Catatan Sinau Bareng 70 Tahun Desa Condongcatur, Balai Desa Condongcatur 13 Desember 2016

Ngaji Manajemen Desa-Kota atau Kota-Desa

Desa Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta sedang punya hajat. Yaitu memeringati hari jadinya yang ke-70. Sepanjang bulan Desember ini, deretan mata kegiatan telah terjadwal. Malam ini adalah malam spesial karena pemerintah desa menggelar Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Tujuannya untuk mengajak warga masyarakatnya untuk bersyukur atas usia 70 tahun desa ini, sekaligus menambang ilmu dan wawasan agar masa depan Condongcatur dapat dihadapi dengan ilmu yang memadai.

Foto: Adin.

Tentu ada alasan tersendiri mengapa Cak Nun dan KiaiKanjeng. Warga masyarakat Condongcatur dalam jumlah ribuan telah bersiap sejak usai Isya’. Terutama ibu-ibu jamaah pengajian yang tampak sendiri karena mengenakan seragam. Masyarakat dan jamaah tak hanya yang ada di halaman balai desa, tetapi juga yang di gedung serbaguna, pendopo balai desa, dan yang berada di luar pagar. Semuanya mancep untuk menikmati kebersamaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Desa Condongcatur adalah desa yang hampir tak tampak desa karena letak sebagian wilayahnya ada di jalur ringroad utara Yogyakarta yang secara fisik dan sehari-hari tak lain berwujud kota. Lalu lintas jalan-jalannya yang semakin padat sebagaimana tempat-tempat lain di Yogyakarta, menjamurnya tempat-tempat kuliner, berkembangnya kelas kos-kosan para mahasiswa, perumahan-perumahan, dan lain-lain yang merupakan ciri fisikal sebuah kota. Kantor Kelurahan dan balai desa ini pun berada di simpang empat setiap hari terutama pada peak hours sangat padat oleh antrean mobil dan motor.

Kapan Condongcotur akan terlihat wajah desanya? Salah satunya malam ini di pertemuan Sinau Bareng ini. Bagaimana bisa? Kehadiran mereka yang sangat banyak dalam kebersamaan tak mungkin terjadi tanpa adanya semangat keguyuban dan komunalitas yang menjadi ciri desa. Ibu-ibu kompak dalam shalawatan, yang qiroah juga bagus, dan fenomena-fenomena lain yang menggambarkan masih utuhnya nilai-nilai desa.

Oleh karena itu, pada bagian awal Cak Nun memperkenalkan pemetaan melalui pertanyaan: Condongcatur ini desa-kota atau kota-desa? “Sewaktu saya masuk ke Condongcatur tadi, saya was-was, karena dianggap desa kok kota, kota tapi kok ya desa. Tetapi setelah di sini, saya jadi yakin dan jelas, bahwa di Condongcatur sngat kuat nilai-nilai desanya,” tegas Cak Nun. Selanjutnya, Cak Nun menguraikan bahwa desa seperti Condongcatur ini membutuhkan manajemen yang komprehensif bagi pemerintah dan birokrasinya.

Foto: Adin.

Desa-kota itu titik beratnya adalah kota. Kemajuan materialisme, ekonomi, fisik, gedung-gedung menjadi ciri-cirinya. Kota bisa juga ditandai oleh kemajuan teknologi, alias tingginya ijtihad. Desa memiliki gaya hidup yang masih bebrayan, komunal, dan srawung. Sedangkan kota itu, seperti di luar negeri, sangat minim interaksi komunal bebrayan. Di Indonesia, sekota apapun, tetap saja orang-orangnya punya dorongan untuk komunal. Tetap ada yang namanya RT RW, masjid-masjid ramai, dan lain-lain.

Bagi Cak Nun, dalam praktiknya desa Condongcatur hendaknya punya manajemen sehingga tahu kapan dan dalam urusan apa ia lebih merupakan desa-kota atau kota-desa. Jadi dinamis sifatnya. “Kalau melihat hedonisme kota dan gejala-gejala lain, tentunya tak bisa berkumpul sebanyak ini. Saya senang masuk Condongcatur karena masih berpegang teguh pada tali Allah, seperti terlihat malam ini.” Cak Nun mengingatkan Pak Lurah beserta jajarannya, bahwa Condongcatur itu posisinya strategis dan garda depan masa depan Indonesia. Sebab, Condongcatur itu berhadap-hadapan dengan modernisasi. “Kalau Condongcatur lulus, maka ‘sekti’. Modernisasi dapat memudarkan tali-temali kebudayaan. 70 tahun Condongcatur ini tampaknya menang. Condongcatur bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain yang cepat atau lambat akan menghadapi modernisasi.” (hm/adn)

Sewaktu saya masuk ke Condongcatur tadi, saya was-was, karena dianggap desa kok kota, kota tapi kok ya desa.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image