Daur (156)

IT Jannati

Ta’qid : “Agama disebut Agama karena sumber otoritas dan informasinya adalah Tuhan sendiri. Bukan manusia atau siapapun lainnya. Kalau manusia yang membikinnya...”

Sebenarnya Markesot diam-diam merasa sedang memaksakan diri dengan othak athik gathuk-nya. Tetapi ia nekad meneruskannya.

Information Technology. I, yang pada posisi lain menjadi A, U, E atau O. Kemudian T. Bangsa yang Markesot berada padanya tidak mendomestikkannya menjadi TI, Teknologi Informasi. Melainkan menuliskan persis seperti aslinya: IT, dan membacanya sama dengan sumbernya: AiTi. Kalau ‘I’nya boleh diganti ‘Y’ : AyTi.

Unsur dasarnya sama persis dengan “Ayati” atau “Ayat”, bergantung cembungan dan cekungannya. Bagi mereka yang mempelajari transliterasi dalam khazanah sejarah, IT dengan Ayat jauh lebih akurat substansinya dibanding “To Fu” dengan “Tahu”, atau “Java (script)”, “Hawa” dengan “Jawa”.

Ayat adalah manifestasi Firman Tuhan. Ayat adalah transkripsi berita-berita dari Allah. Dan Ia memilih, menentukan sejumlah manusia untuk ditugasi menjadi pembawa berita. Gelarnya Nabi. Naba` adalah berita, Nabi petugas yang menyampaikannya. Tentu saja kepada Jin dan manusia. Tidak kepada kambing dan keledai.

Peradaban ummat manusia menyiapkan dan menyongsong maksimalisasi penyebaran berita dengan IT. Manusia sudah semakin sanggup menguak rahasia dan kulit-kulit ari keajaiban rohani. Penyampaian berita yang dulu dicapai melewati waktu berbulan-bulan, berminggu-minggu, atau sekurang-kurangnya berhari-hari, sekarang segala berita sampai dalam sekejap kepada siapapun yang memerlukannya.

Semua penduduk Bumi bisa saling menyampaikan informasi seakan-akan sekian miliar manusia itu sedang berhadapan muka di sebuah ruangan kecil. Bahkan tibanya berita itu jauh lebih cepat dibanding kalau disampaikan secara manual dan “copy darat” dengan lisan. Peradaban teknologi manusia sudah menaklukkan beberapa cawuk dari jagat keajaiban roh Allah yang memperjalankan Malaikat-Nya dengan speed yang satu harinya sepadan dengan lima puluh ribu tahunnya manusia di Bumi.

Berita yang dulu tiba dengan sangat lambat, sekarang sampai dengan sangat cepat. Informasi yang dulu tak bisa sampai, sekarang pasti dicapai. Kabar yang dulu mustahil disampaikan, sekarang pasti bisa disampaikan, bahkan cukup dengan menyentuh permukaan benda segenggam tangan, sambil tiduran atau jongkok buang air besar.

Ini adalah puncak Nubuwah. Prestasi sangat tinggi Nubuwah Abad 21. Ini adalah impelementasi paling canggih dari tugas ke-Nabi-an, dalam hal daya-sentuhnya ke hampir seluruh ummat manusia. Ini adalah rahmatan lil’alamin yang sangat nyata dan jelas gamblang serta terang benderang.

Bagaimana Markesot tidak tenggelam di gelimang air matanya sendiri dan betapa mungkin Saimon bisa bertahan untuk tidak meleleh menjadi cairan: ketika manifestasi Nubuwah, ketika IT dan ICT mencapai puncak sofistikasinya – sumber beritanya, pabrik informasinya, yakni alam pikiran manusia sedang sesat-sesatnya, sedang rusak-rusaknya, dan kandungan hati manusia sedang kotor-kotornya, sedang comberan-comberannya.

Padahal sesungguhnya dengan teknologi dan kesadaran IT, manusia dibukakan peluang rohaniahnya untuk pada akhirnya menemukan fakta Sorga: IT Jannati.

Para Nabi menyampaikan berita dari Tuhan segala sesuatu yang manusia tidak mampu mencarinya sendiri. Manusia dibekali akal dan diperintah untuk mencerdasi dan mengijtihadi kehidupan, tetapi ada batas pengetahuan dan ilmu yang ia tak mungkin menguaknya. Maka Tuhan mengirim para Nabi untuk menginformasikan hal-hal spesifik yang hanya Tuhan sendiri yang mengetahuinya, namun sebagian dipinjamkannya untuk diketahui oleh manusia. Itulah muatan utama satuan nilai yang disebut Agama.

Agama disebut Agama karena sumber otoritas dan informasinya adalah Tuhan sendiri. Bukan manusia atau siapapun lainnya. Kalau manusia yang membikinnya, mendirikannya, memuatinya dengan nilai-nilai, kemudian memberinya nama – itu bukan Agama. Melainkan mungkin gerakan kebudayaan, buku filosofi, lembaran ilmu, organisasi massa, kelompok sosial, partai politik, klub motor, paguyuban memancing dan lain-lainnya yang posisi eksistensialnya sama sekali tidak bisa disamakan dengan Agama.

search cart twitter facebook gplus youtube ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra