Aku(n) Picisan, Aku(n) Palsu, dan Hilangnya Aku Media Sosial

Pada Maiyahan Kenduri Cinta bulan lalu (10/2), ada salah seorang penanya membuka tema pembahasan tentang problematika seputar sosial media. Apa yang ditanyakan seorang jamaah berjaket kulit hitam berpeci merah putih itu bisa jadi mewakili kegelisahan sebagian besar dari kita mengenai kegaduhan-kegaduhan informasi yang terjadi saat ini.

Penanya yang urun suara beberapa saat sebelum Maiyahan berakhir malam hari itu menarik sebuah kesimpulan yang bersesuaian dengan tema “Fundamentalisme Khandaq”, tema yang diangkat oleh Kenduri Cinta edisi bulan itu. Ia menyampaikan bahwa kita harus mempunyai khandaq informasi. Sebab tanpa membentengi diri terhadap informasi, kita bisa terjebak pada kefasikan-kefasikan. Seperti merebak saat ini, kefasikan yang disebabkan oleh diterima mentah-mentahnya informasi tanpa menjalani proses ‘ngaji’.

Masih menurut penanya, sikap masyarakat terhadap informasi media sosial saat ini sudah jauh berbeda dengan misalnya kondisi lima tahun lalu. Atau kondisi saat peralihan kekuasaan pada 2004 dan 2009. Karena meskipun saat itu sudah ada media sosial, tetapi tidak semua orang bisa mengaksesnya. Berbeda dengan saat ini, gadget sangat mudah didapatkan dan internet sudah menjangkau pelosok-pelosok.

Dahsyatnya media sosial yang menjadi kekhawatiran kita bersama adalah merebaknya akun-akun palsu. Akun-akun palsu yang gencar menyebarkan konten-konten yang tidak mengandung kebenaran, bahkan cenderung provokatif telah berhasil meletupkan kegaduhan-kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.

Bagaimana tidak miris, Sang penanya masih melanjutkan, bahwa dalam realitas ia mendapati seorang berjilbab syar’i, aktif di majelis ta’lim, tetapi akibat provokasi media sosial, ia tega membuat sumpah serapah dan menghewan-hewankan orang lain, hanya karena orang tersebut berseberangan pendapat dengan dirinya.

Bukankah ini adalah keresahan yang kita alami bersama saat ini. Akun palsu bertebaran, justru mereka menjadi headliner informasi, sementara sebagian dari kita justru menjadi relawan jurnalis yang dengan lugu menyebarkannya. Alih-alih kecanggihan informasi menyebabkan terjadinya pemerataan informasi di tengah-tengah masyarakat, justru malah kegaduhan-kegaduhan, percikan-percikan yang butuh sedikit saja sulutan emosi untuk mengejawantahkan kebencian di dunia maya menjadi konflik di dunia nyata.

Sembari mengelaborasi hal-hal yang sudah berlangsung di Maiyahan malam hari itu, Mbah Nun merespons penanya tersebut dengan memberikan pesan-pesan kunci. Dalam kaitannya dengan informasi  media sosial, Mbah Nun membagi pesan kunci menjadi dua, yakni kita dalam posisi sebagai konsumen berita dan kita dalam posisi sebagai produsen berita.

Sensor Sebagai Bagian dari Naluri Manusia

Mbah Nun menyampaikan “Kita ini oleh Allah dikasih perangkat-perangkat dan salah satu fungsinya adalah untuk sensor. Misalnya, lidah itu fungsinya sensor untuk kesehatan. Kalau Anda terancam sakit gula, lidahmu tidak mau gula. Kalau Anda terlalu banyak asam, lidahmu tidak mau kopi. Itu langsung tidak mau saja. Itu tanpa ilmu, tanpa pengetahuan, tanpa wacana, lidahmu tak mau.”

Perihal sensor, sebagai contoh Mbah Nun menceritakan pengalamannya menjadi juri puisi. Beliau membaca beribu-ribu puisi, dan diseleksi menggunakan sensor saja mana yang baik dan mana yang buruk. “Tak delok ngene wis ruh (saya lihat begini saja, sudah tahu)”, ungkap Beliau.

