus kembali dipelajari sebelum bicara macam-macam termasuk membid’ahkan orang adalah ‘menjadi manusia terlebih dahulu’. Itulah yang oleh Cak Nun disebut sebagai kehilangan kemanusiaannya.

Terkait dengan hubungan antara agama dan budaya, Cak Nun pernah memetakan kesadaran umat Islam terhadap tiga nilai penting dalam kehidupan yakni kebenaran, kebaikan, dan keindahan. “Terhadap kebenaran kita tidak ragu. Maksudnya, kita punya kesadaran bahwa kebenaran harus ditegakkan. Kepada kebaikan juga demikian. Bahwa kita harus melakukan kebaikan. Tetapi terhadap keindahan, sebagian dari kita masih ragu-ragu. Khawatir jika keindahan itu tidak boleh, rentan syirik, bertentangan dengan syariat dan lain sebagainya. Dan dalam kondisi demikian, dunia keindahan (termasuk kesenian) justru diwakili oleh produk dan kerja kesenian yang dangkal, artifisial, jauh dari kualitas dan martabat yang seharusnya turut dibangun dan direpresentasikan oleh kesenian sebagai bagian utama dari keindahan.”

Catatan kaki:

[6] Berita doa bersama ini dapat disimak di Harian Kedaulatan Rakyat, Senin, 14 Oktober 2013, halaman 2.

[7] Tentang sejarah Wahabbisme, dapat dibaca di antaranya, Hamid Algar, Wahhabisme: Sebuah Tinjauan Kritis, Paramadina, Jakarta, 2008 dan Khaled Aboe El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Serambi Jakarta, 2006.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image