Sinau Bareng Membangun Manusia Indonesia di Jerman

Siang tadi (21/12) Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking bertolak menuju Frankfurt Jerman untuk memenuhi undangan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman dalam serangkaian acara yang telah dijadwalkan. Dari bandara Soekarno Hatta Jakarta tepat pukul 13:45 WIB pesawat berangkat menuju Vietnam untuk transit di Ho Chi Minh City beberapa jam sebelum tengah malam melanjutkan kembali penerbangan menuju Frankfurt. Penerbangan menuju Ho Chi Minh memakan waktu kurang lebih 3 jam penerbangan, dan dilanjutkan 12 jam penerbangan menuju Frankfurt.

Sinau Bareng Cak Nun dan Novia Kolopaking, Jerman, Belgia, Belanda
Sinau Bareng Cak Nun dan Novia Kolopaking, Jerman, Belgia, Belanda

Rencananya Cak Nun dan Ibu Novia akan berada di Eropa selama 7 hari, sejak tanggal 22 hingga 28 Desember 2016. Tidak hanya agenda acara di Frankfurt dan Hannover, Beliau berdua sekaligus akan beracara di beberapa tempat di Eropa, yaitu Belgia, Amsterdam, dan Den Haag. Selama rangkaian ini, Cak Nun dijadwalkan bertemu dan menyampaikan wawasan di depan mahasiwa atau pelajar Indonesia yang sedang mengambil studi di berbagai perguruan tinggi di sana, dan tentu saja bertemu masyarakat Indonesia yang bermukim di sana.

Dataran Eropa bukanlah tempat yang asing bagi Cak Nun. Sekitar tahun 1984 Cak Nun sudah menggelandang di benua Eropa. Hampir satu tahun lamanya, melewati berbagai musim di Eropa, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Petualangan Cak Nun selama di Eropa terdokumentasi secara rapi, dengan rutinnya Cak Nun mengirim surat kepada Adil Amirrulah (Adik Cak Nun) yang berada di Indonesia, yang kemudian kumpulan surat-surat itu dibukukan dalam judul “Dari Pojok Sejarah”.

Seperti disampaikan Aditya Wijaya, salah seorang panitia dari PPI Hannover, gagasan mengundang Cak Nun bermula dari keinginan untuk mengembalikan tradisi tukar-pikiran (belajar bersama) di kalangan PPI dan organisasi lainnya di Jerman. Alur plotting-nya adalah pertama berdiskusi tentang sains dan teknologi, yang dilanjutkan dengan pendalaman kelompok diskusi terarah pada bidang spesifik masing-masing dan membuat rencana sumbangsih para pelajar pada masing-masing bidang.

Selain sains dan teknologi, teman-teman PPI sadar bahwa pembangunan apapun tak akan ada artinya bila tidak didasari dengan pembangunan manusia itu sendiri. Aditya mengungkapkan, “Kebanyakan pelajar di sini belum cukup mengenal secara memadai akar budaya masing-masing. Belum cukup mengenal antropologi budaya sebagai perangkat untuk mengenal dirinya sendiri. Itulah mengapa kita mengundang Cak Nun, Mas. Untuk membangun manusianya, Mas.” (hm/gd)

Pelajar disini belum cukup mengenal secara memadai akar budaya masing-masing. Itulah mengapa kita mengundang Cak Nun. Untuk membangun manusianya.