Ummat Islam Bela NKRI

(Tulisan ke-9 dari 10)

Kalau Allah menghidayahi dan memerintahkan Ummat Islam untuk berhimpun lagi pada suatu siang, saya berpendapat yang mereka lakukan adalah “Ummat Islam Bela NKRI”. Membela kedaulatan NKRI adalah perwujudan yang membumi dari Bela-Islam pada koordinat ruang dan waktu yang terukur. Syariat Allah menakdirkan alias mewajibkan mereka lahir di Bumi Nusantara, NKRI merupakan rumah mereka, dan di situlah skala teritorial SK Allah Swt “Aku tetapkan Khalifah di bumi”. Bela NKRI adalah proporsi atau maqam ruang waktu Ummat Islam di teritorial tanah Nusantara ini. Islam bukan rumah, Islam adalah cahaya di kalbu Ummat Islam dan energi di akal pikiran mereka.

Bela alam jangan sampai rusak adalah bela Islam. Merawat kebun, mendayagunakan sawah, memelihara lingkungan hidup, adalah bela Islam. Mempertahankan keluarga jangan sampai terseret menuju neraka, adalah bela Islam. Kalau itu semua bukan bela Islam, maka apa saja lingkup “rahmatan lil’alamin”? Termasuk Perlawanan terhadap penistaan Agama, adalah pembelaan terhadap NKRI, karena NKRI menjunjung Agama. Bela NKRI adalah bagian dari bela Islam. Para analis politik mendikotomikan antara “Nasionalis” dan “Islamis”, seolah-olah Ummat Islam anti-nasionalisme, dan kaum nasionalis pasti semuanya anti-Islam. Sebagaimana penyesatan cara berpikir yang mempertentangkan Demokrasi vs Islam dengan mengabaikan dimensi substansial keduanya. Maka Ummat Islam perlu berpikir lebih esensial dan substansial, agar tidak dipermainkan oleh siasat terminologi dan tipu daya teori-teori politik.

NKRI bukan area permusuhan antara pemeluk Islam melawan atau dilawan oleh pemeluk Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu. Bukan altar pertengkaran antara madzhab-madzhab dalam Islam, antara NU, Muhammadiyah, dan golongan apapun saja. Bukan tlatah pertempuran antara Jawa melawan atau dilawan oleh Sunda, Madura, Bugis, Batak, dan komunalitas apapun saja. NKRI adalah rumah besar tempat mereka hidup bersama, bergandeng tangan, menyusun mata rantai pertahanan dan dukung-mendukung kekuatan, untuk memastikan mereka tidak dijajah, ditipu daya, disiasati, dan diintervensi oleh racun kimia Dajjal dan tusuk jarum Ya’juj dan Ma’juj.

Kalimat ini diucapkan oleh seorang yang lemah dan penakut, yang hidup sejak era Sukarno, Suharto, hingga kini, juga secara penakut dan tak berdaya. Sebagai penakut saya diam-diam memohon kepada Tuhan: “Sekerdil apapun, hamba memohon agar sekurang-kurangnya dijadikan semut kecil yang menempuh gunung dan lembah, mengangkut seperseratus tetes air, menuju tempat Sang Brahma Ibrahim dibakar oleh kuasa Firaun. Kalau semut masih terlalu tinggi kemuliaannya bagiku, jadikan aku lebih rendah, yakni Raqim si anjing di pintu Gua Kahfi. Kalau anjing masih sesuatu, sedangkan aku tak pernah mencapai sesuatu, maka rendahkanlah hamba menjadi hanya kaki anjing Kitmir itu: menjuntai di mulut Gua. Sehingga semua orang yang lewat menyangka Gua itu adalah sarang anjing, sampai mereka jijik untuk memasukinya, sehingga terlindunglah para Ashabul Kahfi penghuni Gua selama 309 tahun”.

Kalau Ummat Islam membela Islam, mereka menjadi minoritas di NKRI. Tapi kalau mereka membela NKRI, mereka adalah mayoritas. Kalau mereka mempertahankan NKRI, mereka mungkin tetap diremehkan dan dihina-hina di permukaan bumi, tetapi mereka punya daya negosiasi ke langit.

Cara berpikir materialisme dan pola pandang Demokrasi menitikberatkan realitas kehidupan manusia pada jumlah. Dan itu merupakan siasat sejarah untuk menyebarkan hiburan palsu kepada Ummat Islam yang diyakinkan bahwa mereka mayoritas di Indonesia.

Manusia adalah binatang dengan anatomi tulang, gumpalan daging, aliran darah, bulatan kepala, tangan, kaki, dan bagian jasad lainnya. Sebagaimana binatang. Tetapi binatang itu menjadi bernama manusia karena segumpal kalbu (huma cinta) dan akal (otak yang disentuh oleh pendaran gelombang hidayah Allah sehingga bisa berpikir). Dua itulah penggenggam “saham mayoritas” hakiki eksistensi manusia, di samping syahwat dan perutnya. Yang berkuasa adalah dua plus dua itu, sedangkan seluruh jasadnya adalah “pelengkap penderita” yang digerakkan dan dikendalikan.

