Abad 20-21 Ini Manusia Berada pada “Evolusi Ke-4 Minus”

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, Jakarta 14 Juli 2017

Setelah bulan lalu Kenduri Cinta mangayubagya ulang tahun ke 17 dengan suasana yang sangat meriah, meskipun dilaksanakan di penghujung Bulan Ramadhan, bulan Syawwal ini, Kenduri Cinta kembali dilaksanakan pada Jumat kedua bulan Juli 2017. Suasana Idul Fitri tampak masih terasa. Sebagian masyarakat Ibukota sepertinya masih menikmati masa-masa liburan, utamanya para anak-anak sekolah yang baru masuk sekolah pada hari senin, 17 Juli 2017.

Kenduri Cinta Juli 2017

Setelah ritual rutin Wirid Tadzlil-Ta’ziiz dan Wirid Tahlukah, tepat pukul 21.30, Sigit Hariyanto membuka Kenduri Cinta. Sigit bersama Luqman Baehaqi bertindak sebagai moderator dengan pembicara awal di sesi Prolog adalah Adi Pudjo dan Tri Mulyana. Sigit mbeber kloso dengan menerangkan gambaran tema Kenduri Cinta kali ini. Ia mengutarakan tema ini mentadabburi penciptaan langit dan bumi. Dalam surat Al A’raf diterangkan bumi diciptakan dalam enam hari, yang dalam terminologi Maiyah, Cak Nun menerjamahkan sebagai evolusi peradaban dan nilai kehidupan manusia dalam enam masa atau enam tahap. Seperti sudah jamak kita ketahui, dalam khazanah Fisika, penciptaan awal alam semesta ini diawali dengan momentum Big Bang, hingga kemudian terciptalah berbagai komponen-komponen alam semesta, galaksi, planet-planet, bulan, matahari dan lain sebagainya hingga penciptaan makhluk hidup di muka bumi.

Tri Mulyana menyampaikan poin awal bahwa dewasa ini adalah zaman yang dipenuhi generasi milenial, terdiri dari generasi yang lahir setelah tahun 1980. Generasi ini memiliki salah satu ciri utamanya yaitu internet addict. Hal yang mengkhawatirkan adalah kecenderungan mereka yang terlalu mudah menerima mentah-mentah informasi yang disampaikan melalui media, di internet utamanya. Mereka mudah sekali saling menilai satu sama lain melalui media sosial. Banyak aspek saat ini melatarbelakangi berkurangnya sense of humanity, parahnya 80% situs yang digemari oleh masyarakat hari ini ialah situs pornografi.

Menyambung paparan Tri Mulyana, Luqman Baehaqi mengungkapkan bahwa teknologi hari ini sangat maju, ironisnya membuat kita tidak aktif berpikir, padahal seharusnya evolusi ke 4 manusia ialah mahluk pemikir. Manusia seharusnya mampu mendayagunakan akal dan pikirannya untuk terus-menerus melakukan inovasi. Namun pada nyatanya tidak. Itulah mengapa judul Kenduri Cinta kali ini adalah “evolusi 4 – (minus)”.

Pada titik itu manusia justru didikte dan diarahkan oleh teknologi, semisal ketika kita mencari cara, informasi, dan panduan apapun melalui google, facebook, twitter, dan sebagainya. Seolah-olah manusia hari ini adalah manusia yang paling tahu tentang segala hal, padahal hampir 90% informasi yang diterima hari ini ia dapatkan melalui teknologi yang kita kenal dengan nama; Internet. Adi Pujo menambahkan, manusia seharusnya berada dalam tahapan ke empat, tapi minus karena penggunaan akalnya berkurang diganti oleh teknologi informasi yang lebih automatis. Manusia menjadi semakin malas mengeksplorasi kemampuan dalam dirinya, karena mereka merasa berada dalam sebuah perdaban instan, yang dengan sekejapan mata mereka sangat mudah mendapatkan informasi yang up to date. Persoalan apakah informasi itu valid atau hoax, itu urusan kesekian.

Fadil, seorang jamaah dari Cakung Jakarta Timur, menyumbangkan pandangan bahwa tema Kenduri Cinta kali ini pertama kali ia dengarkan pada saat mengikuti acara Tadabbur Daur di Jogja pada bulan Ramadhan lalu. Saat itu Cak Nun mengungkapkan bahwa manusia bukannya melangkah maju ke depan dan berkembang pemikirannya namun justru semakin mundur dan bodoh. Fadil mengungkapkan, dewasa ini kita diatur oleh internet, bukan lagi oleh moralitas atau ajaran orang-orang tua. Kita sangat bergantung pada internet hari ini, dan sayangnya kita tidak memiliki filter yang cukup kuat untuk menyaring informasi yang masuk ke dalam diri kita.

Lain lagi dengan Agung. Ia mengungkapkan, saat dulu ada orang-orang yang lebih unggul, lebih menguasai ilmu daripada yang lain, namun dengan keunggulannya itu tidak menjadikan ia menjadi sombong. Tapi saat ini, yang terjadi justru kemunduran. Menurutnya saat ini tidak ada manusia unggul lagi seperti zaman dahulu. Antar manusia saat ini memiliki rata-rata tingkat keunggulan yang sama disebabkan mereka semua memiliki referensi yang sama, yaitu internet, yang sebenarnya informasinya tidak berubah drastis dari segi substansi.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image