Abad 20-21 Ini Manusia Berada pada “Evolusi Ke-4 Minus”

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, Jakarta 14 Juli 2017

Kemudian Jamaah diajak menanggapi isu Perpu tentang Ormas yang baru saja disahkan Pemerintah. Seperti kita ketahui, bahwa akhir-akhir ini Ormas Islam menjadi sasaran dari Perpu yang baru saja disahkan itu, karena dianggap bertentangan dengan Pancasila. Cak Nun kembali menegaskan bahwa untuk membubarkan Ormas di Indonesia memang mudah, tetapi jangan kemudian dianggap bahwa yang dihadapi adalah Ummat Islam. Untuk mengurus Ormas Islam di Indonesia ada banyak caranya, bisa dibubarkan, bisa dibungkam, bisa ditaklukan dengan diberi bantuan uang, ada banyak caranya. Tetapi jangan beranggapan bahwa Ormas Islam sama dengan Ummat Islam di Indonesia. Sangat jauh berbeda, ada gradasi, layer, lapisan-lapisan yang jauh lebih besar yang tidak diketahui oleh Pemerintah.

Kenduri Cinta Juli 2017

Cak Nun juga mengingatkan, bukan berarti dengan datangnya beberapa tokoh dari berbagai elemen Bangsa ke Kadipiro kemudian melegitimasi posisi Cak Nun, tentu tidak seperti itu. Jika elemen Pemerintah datang ke Kadipiro, bukan berarti Cak Nun berada di pihak yang pro Pancasila, kemudian ketika HTI yang datang ke Kadipiro kemudian Cak Nun dianggap sebagai pro Khilafah. Tidak sesederhana itu. Cak Nun menjelaskan, apabila ada pencopet ditangkap, maka Cak Nun akan membela penegakan hukum terkait pelanggaran yang dilakukan si Pencopet. Tetapi jika Pencopet itu diludahi, kemudian ia dipukuli dan ditendang-tendang, direndahkan martabatnya, maka Cak Nun akan membela si Pencopet atas ketertindasannya itu.

Maka, Cak Nun juga menegaskan, jangan dipikir jika seandainya Islam terus-menerus diperlakukan seperti hari ini kemudian Cak Nun tidak berada di pihak Islam. Semua ada batasnya, semua ada proporsinya. Semua sikap yang ditujukan kepada Islam hari ini begitu hina dan begitu kampungan, membelokkan isu, memanipulasi informasi yang valid, memojokkan dan merendahkan Islam sebegitu hinanya, jangan kemudian dipikir bahwa kelak ummat Islam akan diam saja. Mungkin hari ini hanya segelintir saja yang merasa sakit diinjak, tetapi jika sudah berlebihan, bisa jadi akan meletus sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Cak Nun mengingatkan kepada pihak-pihak yang sedang berkuasa dan berencana melanjutkan kekuasaan bahwa ummat Islam yang mereka kenal baru sekedar 2-3 batalyon saja. Ummat Islam yang sebenarnya tidak benar-benar dikenal oleh mereka yang sedang berkuasa, dan tidak semudah itu mereka akan terus memperlakukan Islam seperti hari ini. Cak Nun sangat serius mengingatkan hal ini.

Lebih dari 2 jam Cak Nun mengajak Jamaah menjelajah ilmu-ilmu Maiyah. Malam itu, Jamaah Kenduri Cinta seperti menghadiri Kuliah Umum dengan materi-materi ilmu sangat padat. Cak Nun kemudian meminta Sabrang untuk turut bergabung di panggung untuk menambah wawasan dan khasanah terkait tema Kenduri Cinta kali ini.

Sabrang menekankan bahwa yang terpenting dalam diri kita adalah kesadaran tentang keberadaan kita sebagai makhluk. Ketika kita sadar akan keberadaan kita, maka kita akan bergerak untuk mencari cahaya, seperti kesadaran daun yang selalu mencari cahaya matahari agar ia dapat tumbuh. Ketika sudah muncul kesadaran bertumbuh, maka kesadaran hewan akan membimbing manusia untuk bertahan hidup, ia harus makan, ia kemudian harus berpindah tempat, berburu, berbagi, dan seterusnya. Ketika menyadari keberadaan manusia dalam dirinya, manusia akan memiliki kesadaran akal yang dapat didayagunakan sebagai alat yang membantu dalam proses perjalanan hidup. Tahap selanjutnya, manusia akan memiliki kesadaran untuk mengabdi kepada Tuhan. Sehingga pada puncaknya, bahwa pengabdian dirinya kepada Tuhan merupakan manifestasi dirinya menuju Khalifatullah.

Tak terasa waktu sudah hampir jam 4 subuh, Kenduri Cinta pun kemudian dipuncaki dengan berdoa untuk kebaikan bersama. (Fahmi Agustian dan tim KC).

Buku Cak Nun