Catatan Sinau Bareng Harlah LP Nurul Islam, Pongangan Manyar Gresik 8 Desember 2016

Ngaji Dilema Guru Dalam Mendidik Di Zaman Penuh HAM

Perjumpaan dengan masyarakat berlangsung terus. Kali ini Cak Nun dan KiaiKanjeng bertemu ribuan orang yang berkumpul di Lapangan Desa Pongangan Manyar Gresik. Pertemuan ini diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Nurul Islam yang berada dalam lingkungan pendidikan Ma’arif NU. Yayasan Nurul Islam mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka peringatan harlah tiga unit pendidikan yang diselenggarakannya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Ada tema khusus yang mereka ingin Cak Nun turut memberikan pemahaman, yaitu kondisi di mana para guru menghadapi kecemasan karena kalau sedikit tegas akan dianggap melakukan kekerasan, melanggar HAM, dan bukan tidak mungkin dilaporkan ke polisi oleh orangtua atau wali murid, seperti pernah terjadi beberapa waktu lalu di sejumlah daerah sebagaimana dilansir media massa. Guru menghadapi dilema dan tidak punya perlindungan hukum. Maksud hati men-treatment agar anak-anak disiplin, baik, dan bisa turut menciptakan suasana belajar yang kondusif, tetapi malah dianggap melakukan kekerasan.

Dari ruang transit, berjalan sekitar seratus meter menuju lokasi acara, Cak Nun menyaksikan jamaah sudah sangat memenuhi lapangan. Di antara mereka adalah para guru, wali murid, dan praktisi pendidikan. Saat berjalan itu, yang berada di pinggir jalan dan memungkinkan mendekat ke rombongan Cak Nun, semua mencoba merangsek untuk ikut menyalami Cak Nun. Cak Nun tak keberatan. Sambil langkah ke panggung diberi ruang, satu per satu mereka dilayani, sekaligus sudah pada tempat dan tugasnya teman-teman panitia untuk menertibkan atau merapikan. Tak boleh disterilkan penuh. Tak boleh mereka dihalangi. Mereka hanya perlu diyakinkan bahwa mereka bisa salaman. Tak perlu rebutan. Ini sebuah view kecil dari Maiyah dalam menciptakan contoh budaya baru hubungan antara masyarakat dengan kiai.

Walaupun, situasi seperti itu bagi Cak Nun menimbulkan beban tersendiri di kedalaman hati beliau, yaitu rasa pekewuh dan malu kepada Kanjeng Nabi. Dikerubungi orang begitu rupa. Untuk itulah, setelah mengungkapkan rasa pekewuh itu, para jamaah diajak untuk terawal kalinya sebelum acara masuk ke muatan tematik yang dimaksudkan, untuk bersama-sama melantunkan shalawat Nariyah. Ini sekaligus doa dan upaya meyakinkan jamaah bahwa yang kuat bukan pemerintah atau negara, melainkan rakyat.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Lembaga pendidikan Nurul Islam ini memiliki tiga sekolah, yaitu Madrasah Ibtidaiyah yang kali ini ultah ke-63, MTs ultah ke-22, dan SMK ultah ke-2. Kompleks sekolahnya berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan antara daerah Bunder dengan Gresik Kota. Sekolah-sekolah ini dikhususkan untuk anak-anak yang kurang beruntung. Malam ini Yayasan menyelenggarakan Sinau Bareng Cak Nun dengan muatan kebutuhan dan tema spesifik, namun ada kaitannya dengan akibat pilihan peradaban adopsi, ada hubungannya dengan penjajahan global melalui cara berpikir, dan segi-segi lain yang kompleks. Malam ini Cak Nun menguraikan terlebih dahulu pemahaman kontekstual ‘Surat Al-Baqarah’ untuk menjelaskan gambar besar nasional sebagai wadah dalam memahami soal atau isu yang sedang menjadi pemikiran yayasan Nurul Islam. (hm/adn)

...kondisi di mana para guru menghadapi kecemasan karena kalau sedikit tegas akan dianggap melakukan kekerasan, melanggar HAM....

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image