Wedang Uwuh (5)

Rewel Ngreweli, Poso Masani

Kedaulatan Rakyat, 15 November 2016

Mungkin anak-anak ini belum pernah mendengar secara persis bahwa media yang ndawuhi untuk melanjutkan Mbah Kayam dan Mbah Bakdi adalah media cetak atau koran yang paling senior di Republik ini. Jangan bilang ini koran tertua, sebab urusannya tidak muda tidak tua, melainkan dewasa.

Dunia media, pers, jurnalisme, jurnalistik, informasi dan komunikasi adalah dunia kedewasaan, kematangan, keseimbangan. Karena yang dipanggulnya adalah kejernihan, kebenaran, obyektivitas, transparansi, kebaikan dan kecerahan. Apalagi goalnya adalah keadilan dan kecerahan sosial.

“Tapi kenyataan dunia media sekarang apa kayak gitu, Mbah”, Pèncèng protes, “yang saya ketahui dan alami banyak yang sebaliknya: ketidakdewasaan informasi, ketidakseimbangan sikap, keberpihakan kepada salah satu kutub atau sisi…”

“Jangan cari perkara, Cèng!”, saya menegur.

“Sejauh yang saya amati”, tapi Gendon menambahi pula, “media tidak lagi berperan sebagai kontrol sosial, tidak berfungsi sebagai penyeimbangan kehidupan, bahkan makin banyak lembaga pers yang menjadi alat kekuasaan”

“Ayo, Beruk, kamu juga jangan kalah…”, saya mem-bombong. Dan saya tahu mereka pasti juga tahu kalau dibombong. Mereka cukup terlatih memahami detail antawacana, retorika, ushlub, balaghah, tikungan makna, nada, nuansa, yang tersurat maupun yang tersirat.

“Nggak kok Mbah”, kata Beruk, “saya kurang banyak memperhatikan media-media manual. Sekarang kan era IT dan medsos. Setiap orang bisa bikin koran sendiri-sendiri, menentukan isinya semau-maunya, tidak dipertimbangkan dengan matang benar salahnya, baik atau buruk akibatnya. Fitnah atau ekspressi ngawur bisa kapan saja diterbitkan. Lempar batu, lempar api, lempar krakal atau tinja dan apa saja kapan saja sambil jongkok di WC juga bisa. Ini era rimba dengan hukum belantara….”

“Bagaimana kalau kamu saja yang melaksanakan dawuh untuk menulis seperti Mbah Kayam dan Mbah Bakdi?”, saya memotong.

Pèncèng tertawa. “Ah, jangan neko-neko to Mbah..”

“Sekarang giliran kaum muda. Kan Mbah sudah hampir 20 tahun tidak menulis di media”

“Tidak menulis kan tidak berarti tidak bisa menulis”,  Pèncèng ngeyel terus, “dan hampir 20 tahun tidak nulis di media kan itu salahnya Mbah sendiri. Banyak orang bilang Mbah orangnya rewel…”

Waji’an tenan kamu ini, Pèncèng. Kamu kan sudah tahu alasan Mbah kenapa tidak menulis di media nasional mulai hari kedua Pak Harto lengser. Hanya media nasional lho, bukan media lokal. Juga Simbah nonton teve hanya yang lokal lho, tidak yang nasional swasta. Termasuk kalau dimintai bantuan apa-apa, masalahnya harus yang lokal, Kabupaten ke bawah…”

“Benar kalau gitu orang-orang itu. Simbah memang rewel…”

“Simbah mungkin memang rewel, tapi kan ndak ngreweli

Pèncèng tertawa. Kalau yang itu saya suka Mbah. Saya pakai untuk menjawab banyak teman soal misuh: “Mungkin kadang saya misuh, tapi kan ndak misuhi…”

Tiba-tiba Gendon bersuara lagi. “Saya juga senang cara berpikir itu”, katanya, “Sejak Ramadlan kemarin saya tidak poso, tapi masani. Tidak puasa, tapi mempuasai”, Gendon tertawa gembira dan geli sendiri, “senang betul saya pada teknologi makna dalam bahasa Jawa. Kalau bahasa Arab, Inggris atau lainnya, masani, misuhi, ngreweli dan banyak idiom lainnya itu tidak bisa pakai satu kata, karena tidak ada polanya. Harus diterangkan dengan sejumlah kata keterangan: berpuasa untuk, rewel kepada, misuh kepada…”.

Pèncèng ngeyel terus, “dan hampir 20 tahun tidak nulis di media kan itu salahnya Mbah sendiri. Banyak orang bilang Mbah orangnya rewel …”