Mbah Nun menyampaikan betapa repotnya kita jika tidak mengembangkan sensor. “Anda harus mengembangkan sensor. Begitu menemukan sesuatu yang tidak baik, Anda tidak mau membaca, itu muncul begitu saja dari dalam”.

Lebih lanjut Mbah Nun menyampaikan, “Repot banget kita harus meneliti kembali, cari bahan kemana-mana, padahal sehari copas, bisa dua ratus. Tidak mungkin. Yang harus dikembangkan adalah sensor, naluri. Kalau kamu iman maka kamu dilindungi oleh Allah. Kalau kamu bertaqwa, Allah melindungi kamu. Dan salah satu cara Allah melindungi adalah menghadirkan getaran malaikat sehingga ada aktivasi di jiwa Anda. Sehingga Anda tidak akan terkontaminasi. Meskipun secara ilmiah Anda tidak punya literasi untuk mengatakan ini benar atau tidak, tetapi Anda punya sensor.”

Melakukan verifikasi referensi atas berita yang kita terima memang hanyalah satu langkah tabayyun saja, sementara dengan air bah informasi saat ini, mustahil hanya mengandalkan kemampuan literer-materiil tersebut. Maka naluri harus menjadi prioritas untuk dihidupkan sebagai bekal membangun kepekaan sensor untuk melakukan tabayyun.

Pemahaman Barat mereduksi kemampuan sensor berbasis naluri pada hanya sebatas sebagai sebuah ‘common sense’ belaka. Kalau ditransliterasikan ke term Jawa, kurang lebih menjadi ‘Patute iki bener’.

Padahal, sebagai orang beragama, Mbah Nun mengingatkan bahwa kemampuan rohaniah adalah keniscayaan yang harus dikembangkan. Dan bukankah naluri adalah bagian di dalam kemampuan rohanian tersebut? Mbah Nun menyampaikan “Kalau kemampuan rohaniah tidak dikembangkan, untuk apa Anda masuk Islam? Bagaimana kita nanti masuk surga? Itu semua tidak jasadiah kok. Itu sistem nilai yang luar biasa lebih tinggi.”

Tradisi tabayyun sebetulnya juga sudah termaktub pada ayat in ja-akum fasiqum binaba-in fatabayyanu (Q.S. Hujurat: 6). Walaupun penerapan dari tabayyun selama ini masih meminggirkan pembangunan sensor yang mengedepankan nurani. Hal ini terjadi karena memang kita berangkat dari kesalahan filsafat pengetahuan modern yang saat ini berkiblat kepada Barat. Bentuk kesalahannya adalah science, aestetic, dan religion dipisah-pisah. Padahal ketiganya adalah satu metabolisme.

Lebih luas Mbah Nun menyampaikan contoh dis-posisi hal-hal yang sifatnya ruhani pada studi kasus polarisasi seniman dan rohaniawan. Mbah Nun menyampaikan, “Seniman tidak mau disebut rohaniawan. Padahal pekerjaannya roh, estetika itu roh, 100% roh. Seni rupa itu bukan cat nya itu, catnya itu mengantarkan roh yang kamu maksudkan. Jadi, seni rupa bukan kanvas itu, sastra bukan kumpulan kata-kata itu, musik itu bukan bunyinya. Musik itu yang di balik bunyi itu”.

Demikianlah Mbah Nun menyampaikan perihal tabayyun, sikap yang harus dimiliki sebagai konsumen informasi. Tabayyun bukan hanya berupa tips dan trik. Namun, mulai dengan mendudukkan cara berpikir yang mendasar atau mindset yang benar tentang tabayyun, yakni tabayyun yang tidak mengenyampingkan apalagi memisahkan sensor yang sifatnya ruhani.

