Reportase Kenduri Cinta Maret 2016

Fiqih Tanpa Aqidah, Bumi Tanpa Langit

Menjelang pukul sepuluh, Cak Nun, Kiai Muzammil dan Ian L Bets tampak sudah hadir di Kenduri Cinta. Untuk memberi jeda, kelompok Kosakata menampilkan sebuah karya musik puisi.

Guna mengantarkan forum menuju diskusi utama, Fahmi menyampaikan pointer-pointer hasil diskusi sesi prolog sebagai landasan untuk diskusi selanjutnya. Setelah menyapa dengan assalamu ‘alaikum, dan sebelumnya mendoakan agar anak cucu dan jama’ah Maiyah dijaga oleh Allah, Cak Nun mengawali forum dengan mengutip salah satu ayat dalam Al Qur’an, Al Hasyr ayat 18; Yaa ayyuhalladziina aamanu ittaqullaha wa-l-tandhzur maa qoddamat li ghoddin, wa-t-taqullaha innallaha khobiirun bimaa ta’maluun.

Ayat ini disampaikan kembali oleh Cak Nun untuk mengantarkan diskusi menuju tema Kenduri Cinta. Dari ayat ini Cak Nun menekankan bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk terus melihat ke depan, jangan tidak pernah melihat ke depan. Tetapi, untuk memiliki kejernihan penglihatan ke depan, kita diharuskan untuk terus menerus membersihkan diri, salah satunya adalah dengan formula taqwa kepada Allah. Dan, taqwa kepada Allah itu tidak harus kita persulit bagaimana caranya, tetapi cukup kita jadikan Allah sebagai pertimbangan utama dalam kehidupan dan dalam setiap pengambilan keputusan kita. Setelah itu, kita melihat ke depan, dan kita akan menemukan kejernihan serta kerendah hatian yang nomor satu.

Pengetahuan bisa melahirkan kesombongan. Dan, ketidaktahuan melahirkan kerendah hatian. Daripada anda tahu kemudian menjadi sombong, mending anda tidak tahu tapi akibatnya anda menjadi rendah hati dan tawadhlu kepada Allah.

Dalam ayat tersebut terdaat dua kali pengulangan kata taqwa. Ini menandakan bahwa meskipun sudah memiliki fondasi taqwa sebelumnya, saat kita sudah memproyeksikan, mempelajari apa yang sudah kita lewati sebagai bekal untuk melihat masa depan, kita tetap menggunakan lagi fondasi taqwa untuk memperkuat keimanan kita bahwa Allah yang memiliki hak untuk memberi tahu kita, karena hanya Allah yang kelak pula akan memberi tahu kita tentang apa-apa yang telah kita lakukan.

Kenduri Cinta Maret 2016
Source: KenduriCinta.com.

Dari ayat tersebut, Cak Nun merefleksikan bahwa Allah akan memberikan kita ujian-ujian, dimana satu-satunya fondasi yang paling kuat agar mampu melewati ujian tersebut adalah dengan ketaqwaan kepada Allah. Pada ayat selanjutnya Allah memperingatkan kita agar tidak menjadi orang yang lupa kepada Allah sehingga juga menjadi lupa kepada diri sendiri.

Andaikata manusia yang lupa kepada Tuhannya sebagai asal-usul atau sangkan-paran­ dirinya itu tidak membuat lupa terhadap dirinya mungkin tidak menjadi persoalan, tetapi pada faktanya ketika orang lupa kepada Tuhannya mereka otomatis juga lupa akan dirinya dan lupa darimana dia berasal. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang yang lupa kepada Tuhannya dan kemudian lupa terhadap dirinya dan asal-usul dirinya adalah termasuk orang yang fasiq.

Ketika kita tidak ilmiah terhadap diri kita, ketika kita tidak objektif terhadap kehidupan kita, ketika kita tidak jernih dan tidak jujur terhadap diri kita, maka kita termasuk orang yang fasiq. Lalu di dalam ayat selanjutnya baru ditentukan; laa yastawii ashaabu-n-nari wa ashaabu-l-jannah.

Cak Nun kemudian menceritakan sedikit proses lahirnya tema Kenduri Cinta bulan ini. “Fiqih tanpa Aqidah, Bumi tanpa Langit”, yang langsung diberikan oleh Cak Nun.

Salah satu landasan lahirnya tema ini adalah bahwa Kiai Muzammil juga sedang menyusun sebuah buku berjudul Fiqih Al Muzammili yang diharapkan menjadi sebuah rujukan Fiqih yang baru. Kalau anda baca, fiqih tanpa aqidah itu mungkin urusan fakultatif. Tapi, kalau Bumi tanpa Langit, ini urusan habis-habisan.

Selanjutnya Cak Nun bercerita sedikit tentang Ian L Bets. Ian sendiri sebenarnya sedang bertugas di Kuala Lumpur, Malaysia, kemudian menyempatkan diri untuk mampir ke Jakarta dan hadir di Kenduri Cinta sebelum kembali ke Inggris.