Jadi Ummat Islam sama sekali bukan mayoritas di Indonesia, kecuali dilihat dari cara berpikir materialisme dan pola pandang Demokrasi. Sebab mereka hanya jumlah. Mereka bukan pemilik modal mayoritas, bukan penentu langkah-langkah Republik, rendah daya negosiasinya terhadap kebijakan-kebijakan Pemerintah. Ummat Islam hanya keranjang sampah, hanya maf’ulun-bih (yang ditimpa).

Pimpinan dan pejabat-pejabat Pemerintahan mungkin kebanyakan beragama Islam, tetapi belum tentu mereka adalah bagian yang kualitatif dan fungsional dari Islam. Beberapa hari yang lalu saya bertanya: “Kalau Ahok ditargetkan untuk bebas atau maksimal hukuman percobaan, apakah sudah disimulasi dengan matang probabilitas yang akan terjadi?”. Dijawab: “Sedang diolah. Segera akan ada paparan tentang itu”.

Jawaban yang lebih saya tunggu adalah “Lho, siapa yang menargetkan ia bebas?”. Tapi bukan itu jawabannya, sehingga menjadi jelas informasinya. Ummat Islam perlu memperluas pandangannya ke hamparan persoalan NKRI hari ini hingga ke depan.

Sesudah 411, saya berdoa agar dilangsungkan pertemuan kepemimpinan Ummat, di mana para pemimpin Islam berkumpul. Kemudian memperluasnya dengan pertemuan kepemimpinan rakyat dalam skala NKRI. Saya menyebutnya “Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia”, kemudian “Kongres Darurat Musyawarah Rakyat Indonesia”.

“Wahai saudaraku, 411 bukanlah gambaran keseluruhan Ummat Islam di negeri ini. 411 hanyalah PPPK darurat. Sekarang marilah wa amruhum syura bainahum di Rumah Sakit Sejarah NKRI, berunding mendiagnosis penyakit kita bersama, kemudian menyepakati terapi kolektif nasional untuk pengobatan dan pemulihan bertahap jangka pendek, menengah, dan panjang”.

“Kita sedang dihajar oleh penguasa Dunia dan dimain-mainkan oleh stakeholders globalisme. Kita menyatukan haul, quwwah wa sulthan minallah, tidak untuk menghajar balik Dunia, melainkan menemukan formula yang tepat, dengan ta’rifi dan tahqiqi yang selembut-lembutnya, bagaimana rahmatan lil’alamin dibumikan. Kita diinjak-injak dan dihina, tetapi tidak merancang untuk menginjak-injak dan menghina balik. Melainkan duduk dan berdiri bersama dengan cuaca sikap la ikraha fiddin dan faman sya`a falyu`min waman sya`a falyakfur, di dalam prinsip universal al’adalah wal qisth”.

Andaikan untuk menghindari “mudarat besar” shalat Jumat 212 tak bisa dipindah ke Monas, saya hampir usulkan “Mubahalah saja, semacam sumpah pocong berisiko kematian, antara Kapolri atau Ahok dengan Habib Rizieq”. Sebab toh mereka masing-masing sangat meyakini kebenaran yang diperjuangkannya. Tapi syukur, pada 212 tidak perlu ada “brubuh” maupun “sampyuh”.

Ada seorang, yang saya memilih memanggilnya: Syarif, di depan namanya. Syarif beda dari Sayid atau Habib. Ia dicintai dan dibenci banyak orang. Front yang dipimpinnya sangat getol “amar makruf nahi munkar”, tapi dengan spektrum pemahaman yang formal, kurang substansial, komprehensif, dan tidak berskala makro struktural. Pun dengan cara “tabrak”, sehingga bikin pusing orang yang inginnya “bilhikmah walmauídhotil hasanah”. Itu membuat banyak pihak merasa gerah. Memang “teguh pendirian” bagi satu pihak, bisa “keras kepala” bagi pihak lain. Kalangan tertentu memerlukannya, kalangan lain mengutuknya.

Tapi Syarif ini bukan Wahabi, apalagi Takfiri, terlebih lagi ISIS, dan tidak ada sambungan dengan Syekh Bandar. Pun tidak terletak pada garis Ikhwanul Muslimun atau Hamas. Syarif tidak menemani para scholars Muslim seperti PKS, juga bukan kaum santri terpelajar seperti HTI. Ia dikepung anak-anak jalanan, putra-putri Betawi yang tercecer-cecer di jalanan, yang terdesak ke pinggir dari area urbanisasi, globalisasi, penggumpalan kapitalisme, hegemoni kaum pendatang di tanah Betawi. Ia menggendong kaum Dluafa dan Mustadl’afin.

Ayyuhas-Syarif, sekarang seluruh rakyat NKRI adalah Dluafa dan Mustadl’afin. Bela NKRI, Rif. *

Kalau Allah menghidayahi dan memerintahkan Ummat Islam berhimpun lagi pada suatu siang, saya berpendapat yang mereka lakukan adalah “Ummat Islam Bela NKRI”.