“Selamat Tinggal”, Kata Ibu Pertiwi

(Tulisan ke-8 dari 10)

Kalau pertengkaran nasional ini memang tak akan kita akhiri. Kalau saling curiga, benci, dan memusuhi ini tak kita upayakan bersama untuk selesai. Kalau tak henti-henti saling memunafiki, menikam dari belakang, lain mulut lain hati, saling hipokrit dan melamisi. Kalau kebiasaan tidak dewasa, mudah mengutuk, dan tradisi saling menghancurkan ini terus kita nikmati. Maka mungkin yang perlu kita siapkan adalah ucapan “Selamat Tinggal Ibu Pertiwi”.

Mungkin dulu Bangsa Indonesia salah “akad nikah”nya. Bersumpah kita adalah Bhinneka, ada merah hijau kuning biru coklat dll, tapi kalau bicara warna dituduh rasis-rasialis. Mata kita harus sempit dengan melihat hanya merah dan putih saja. Tapi kalau omong kulit putih, dituding SARA juga, hingga tinggal merah darah.

Mungkin Tunggal Ika-nya agak masalah. Bhinneka harus hilang, tinggal Tunggal, dipimpin Ika. Harus ada satu yang dominan dan menguasai. Merah menghampar di seluruh Negeri, mempersilakan putih memimpin dan pegang kendali.

Mungkin beda kalau “Bhinneka Manunggal Ika”. Manunggal itu kata kerja yang dinamis. Bangsa Indonesia tetap bhinneka, tapi mencari wilayah persatuan dan kesatuannya (manunggal) secara dinamis dan bertahap.

Akan tetapi kalau kita meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan meletakkan Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, Rakyat, NKRI Harga Mati, Demokrasi, Persatuan Kesatuan, Kemajuan dan Pembangunan, dst sekadar untuk sarana prasarana pencapaian kepentingan pribadi dan golongan – ya nanti bukan hanya kita mengucapkan “Selamat Tinggal Ibu Pertiwi”. Bahkan sekarang Ibu Pertiwi sudah sangat sakit hati, mengurung diri di bilik sepi, dan tidak mau bicara sama sekali, kecuali di hatinya bergumam: “Selamat Tinggal”.

Ibu Pertiwi berduka, mulutnya dikunci. Di forum Kenduri Cinta Jakarta, Juni 2015, saya coba uraikan; karena sejak berlakunya prinsip Globalisasi, dihapuslah konsep Pribumi. Karena skema Demokrasi, dirobohkanlah Pagar Negara, dan dihentikanlah romantisme Tanah Air dan Nagari. Ibu Pertiwi adalah seluruh Bumi. Setiap jengkal tanah di bumi adalah hak setiap manusia.

Itulah sebabnya pemimpinmu membukakan lebar-lebar pintu pemilikan tanah dan properti di wilayah yang ia digaji untuk bertanggung jawab atasnya, untuk siapapun saja makhluk Bumi. Setiap Khalifah Bumi, atas SK dari Tuhan, berhak untuk membaringkan badan di petak tanah manapun di seantero bumi. Berhak memiliki tanah pijakannya, berhak membangun rumah di atasnya, berhak mendirikan usaha dan melebarkannya sesuai dengan kemampuan determinasi dan kreativitasnya.

Tuhan menginformasikan di Surah Al-Anbiya 96-97 bahwa “…mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi…”. Kalau Anda menggambar Bumi dan Mata Angin, arah selatan di bawah, arah utara di atas. Migrasi massal, meskipun bertahap, dari utara ke “tanah tumpah darah”mu. Bisa 10 juta, hingga lebih dari 100 juta. Sembilan Naga mempanitiainya, dan saudaramu (“Akhuk”, “Akhok”) sendiri menjadi eksekutor garda depannya.

Pemetaan Nasional, “Bun(i) Yan(i)” Nusantara direkonstruksi total menjadi Pemetaan Global. Informasi Tuhan itu menyebut “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj”, dan tembok itu sudah dibuka total, penghuni yang semua dikurung di dalam tembok itu, kini menyebar ke seantero Bumi. Semua Negeri bergabung menjadi bagian dari Satu Dunia. Barangsiapa menolak atau melawan, akan dihancurkan. Barangsiapa mematuhi, akan dimakmurkan secara keduniaan. Dan Bangsa di kepulauan Nusantara sudah lama menyiapkan diri untuk memilih kemakmuran materialisme daripada prinsip nilai-nilai lainnya.

