Daur-II • 091

Al-Qur`an Hak Para Ulama

Mungkin Al-Qur`an yang diturunkan melalui Kanjeng Nabi itu diperuntukkan khusus untuk para Ulama. Mungkin para Ulamalah yang punya hak atas Al-Qur`an. Maka tolong rahasiakan bahwa aku membaca Al-Qur`an, bahkan juga berusaha memahaminya. Dan jika aku mencoba memahaminya, berarti tak bisa mengelak untuk menafsirkannya, seberapapun kadar tafsirnya.

Mungkin memang di antara aku, hamba-hamba Allah, dan Kaum Muslimin seluruhnya, dengan Al-Qur`an: harus ada Ulama Tafsir. Untuk memahami Al-Qur`an, harus diantarkan dan dipandu oleh Ulama dengan Tafsirnya. Jadi hitunglah sendiri berapa Ulama yang dibutuhkan bagi sekian ratus juta Kaum Muslimin, betapa sibuk para beliau, betapa tak terbayangkan mekanisme dan waktu yang diperlukan, agar Kaum Muslimin bersambung dengan Al-Qur`an. Betapa jauh jarak antara Al-Qur`an dengan Ummat Islam.

Mungkin untuk memperoleh pengalaman intelektual dan spiritual dengan Al-Qur`an, setiap Muslim harus membaca buku-buku Tafsir. Yang jumlahnya sangat banyak, dan boleh ditulis lagi oleh Ulama-Ulama yang baru tanpa ada batasnya. Yang salah satu kemungkin hasilnya adalah kebingungan memilih di antara sangat banyak pendapat-pendapat dalam peta penafsiran.

Markesot mengumumkan kepada warga Patangpuluhan, “Hendaknya kalian mengetahui dan memastikan pengetahuan kalian, bahwa aku, juga semua di Patangpuluhan, sampai kapanpun berada di tempat yang jauh dari kebenaran Al-Qur`an. Sebab kita semua bukan Ulama. Sekali lagi: aku dan kalian semua bukan Ulama. Terdapat pemahaman umum bahwa untuk mendekati kebenaran Allah haruslah bergerak mendekat ke para Ulama, bukan mendekat ke Al-Qur`an”

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. [1] (Fathir: 28). Meskipun kita takut setengah mati kepada Allah, jangan lupa bahwa kita bukan Ulama. Begitulah logika yang berlaku.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra