Wedang Uwuh (6)

Yogya Memangku Indonesia

Kedaulatan Rakyat, 22 November 2016

“Lama-lama dingin juga, Mbah”, Gendon mengeluh, “Mbok cepet dijelaskan kenapa kami diseret ke sini”

Ternyata Pèncèng dan Beruk juga menggigil.

“Lho”, saya merespon, “kalau kalian tadi tidak rewel, sekarang kita sudah turun.

“Ya sudah sekarang kita patuh, Mbah”, kata Beruk.

“Secepat mungkin Mbah selesaikan soal Atlas Yogya”, Gendon menambahkan.

“Nanti dulu. Kita naik ke Merapi untuk ‘ainulyaqin melihat peta nilai Yogya itu landasan saja dari tugas-tugas yang akan kalian lakukan sesudahnya”

“Kok tugas?”, Pèncèng ini selalu membantah.

“Mbah tidak akan sanggup menjalankan dawuh itu kalau kalian tidak bantu. Yang ndawuhi itu dulu ibaratnya Kawah Condrodimuko tempat Mbah diancup-ancup, didadar, digembleng. Di zaman Mbah remaja dulu, pada usia Mbah pindah dari Jombang ke Ponorogo kemudian Yogya, ada koran yang namanya “Suluh Marhaen” dan “Mertju Suar”, tapi yang utama di Yogya adalah Kedaulatan Rakyat”—ya yang ndawuhi Mbah ini…”

“Ini kisah dari zaman perjuangan ya Mbah…”, suara Pèncèng lagi.

Kalau spontan saya jawab “Perjuangan Mbahmu!”, kan berarti saya sendiri yang terkena. Maka saya bilang “Tutup dulu mulutmu, Waji’an!”

“Mbah belajar menulis sastra”, saya meneruskan, “cerita pendek Mbah dimuat pertama di Ruang Remaja Suluh Marhaen. Kemudian puisi-puisi di Ruang Sastra Remaja Mertju Suar, yang kemudian berganti nama menjadi Masa Kini. Ternyata Mbah gagal menjadi sastrawan, cerpenis maupun penyair. Rupanya menulis di dua koran itu hanya tahapan sebelum akhirnya Mbah belajar menulis masalah-masalah kehidupan sosial di koran senior yang sekarang ndawuhi Mbah ini”

Kemudian saya ceritakan kepada mereka bahwa untuk yang ketiga inipun saya tidak sukses. Sebab untuk menjadi penulis masalah-masalah sosial, orang harus sekolah dan kuliah. Kalau bisa ya harus Sarjana, syukur Sarjana Utama, Doktor dan Profesor. “Lha mbah kan tidak pernah punya riwayat yang enak dengan Sekolah, Pesantren, apalagi Universitas”.

“Jangan Mbah. Jangan sekolah”, sahut Gendon.

“Kok jangan sekolah?”

“Kalau Mbah sekolah, mungkin Mbah akan berkembang menjadi entah apa, dan bertugas entah di mana, jadinya kita tidak pernah ketemu seperti sekarang”

“Benar”, kata Beruk, “mungkin Mbah tinggal di luar negeri atau menjadi pejabat di Jakarta”

“Nggak apa-apa nding Mbah, sekolah saja”, Pèncèng tak mau kalah, “toh gagal…..”

Gentho tenan si Pèncèng ini. “Jangan lupa, Cèng. Justru karena saya gagal sekolah maka saya rajin menulis. Dan sungguh aneh Kedaulatan Rakyat mau menerima tulisan-tulisan saya. Mungkin ratusan, mungkin ribuan. Dari masalah helm dan motor, sampai teater dan pengabdian sosial, narkoba dan kriminalitas, politik luar negeri, kemahasiswaan dan aktivisme, pokoknya segala macam tema. Maka sekarang ini saya sendhiko dawuh. Dan karena tema yang paling urgen untuk masa depan adalah ‘Yogya Memangku Indonesia, maka saya ajak kalian naik Merapi untuk mulai mbeber kloso, nyicil bahan-bahan untuk prasmanan ilmu dan solusi. Indonesia sedang sangat berduka, maka Yogya harus benar-benar gumregah….”.

Di zaman Mbah remaja dulu, pada usia Mbah pindah dari Jombang ke Ponorogo kemudian Yogya, ada koran yang namanya “Suluh Marhaen” dan “Mertju Suar”, tapi…