Selamat datang Ya’juj dan Ma’juj, Gog Magog. Mereka berwajah lebar, berkulit terang, dan bermata mengincar. Menurut Muhammad Saw: “Kalian mengatakan tidak ada musuh. Padahal sesungguhnya kalian akan terus memerangi musuh sampai datangnya Ya’juj wa Ma’juj, lebar mukanya, kecil matanya, dan ada warna putih di rambut atas. Mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi, seakan-akan wajah-wajah mereka seperti perisai

Mereka adalah bagian dari Bangsa Altai, saudara termuda kita, yang dulu Jepang memanipulasi kita dengan term “Saudara Tua”. Padahal mereka adalah cucu bungsu kita. Mereka berkembang dari trah Yafits putra Nuh. Sedangkan Nabi Nuh dengan keluarga Samawinya di Turki, Iran, Arab, dll adalah cucu sulung kita.

Kalau Negara membuka pintu rumah dan pagar tanah Nusantara, sesungguhnya ia sedang mengucapkan selamat datang kembali kepada cucu-cucunya. Mereka mudik berduyun-duyun kembali ke kampung halamannya. Dajjal sudah “nyingkal nggaru” alam pikiran bangsa-bangsa di dunia sejak Renaissance: “mensosialisasikan Neraka sebagai Surga, mewanti-wantikan Surga sebagai Neraka”, “membolak-balik hati dan pikiran manusia”, “mencuci jiwa dan kemanusiaan menjadi sempit, pendek, dan dangkal”. Siapapun jangan GR, hindari besar kepala. Kalau dunia memujimu (lembaga-lembaga internasional, negara-negara besar, atau malahan Palestina, dll), itu berasal dari akal pikiran yang sudah dibalik, atau ketidaklengkapan persepsi, atau bahkan siasat dan tipu daya.

Kalau pakai term Tuhan: “mereka membisikkan perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia”, sehingga memunggungi hakiki kesejatian ruhani hidupnya, kemudian “kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir”. Kafir adalah yang memunggungi kesejatian dan keabadian.

Tidak perlu mendramatisasikan “jaman edan”nya Ronggowarsito, sebab skala wawasannya ketika itu hanya seputar Solo dan Yogya. Juga Jongko Joyoboyo, sebab ia terjemahan Kitab Al-Asrar Persia. Jangan melankolik pula kepada “Satria Piningit”, sebab posisinya selalu “piningit”: tersembunyi. Begitu ia muncul, bukan “piningit” lagi. Pun Ratu Adil, sebab di peradaban Demokrasi, Raja dan Ratu itu halusinasi. Ratu Adil duduk kesepian di singgasana tersembunyi di dalam hati nuranimu sendiri.

Mungkin secara simbolik masih bisa dimaknai term Kolobendu Kolosobo. Joko Linglung putra Lembu Peteng Ajisoko. Jumeneng “Petruk Dadi Ratu”. Meresmikan secara total Globalisasi, dengan menyempurnakan Kapitalisme Global. Goro-goro, letusan-letusan, hingga Perang Saudara. Kemudian “Wong Jowo Kari Separo, Cino Kari Sakjodo, Londo Gela-gelo”. Yang dimaksud Jowo bukan Suku Jawa, melainkan lingkup kebhinnekaan yang beribu kota di Pulau Jawa. “Kari Separo”. Tinggal separuh. Bisa badan atas saja atau badan bawah saja. Bisa lelaki saja dan perempuan saja. Bisa tinggal separuh nilai asli dan kepribumiannya. Tapi yang jelas yang tinggal separuh, tak punya kelengkapan untuk melanjutkan sejarah.

Yang meregenerasi dan berpopulasi adalah yang “sejodo”. Lengkap ada lelaki ada perempuan. Sejodo tidak sama dengan dua orang. Bisa seratus juta orang, yang penting sejodo lelaki dan perempuan. Adapun “Londo Gela-gelo”, cukup duduk di kursi, pegang remote control, yang sudah didesain sejak hampir semilenium silam dan fixing-nya di abad 18.

Bagi Ummat Islam, ada kalimat-kalimat jawaban untuk itu semua, tetapi saya bukan siapa-siapa di tengah kalian semua, sehingga perkenankan saya menyimpannya. *****

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image