Abad 20-21 Ini Manusia Berada pada “Evolusi Ke-4 Minus”

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, Jakarta 14 Juli 2017

Suasana diskusi berlangsung semakin hangat. Tampak Cak Nun sudah hadir di Taman Ismail Marzuki, dan seperti biasa duduk di sayap kanan panggung, sebelum naik ke panggung. Bedur and Friends kemudian membawakan beberapa nomor akustik untuk sekedar member jeda sebelum memasuki diskusi sesi kedua bersama Cak Nun.

Seharusnya Tahap 4,5, dan 6 Secara Simultan

Setelah Fahmi dan Sigit menyampaikan beberapa resume dari jalannya diskusi sebelumnya, Cak Nun menyapa Jama’ah Kenduri Cinta. Pertama-tama, Cak Nun melandasi bahwa terminologi evolusi 6 tahap ini merupakan salah satu tadabbur ilmu di Maiyah yang digunakan sebagai cara kita untuk merespons zaman. Praktisnya, kita saat ini seharusnya menjalani tahap 4-5-6 secara dialektis; manusia-abdullah-khalifatullah. Secara simultan, apabila kita sudah terbiasa untuk berdialektis dalam tahap 4-5-6 ini, kita akan mampu menemukan posisi keseimbangan yang tepat dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini.

Kenduri Cinta Juli 2017

Pemahaman evolusi 6 tahap ini dijelaskan oleh Cak Nun ada benang merahnya dengan terminologi evolusi yang ditadabburi dalam surat At Tiin. Evolusi yang dipahami tidak secara linier historis, melainkan evolusi secara peradaban dan nilai. Dalam surat At Tiin seperti yang sudah pernah dijelaskan oleh Cak Nun, evolusi yang berlangsung menggunakan 4 istilah; At Tiin, Az Zaitun, Siin (Sinai), dan Baladil Amiin. At Tiin adalah lambang dari Budhisme. Cak Nun mentadabburinya bahwa era Budhisme adalah era dimana manusia berhenti mengejar-ngejar dunia (materialisme). Dan pencapaian kesadaran itu sudah dicapai sebenarnya oleh manusia jauh sebelum era Musa, Isa, dan Muhammad.

Cak Nun mengibaratkan kita hidup di dunia ini seperti menjalani games di mana di dalamnya kita menghadapi berbagai rintangan dan ujian. Salah satu teknologi internal manusia adalah kesabaran yang dimanfaatkan untuk mengakomodir penderitaan yang datang dari luar dirinya. Maiyah adalah teknologi dan thoqirot agar supaya penderitaan itu hilang, meskipun datang bertubi-tubi. Karena pada intinya adalah bagaimana kita memiliki teknologi manajemen dalam diri kita untuk mengolah penderitaan itu.

Ketika kita meminum jamu misalnya, respons yang kita tunjukkan akan menentukan di mana posisi kita sebenarnya. Kalau yang dominan yang kita apresiasi dalam diri kita ketika minum jamu adalah rasa pahit, maka kita belum beranjak dari evolusi ke 4. Tetapi jika kita sudah beranjak dari tahap ke 4, menuju tahap ke 5; Abdullah, bahkan mencapai tahap ke 6; Khalifatullah, kita akan mampu menyadari bahwa jamu yang kita minum itu memang baik bagi tubuh kita. Sepahit apapun rasanya, karena memang kita adalah Khalifatullah, maka kita akan mampu memaknai bahwa jamu itu penting dan baik untuk tubuh kita. Contoh yang lebih sederhana lagi adalah bagaimana kita menyikapi lampu kuning ketika kita berkendara di jalan raya, sikap kita apakah; menganggap lampu masih menyala berwarna kuning atau menganggap bahwa lampu sudah berwarna kuning. Kedua respons ini sangat berbeda efek selanjutnya. Jika kita menganggap masih berwarna kuning, maka hampir dipastikan kita akan menggeber tuas gas kendaraan kita agar segera melewati traffic light tersebut. Tetapi, jika kita memahami dengan “Lampu sudah berwarna kuning”, maka yang akan kita lakukan adalah, menurunkan kecepatan kendaraan, untuk kemudian berhenti sejenak dan menunggu hingga lampu berwarna hijau menyala.

Kenduri Cinta malam itu berlangsung sangat padat. Pointer demi pointer disampaikan Cak Nun bukan hanya untuk mengulangi tema-tema yang sudah tersampaikan di beberapa Maiyahan sebelumnya, tetapi justru lebih menajamkan pemahaman-pemahaman dari beberapa terminologi yang sudah ditemukan di Maiyah itu untuk lebih jernih lagi dipahami Jamaah Maiyah secara luas. Selain tentang evolusi 6 tahap dan evolusi dalam surat At Tiin tadi, Cak Nun juga mengulas terminologi Sabiil-Syari’-Thoriq-Shirot. juga dielaborasi kembali terminologi Islam Mekkah dan Islam Madinah.

Satu hal yang ditegaskan Cak Nun adalah bahwa posisi Maiyah sebelum hari ini adalah seperti tenaga pendorong dari sebuah mesin atau kendaraan. Tetapi, hari ini dan masa depan, Maiyah akan berfungsi sebagai tembok pemantul yang kokoh, sehingga segala macam kerusakan, kedzaliman, virus, penyakit,cdan lain sebagainya yang berasal dari luar Maiyah akan dipantulkan kembali kepada yang melemparkan itu kepada Maiyah. Dan itulah sebabnya Maiyah tidak terpengaruh sedikit pun dengan situasi dan kondisi apapun yang terjadi di luar Maiyah. Maiyah memiliki banyak sekali falsafah hidup yang membuat manusia-manusia di Maiyah berlaku semakin tangguh dan semakin kuat dalam menjalani kehidupan mereka. Kita mengenal falsafah; nandur, puasa, sedekah dan lain sebagainya yang secara teori kita tidak pernah mempelajarinya secara detail di Maiyah, namun semua itu secara perlahan kita biasakan dalam laku kehidupan kita sehari-hari. Semua itu secara otomatis ter-set up dengan sendirinya dalam hidup kita, karena kita melatih diri kita setiap hari, terus-menerus.

Hadir pula malam itu Bang Rizal, salah seorang sahabat lama Cak Nun yang dulu turut menemani Cak Nun berkeliling Jakarta mentradisikan kembali sholawatan di kampung-kampung pinggiran Jakarta pasca Reformasi 1998. Bang Rizal ini adalah salah satu orang yang ditangkap oleh Kepolisian pada 2 Desember tahun lalu karena dituduh menyusun aksi makar. Ia bercerita bagaimana Cak Nun begitu dekat dengannya, bahkan Cak Nun sempat pula menjenguk di Rutan Cipinang ketika ia ditahan.