Kemudian Mbah Nun menyampaikan pesan kunci kedua, yakni kita sebagai produsen informasi. Mbah Nun melatari dengan situasi bahwa “Kita punya dilema sebagai umat Islam. Kita itu bingung dalam hidup ini. Kalau kita omong-omongkan informatif kepada orang lain nanti jadi riya’, tapi kalau kita sembunyikan orang menganggap kita buruk. Yang mana yang benar?”

Kebetulan pada Maiyahan malam hari itu hadir seorang tokoh aktivis sosial Islam, Mbah Nun menjadikannya sebagai contoh, “Kalau antum nggak ngomong (kegiatan sosial antum), mereka tidak tahu. Tapi, kalau umuk acara dimana-mana diumum-umumkan, jadi pamer, jadi takabur”.

Akun Palsu, Presisi, dan Martabat

Produsen informasi itu meliputi posisi kita sebagai pembuat informasi atau sekadar pendistribusi informasi. Mbah Nun berpesan agar kita senantiasa memegang satu hal, yakni: keseimbangan.

Mbah Nun mengajak kita menggunakan matrik lima: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Keseimbangan adalah bagaimana sebelum menyebarkan informasi, kita tahu dulu, apakah informasi itu wajib disebarkan, atau sebatas sunnah, atau jangan-jangan mubah bahkan makruh atau haram.

“Jadi, kita mesti tahu presisi”, Mbah Nun memberikan penekanan. Pesan kunci dari Mbah Nun tersebut sangat penting, seolah Mbah Nun tahu persis bahwa sebetulnya sebagian besar kita memang menjadi warga yang menjalankan peran-peran jurnalisme di tengah-tengah masyarakat, tetapi kita tidak punya bekal journalism awareness yang memadai.

Pertimbangannya hanya asalkan sesuatu itu unik atau sesuai dengan pendapat kita, maka langsung saja sebuah informasi di-share. Atau tindakan yang lebih masif, yakni merasa berhak membuat akun picisan menggunakan identitas tokoh tertentu. Demi apa yang ingin ia sampaikan lebih didengar dan dipercayai orang.

Mungkin niatannya baik, sekalipun memperalat tokoh yang ia jadikan akun picisan alias akun abal-abal, toh nawaitu-nya adalah ingin menebar kebaikan secara masif. Tapi sesungguhnya orang tersebut sama sekali tak punya presisi untuk menyadari apakah dia capable untuk merepresentasikan tokoh yang ia comot sebagai nama akunnya?

Tanpa memiliki presisi, yang akan ia hasilkan hanya berita tanpa akurasi. Yang lebih miris adalah jika ia gagal menjaga muru’ah atau martabat sang tokoh.

Presisi adalah kuda-kuda dasar untuk membangun journalism awareness, kesadaran sebagai pembawa berita. Akan tetapi, jangankan sampai urusan akurasi dan muru’ah dari subjek informasi, bahkan urusaan men-share sebuah emot jempol like saja seseorang belum tentu mempunyai presisi pengetahuan atasnya. Presisi pengetahuan untuk menyadari bahwa sebuah emot jempol yang kita kirimkan di sebuah aplikasi group chatting itu, akan menyebar ke ratusan gadget milik ratusan orang dalam satu detik yang sama. Berikut dengan kemampuan multiplying-nya dan segala akibatnya.

Gadget yang kita pegang sehari-harinya ibaratnya adalah keris sakti mandraguna, tetapi kita gunakan dengan presisi kesadaran cangkul. Kalau tidak dibenahi, bagaimana mungkin kita akan berhenti bergaduh-gaduh ria di dalam samudera informasi media sosial?

Kalau kita memproduksi akun picisan dan palsu, kemanakah ‘aku’ kita yang sejati di ranah media sosial, ranah yang selayaknya dibangun dan dikembangkan untuk dihuni oleh banyak aku yang saling berkomunikasi dengan baik sebagai ganti tak selalu bisanya bertatap muka atau untuk kecepatan tersampaikan dan tersebarnya pesan-pesan.

Pada Maiyahan Kenduri Cinta bulan lalu (10/2), ada salah seorang penanya membuka tema pembahasan tentang problematika seputar sosial media. Apa yang…