Adalah ‘Amin Ya Mujibassailin’: Kesadaran yang Dicari-cari Manusia

“Saya ini bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, dan bukan kekosongan atau kehapaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu. Nafas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air, dan udara kembali ke tempat asalnya, sebab semuanya barang baru bukan asli.” [1] -Syeikh Siti Jenar 

Malam hari adalah ruang yang baik untuk kita menerima hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan alam pikir masing-masing. Saya sedang mencoba untuk mengurai, tentang situasi saya sendiri. Tetap diam di tengah logika-logika yang sulit dilipat. Yaitu “Kesadaran”. Kesadaran yang bagaimana? Seperti apa? Untuk apa? Siapa? Dan lebih urban lagi, di mana saya dapat berjumpa dengan karakter “Kesadaran” itu?

Pada kutipan di atas, saya memaknai Syeikh Siti Jenar sedang menghilangkan eksistensi dirinya terhadap indera. Lebih dari itu–tanpa meninjau dari pendekatan teori sastra apapun–puncak kesadaran sebagai anak manusia adalah ketidaktahuan tentang manusia itu sendiri. Sehingga apa-apa yang mencapai kesedihan, kebahagiaan, bahkan cinta, akan terjadi begitu saja, tanpa tendensi yang dibuat-buat.

Hanya terkadang begini, kita harus melalui banyak hal, banyak ayat, banyak nasihat-nasihat, untuk mendapatkan sedikit “Kesadaran”. Termasuk kesadaran tentang apa itu Sadar yang kemudian tumbuh menjadi Kesadaran. Saya tidak dapat menyebutkan contoh empiris tentang peristiwa tersebut, karena setiap anak manusia akan mengalami proses yang value-nya tidak jauh berbeda satu dengan yang lain.

Pada titik ini, saya menganggap semua yang saya ributkan dalam kepala hanyalah permainan bahasa. Kesadaran, Sadar, ataupun –an itu sendiri. Saya harus melalui semua itu dengan pertaruhan hubungan baik dengan sesama anak manusia, anak semua akar yang tumbuh dari tanah, juga anak-anak kehidupan; roh, jiwa, dan bentuk metafisik yang belum saya jumpai.

Di sinilah kajian-kajian stilistika dan semiotika berperan. Itupun masih dalam diksi ‘barangkali’.

Dari semua ini, saya berhenti merasa carut marut ketika membaca kalimat ‘Amin Ya Mujibassailin,’ yang ditulis oleh Cak Nun pada Daur II-I56 – Pengelolaan Keburukan. Jika agama selalu menggunakan ‘Hidayah’ ketika mendapatkan perihal baik, barangkali seperti itu, saya mendapatkan hidayah; Amin Ya Mujibassailin dalam tulisan Cak Nun. Dalam konteks tulisan tersebut, Cak Nun menyatakan lewat tokoh ‘Junit’ bahwa Amin Ya Mujibassailin adalah sebuah kegiatan merayakan kabar gembira tentang adzab. Benar, kalimat tersebut adalah kalimat yang begitu akrab dengan proses spiritual; proses mencari dan meng-imani.

Mari sedikit mengurai kalimat tersebut dari segi linguistik. Secara etimologi Amin (امين): berarti kabulkanlah; KBBI. Ya Mujibasailin (يا مجيب السائلين): Ya Wahai, Mujiba: Yang Maha Mengabulkan, as-Saailin: Yang sedang bertanya/meminta/memohon. Dalam konteksnya, Amin Ya Mujibassailin yang ditulis Cak Nun adalah tentang tokoh karakter ‘Junit’ sedang mengamini sebuah ayat, di mana ayat tersebut seolah sedang berbicara hal yang menggelitik batin dan sudut pandang Junit;

Saya merasa sedang menjalani bagian akhir dari ayat itu,Pakde”

“Mengamini dengan Amin Ya Mujibassailin saya maknai sebagai merayakan kabar gembira tentang adzab. Allah sendiri memberi formula dan logika fabasysyirhu, kabar-gembirakanlah atau sampaikan kabar gembira. Tentang ‘ádzabun alim. Tentang siksa yang pedih. Ini suatu lipatan logika. Kabar gembira tapi adzab, adzab tapi kabar gembira.” Kata Junit. Daur II-I56 – Pengelolaan Keburukan.

Nah, pada bagian dialog tersebut saya menemukan dimensi-dimensi tertutup. Bahwa pada kata Amin yang berarti kabulkanlah, terimalah, di sanalah kata ‘Sadar’ itu sedang duduk, bersemanyam menunggu manusia-manusia berseru Amin!. Yaitu berserah tanpa pasrah, karena konteks ‘Terimalah’ kepada Allah artinya kita sudah ‘memberi/melakukan sesuatu’, yang dimaksud adalah tidak menghamba dengan buta tanpa melakukan apa-apa. Demikian perwujudan Sadar.

Kemudian Ya Mujibassailin. Yang berarti “Wahai Yang Maha mengabulkan orang-orang yang meminta.”  Memohon dengan permohonan bijak, meminta setelah melakukan. Bukan meminta tanpa mau melakukan apa-apa. Kemudian menemukan diri seyogyanya orang yang sedang meminta. Tanpa keterangan panjang lebar, kalimat Ya Mujibassailin inilah titik Kesadaran itu.

Dari kedua uraian etimologi tersebut, sadar-kesadaran seolah menjadi makna terselubung pada susunan kalimat Amin Ya Mujibassailin. Barangkali hal ini sedikit metaforis, dan hanya batas nalar yang lagi-lagi kiasan. Tapi hal ini mampu membuat saya tertegun. Secara fonem Amin Ya Mujibassailin seperti bunyian angin di malam hari yang sedang bergesekan dengan bambu-bambu, seperti mantra. Bahkan bentuk sintaksisnya sangat tegas, terdiri dari lima susunan kata yang kemudian menjadi satuan kalimat utuh, Amin!.

Konklusinya begini, Amin Ya Mujibassailin adalah tawaran sederhana penuh hikmah (bagi saya) sebagai rumus untuk mencari apa itu sadar dan kesadaran. Ringkasnya, Amin Ya Mujibassailin adalah sebuah nilai filosofi yang bisa memberikan batasan di luar batas nalar pencarian tentang kesadaran itu sendiri. Adapun setelah ini timbul kesadaran-kesadaran yang lebih implisit secara praktik, Amin Ya Mujibassailin berperan pada tahap muhasabah atau introspeksi.

Dalam rangka menawarkan hal ini, saya tidak sedang memiliki misi apa-apa kecuali keluar dari delusi saya sendiri. Jadi barangkali hal ini adalah berita buruk, maka mungkin juga memiliki hak untuk disyukuri. Meminjam dawuh Cak Nun:

“Berita buruk adalah berita baik. Berita yang baik adalah tentang yang buruk”, Toling terus memperdalam hal tentang berita buruk, “semakin buruk keadaan atau kejadian, semakin merupakan berita baik.” Daur II-155 – Mensyukuri Kerusakan.

Semoga dalam menafsirkan kalimat ini kita dilindungi dengan nalar dan nurani yang sehat. Amin.

Malang, 10 Juni 2017

[1] Dikutip dari alangalangkumintir.wordpress.com

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image