Aktivasi Kewaspadaan

Tak terkira betapa luasnya cinta yang diberikan Mbah Nun dan KiaiKanjeng untuk Indonesia. Menapakkan kaki di berbagai titik Nusantara, bahkan dunia. Disambati berbagai permasalahan dari skala bawah; tingkat desa, perusahaan, kabupaten, nasional, hingga mancanegara.

Padahal jika dilihat pada struktur pemerintahan, Mbah Nun sendiri tidak berada pada suatu jabatan tertentu. Namun jelas peran beliau bagaimana menyayangi semua manusia dalam memberikan solusi permasalahan, konstruksi pemahaman, meredam konflik, dan nggedein hati rakyat.

Yang dirundung kegelapan, menemukan cahaya. Yang terpecah belah kerukunannya, menjadi bersatu dalam persaudaraan. Yang sedih, menjadi gembira hatinya. Yang putus asa, menjadi tangguh dan optimis hidupnya.

Mbah Nun selalu berpesan agar kita lebih meningkatkan kewaspadaan. Tentunya, waspada berbeda dengan curiga karena keduanya mempunyai unsur muatan serta pijakan masing-masing yang belum tentu bisa dideteksi secara kasat mata. Beliau mengutarakan bahwa waspada adalah taqwa.

Sejenak menengok ke belakang, dari tahun ke tahun di setiap pemilu banyak kita jumpai susunan huruf yang terpampang dengan foto calon pemimpin pada baliho-baliho yang terpasang pinggir jalan dengan barisan kata; jujur, adil, merakyat, tegas dan beberapa parade huruf-huruf lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara kita mengidentifikasi substansi nilai dari kata itu melekat atau tidaknya pada setiap calon pemimpin? Apakah cukup dengan deretan huruf-huruf itu?

Hal yang memang layak kita syukuri bahwa di Maiyah kita terus dilatih lebih masuk ke wilayah ruhani dalam suatu keseimbangan, misalkan dengan beberapa metodologi dalam memahami jarak. Antara manis dengan gula, antara pedas dengan cabe, antara ombak dengan air.

Cantik itu tidak kelihatan, karena yang kelihatan ialah wajahnya. Sehingga, begitu jelas bahwa jujur, adil, merakyat bukan merupakan brand. Lebih-lebih kita juga harus waspada pada ungkapan kata tertentu, misalkan setiap calon pemimpin mengaku dirinya amanah. Perlu dicermati, bahwa apa yang menjadi pijakannya yaitu benar amanah atau ambisi semata.

Melihat momen yang masyarakat menyebutnya pesta demokrasi baik di tingkat kabupaten hingga nasional, tak jarang saya sering menjumpai gesekan-gesekan horisontal baik di kalangan elit maupun lapisan bawah. Bahkan hanya karena perbedaan pilihan, antar tetangga satu dusun bisa bermusuhan hingga bertahun-tahun.

Tentu tidak masalah dengan nilai demokrasi asal penggunaannya tepat, tidak digunakan sebagai alat penguasaan dan penjajahan. Allah sendiri membukakan pintu “demokrasi” faman sya`a falyu`min, waman sya`a falyakfur yang masing-masing pilihan akan menuai hasilnya.

Saya mengambil hikmah dalam tulisan tetes mata air Maiyah Dua dari Sepuluh, Mbah Nun secara tidak langsung mengingatkan kembali bahwa manusia tidak bisa mengelak dari keabadian karena manusia wajib hidup kekal abadi, kholidina fiha abada dengan babak penyisihan di dunia. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia ketika di dunia sepatutnya berhimpun menjadi Al-Mutahabbina Fillah. Hamba-hamba yang saling mencintai karena Allah. Tidak karena kesamaan golongan maupun ideologi.

Rupanya tidak hanya pada momen pemilu. Dalam saat obrolan kecil, beberapa teman pernah bercerita dalam aktivitasnya di perusahaan sering menjumpai benturan-benturan individu. Misalkan untuk mencapai karier pada suatu jabatan tertentu, seorang pekerja berlaku tega menjelek-jelekan bahkan menjegal partner seperjuangannya demi mencapai keinginannya. Padahal Allah memberi informasi  “Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Al-Anbiya: 16).

Atau mungkin, yang paling inti pijakan dalam aktivitas pekerjaan selain “…Jangan lupakan kebahagiaanmu di dunia” (Al-Qashash: 77), yang Allah nilai adalah bagaimana memelihara persaudaran sesama teman di dalam aktivitas kerja. Saya rasa, Allah sendiri tidak menyuruh manusia membawa jabatan atau pencapaian karier ketika menghadap kepada-Nya. Walaupun di sisi lain manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya di dunia.

Pada saat Sinau Bareng di Bandung, UIN Sunan Gunung Djati 24 November 2017, Mbah Nun mengutarakan bahwa sesungguhnya tidak ada dikotomi antara langit dan bumi. Saya memaknai keduanya adalah suatu komprehensi yang berkaitan satu sama lain. Dan di Forum Kenduri Cinta bulan November 2017 beliau berpesan “Setiap anda mengambil keputusan, simulasikan hingga akhirat. Karena kita wajib hidup abadi…”. Maka dalam demokrasi maupun hubungan antar teman di perusahaan, saya rasa manusia selayaknya berlaku waspada di setiap keputusan yang diambil dalam menentukan langkah. Karena jelas, tidak ada dikotomi antara langit dan bumi.

Tidak ada pemisahan pengertian bahwa yang berhubungan dengan Tuhan hanya pada wilayah ibadah mahdloh saja, kemudian memenggal “kutub” lainnya dengan menganalogikan bahwa dalam urusan demokrasi, politik, hubungan antar teman dalam pekerjaan, antara bos dan pegawai dalam suatu perusahaan itu hanya urusan di dunia. Sebab, semua dalam satu kesatuan, di mana Allah selalu terlibat di setiap sendi kehidupan.

Tak terkira betapa luasnya cinta yang diberikan Mbah Nun dan KiaiKanjeng untuk Indonesia. Menapakkan kaki di berbagai titik Nusantara, bahkan dunia.