Hafalan Sejarah Kaku

Ummat Nuh kontemporer sangat PD melakoni perjalanan sejarah yang sedang berlangsung hari ini. Keyakinan bahwa sejarah itu berulang benar-benar sudah nglothok di kepala. Amat disayangkan memang, memasuki era digital manusia pun men-‘digital’. Sangking digitalnya, kemampuan analog manusia dalam menganalogikan apa yang ia pahami dan yakini tentang sejarah menjadi sedemikian kaku.

Bahwa sejarah Ummat Nuh mungkin akan berulang, begitu kira-kira prediksi di benak banyak dari kita. Maka apa yang terjadi ketika puncak kelaliman tercapai dan momentum itu datang? Segera selamatkan diri dengan cara masuk ke kapal besar. Padahal, betulkah cara berlindung dari makin mengkhawatirkannya kondisi zaman ini adalah dengan menyelamatkan diri masuk ke dalam kapal? Sebab di antaranya karena kekakuan dalam menghafal dan memahami sejarah, maka kapal besar yang disediakan bagi Ummat Nuh kabarnya sudah berisi begitu banyak orang dengan begitu banyak motif di antara masing-masing mereka.

“Ada yang bergabung karena iman dan taqwanya. Ada yang ikut Nabi Nuh demi keselamatan teknis dari banjir. Ada yang turut naik kapal untuk merusak kapal dari dalamnya. Ada yang kufur dan pekerjaannya menyindir dan menyakiti Nabi Nuh, tapi ketika banjir datang ia menjilat-jilat Nabi Nuh agar diperkenankan ikut di kapal. Ada yang kufur tapi naik kapal. Namun sesudah berada di dalam kapal ia menjadi beriman. Ada juga yang bahkan mengorganisir orang untuk naik kapal padahal ia seorang yang kufur, dan sesudah sampai di kapal ia merekayasa situasi untuk merebut kendali nahkoda dari tangan Nabi Nuh.” – Daur 291

Primer-sekunder menjadi terbolak-balik. Yang primer itu masuk kapal, bisa mengkapling space, syukur dapat bantal guling empuk di sana. Bahwa di dalam kapal itu Nuh ada di sebelah mana, di geladak atau di lunas, nyaman atau kepanasan, ah, itu sih tidak penting. Itu nomer 17.

Sampai-sampai kita semua kecele, sebab tidak ada yang mencari-cari, eh lah ternyata tidak ada yang sadar bahwa Nuh tidak berada di dalam kapal.

Kalau begitu situasinya, apakah kita masih yakin bahwa atas segala upaya yang kita lakukan dengan merapat menuju kapal adalah jaminan bahwa kita akan selamat? Mana sebetulnya yang bisa membuat selamat? Apakah ummat yang berada di kapal atau ummat yang terus membersamai Nuh?

Siapa yang menyangka, ternyata lakon sejarah yang terjadi tidak sebagaimana kekakuan hafalan kita. Siapa yang menyangka kalau ketika menjelang ‘banjir bandang’ datang, Nuh justru tidak berada di kapal. Ia bukannya lari ke kapal, ia justru lari ke gunung.

Loh kok? Bukannya gunung setinggi apapun di dalam sejarah yang kita pahami pasti gunung itu tenggelam jua? Kaku! Siapa yang menyangka kalau justru jalan selamat adalah menuju puncak gunung.

Sebab di puncak gunung itu ada helipad dan akan ada helicopter yang segera menjemput di sana. Ketika kabar mengenai helipad ini mulai menjadi desas-desus, situasi di dalam kapal yang posisinya masih di atas daratan itu mulai panik-panik sedap. Baru mereka kemudian gotak, kelimpungan mencari di mana ini Nuh berada.

Loh kok? Bukannya gunung setinggi apapun di dalam sejarah yang kita pahami pasti gunung itu tenggelam jua? Kaku! Siapa yang menyangka kalau justru….