Daur-II • 181

‘Ainul Hurri

“Tampaknya kali ini kita kaum tua yang harus duduk manis mendengarkan anak-anak muda yang selama ini kita merasa bahwa mereka yang belajar kepada kita”, kata Pakde Sundusin sesudah menghela nafas panjang.

Tarmihim dan Brakodin mendengarkan dengan seksama.

“Mohon maaf lho Pakde”, kata Seger, “tetap posisi kami adalah anak-anak muda yang mencari ilmu hidup kepada para Panjenengan. Cuma kali ini tahap-tahap dan metodenya bergantung pada kelemahan-kelemahan kami untuk memahami apa yang sudah lama ingin kami pahami”

“Pokoknya silakan saja”, kata Pakde Tarmihim.

“Jadi siapa Mbah Markesot itu sebenarnya?”

“Kok sebenarnya”, jawab Brakodin, “selama ini beliau adalah sebenar-benarnya beliau. Kalian memang hanya sekali dua kali berjumpa dengan beliau, tetapi Mbah kalian itu sebenarnya ya Mbah kalian”

“Saya cuma tahu satu hal”, sambung Pakde Sundusin, “Mbah Markesot itu punya kakek atau buyut atau canggah atau entah posisi yang manapun, yang bernama ‘Ainul Hurri…”

Junit Jitul Toling Seger setengah mendongakkan wajahnya.

“Mata Kemerdekaan…”, celetuk Seger.

“Mata untuk menatap kemerdekaan”, tambah Jitul.

“Kemampuan untuk menemukan kemerdekaan”

“Kesanggupan untuk menembus semesta hingga ke ufuk”

Pakde Sundusin tertawa. “Ya ndak usah diteaterkan. Itu hanya nama”

Junit tidak perduli. “Beliau mungkin berada di terusannya garis di mana Rasulullah diajari oleh Malaikat Jibril yang sangat kuat. Yang datang menghampiri beliau dengan wujud aslinya…” [1] (An-Najm: 5-6).