Catatan Ngaji Bareng Maulid Nabi Muhammad Saw, Warungpring Pemalang 11 Desember 2016

Yang Berperan Tak Tampak

Foto: Adin.

Sinau Bareng malam ini terbilang lengkap komposisinya. Tak hanya anak muda, bapak-bapak ibu-ibu, dan anak-anak yang diajak orangtua mereka, melainkan juga para kyai sepuh yang menemani Cak Nun di panggung. Kyai lokal ini pun merupakan andalan, karena mereka merupakan kyai yang bagai rumput tumbuh di atas tanah. Mereka adalah kiai yang lahir dari rakyat dan umat dan diakui sebagai kyai oleh umatnya tersebut. Mereka bukan kyai dari atas yang dilahirkan oleh kekuasaan dan pemilik modal. Karena mereka tidak terkontaminasi oleh kekuasaan yang dipertarungkan di Jakarta, mereka juga andalan.

Malam ini beliau-beliau bersama masyarakatnya berkesempatan mendengarkan dari Cak Nun menguraikan prinsip dalam memahami situasi politik hari-hari ini dan apa-apa yang sesungguhnya menimpa bangsa Indonesia. Termasuk diceritakan oleh Cak Nun bagaimana Cak Nun mendapatkan informasi langsung dari tangan pertama mengenai tahap selanjutnya proses hukum terhadap Ahok.

Salah satu prinsip yang paling penting adalah siapapun hendaknya punya analisis bahwa dalam banyak peristiwa atau kejadian ada orang yang berperan dan tak tampak. Yang berperan tak mesti orang yang tampil atau tampak di televisi. Hal yang pada tahap selanjutnya Cak Nun gambarkan mengenai Maiyah. Maiyah tak punya komando, tak punya anak buah, tak punya pasukan tetapi bisa melahirkan pasukan tapi dengan formula yang berbeda. Seperti halnya darah, hati, dan cairan dalam tubuh yang tak tampak.

Foto: Adin.

Banyak yang dikisahkan dan diungkapkan Cak Nun, di antaranya mengenai Mushaddeq yang dulu meminta bantuan Cak Nun buat jadi saksi ahli, tentang tujuh puluh satu pasal undang-undang yang sesungguhnya bertentangan dengan UUD 1945, tentang jenis-jenis penjajahan global, dan sikap yang sebaiknya diambil orang-orang Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Syiah yaitu agar saling memaafkan.

Bapak-bapak kyai sepuh ini terlihat sangat enjoy mengikuti pengajian yang tak biasanya. Senyum dan tawa tersungging di bibir beliau setiap kali Cak Nun bertutur dan bikin segar suasana. Beliau-beliau menikmati bagaimana Cak Nun mengajak semua hadirin untuk mengerti kebudayaan, agar sebagai manusia mereka luwes, mengerti kemesraan dan keluasan hidup. Cak Nun juga berpesan agar kegiatan budaya melalui festival-festival dihidupkan di sini.

Bersama jamaah, bapak-bapak kyai ikut menikmati nomor Demak Ijo, Ing Dunyo Piro Suwene yang dipadu dengan lagu Change, One More Nightnya Maroon 5, dan nomor dangdut yang dipopulerkan Iis Dahlia, Beban Kasih Asmara. Saat lagu yang dibawakan Mas Imam Fatawi ini, seorang pemuda naik ke panggung dan ikut berjoget penuh gerak dan penghayatan, dan terakhir ia melangkah ke depan Cak Nun, merubuhkan badan, lalu meraih tangan Cak Nun dan menciumnya. Sesaat Cak Nun mengelus kepalanya. Fragmen selanjutnya yang terhadirkan adalah nomor Perdamaian dari Nasida Ria di mana seseorang perempuan maju dan berkolaborasi dengan Mas Imam.

Foto: Adin.

Apa yang berlangsung malam ini di mana  Cak Nun dan KiaiKanjeng hadir menemani masyarakat tanpa henti termasuk warga Nahdhiyyin ini adalah juga keadaan “peran yang tak tampak” oleh banyak mata pandang kelas menengah Islam maupun Indonesia. Sedangkan yang berlangsung pada forum-forum seperti ini adalah perjuangan memahami keadaan secara substansial dan akurat bersama masyarakat, dan pada saat bersamaan Cak Nun diperjalankan melakukan peran “urat leher”. (hm/adn).

Satu prinsip yang paling penting adalah siapapun hendaknya punya analisis bahwa dalam banyak peristiwa atau kejadian ada orang yang berperan dan tak tampak.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image