Sebelum mempersilahkan Ian L Bets, Cak Nun memberikan sebuah landasan bahwa apa yang akan disampaikan oleh Ian L Bets ini harus menjadi kuda-kuda bagi kita semua, sehingga kita mampu mengkondisikan diri kita untuk menyikapi semua konstelasi yang ada di sekitar kita. Apakah Pilkada Jakarta harus menguras energi kita, apakah nanti pemilu 2019 juga harus menguras energi dan pikiran kita, dari apa yang akan disampaikan oleh Ian L Bets ini Cak Nun mengajak jama’ah untuk benar-benar mempersiapkan diri agar jangan salah mengambil keputusan saat menyikapi persoalan-persoalan yang mengemuka di sekitar kita. Paling tidak, Cak Nun mengharapkan jamaah mampu menentukan skala prioritas terhadap hal-hal yang dihadapi sehari-hari .

Cak Nun pun mengutip pernyataan Kiai Muzammil, menurut Kiai Muzammil selama 14 tahun masyarakat umumnya dan ummat Islam khususnya tidak memahami betul Ushulul Fiqih. Padahal, Fiqih sendiri lahir dari Ushulul Fiqih, dan Ushulul Fiqih lahir dari Filosofi dan Filosofi itu sendiri lahir dari Aqidah. Satu hal yang dicontohkan oleh Kiai Muzammil, dalam pemahaman Fiqih saat ini jika seseorang sholat memakai baju hasil curian, maka sholatnya dianggap sah menurut Fiqih yang difahami saat ini. selanjutnya, jamaah diajak untuk memperlebar pemahaman soal “pakaian” dalam wilayah yang lebih luas. Seperti, ketika seseorang sholat di sebuah Masjid yang dibangun atas sumbangan salah seorang koruptor, yang itu pun masih difahami sebagai sholat yang sah. Belum lagi persoalan-persoalan ketika sebuah organisasi masyarakat Islam menerima dana bantuan dari pihak-pihak asing yang memiliki tujuan untuk menghancurkan Islam. Dari hal-hal yang disampaikan oleh Cak Nun itu, ternyata masalah Fiqih bukan hanya persoalan ibadah mahdhloh, tetapi juga menyangkut persoalan sosial politik yang menjangkau wilayah internasional.

Cak Nun menjelaskan, bahwa sekarang ia sedang memberi kunci kepada anda. Kunci yang dimaksudnya adalah salah satunya dari tulisan-tulisan Cak Nun yang dipublikasi melalui Caknun.com akhir-akhir pada rubrik DAUR. Cak Nun menyarankan kepada jamaah agar mengambil saja kunci-kunci itu, dipegang, dan berdo’a supaya kelak dipertemukan dengan lemari yang cocok dengan kunci-kunci itu. Perkara nanti anda tidak dipertemukan dengan lemarinya juga tidak masalah. Kalau saya, tentu saya ambil semua kunci itu. Apa yang Allah kasih, saya ambil. Bahwa saya baru tahu gunanya lima tahun lagi, bukan masalah. Karena, dengan saya mengambil pun sudah menyenangkan hati pihak yang memberi kepada saya.

Cak Nun kemudian mempersilahkan Ian L. Bets untuk menyampaikan materinya.

Jaman Wis Akhir

Ian L Bets membuka sesinya dengan kalimat “jaman wis akhir”, sebuah nomor KiaiKanjeng di album Berhijrah Dari Kegelapan. Ian mengajak jamaah kembali mengkajinya. Mungkin bukan jaman wis akhir. Mungkin jaman perubahan. Banyak asumsi-asumsi yang dipegang sekarang adalah dalam keadaan perubahan.

Secara geografis posisi Eropa berubah sejalan dengan gejolak-gejolak politik yang ada di Uni Eropa, begitu juga yang terjadi di Timur Tengah. Dan, yang lebih dahsyat dari perubahan geografis politik ini adalah perubahan cuaca dan iklim.

Perubahan iklim dan cuaca yang dihadapi dunia dalam beberapa tahun ke depan adalah peristiwa yang akan lebih dahsyat dari sekedar konstelasi geopolitik saat ini. Berdasarkan penelitian yang ada, menurut Ian, Indonesia adalah negara yang pertama kali akan mengalami dampak perubahan iklim itu. Suhu bumi yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir akan terus bertambah dan secara otomatis akan berdampak pada sektor ekonomi, pertanian, industri dan kesehatan tentunya.

Lebih lanjut Ian memaparkan bahwa sejak tahun 2009 sudah banyak sekali tesis-tesis lahir dari kampus-kampus di Amerika dan Eropa yang menyimpulkan bahwa perubahan iklim yang akan dihadapi dunia dalam beberapa tahun kedepan bersifat permanen dan irrevesible (tidak dapat kembali seperti semula). Perubahan seperti ini berada diluar kontrol manusia. Dan, di Indonesia, berdasarkan penelitan yang sudah dilakukan, daerah Manokwari, Papua Barat, adalah daerah yang pertama kali akan mengalami dampak perubahan iklim ini pada tahun 2022, kemudian berlanjut ke Sulawesi, Kalimantan hingga Jawa dan Sumatera. Dan situasi ini akan dirasakan oleh semua negara-negara yang berada di Garis Khatulistiwa.

Dampak yang akhir-akhir ini dirasakan oleh masyarakat menurutnya terjadi pada sektor pertanian, yakni bagaimana suhu bumi setiap meningkat 1 derajat celcius akan berdampak pada sekian persen lahan pertanian mengalami gagal panen. Fenomena El Nino dan La Nina yang mempengaruhi hasil panen merupakan salah satu dampak awal dari pengaruh perubahan iklim ini, dan di Indonesia telah terjadi lebih sering dari tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan iklim ini juga mengakibatkan dampak malaria dan demam berdarah akan lebih luas lagi wilayahnya akibat perubahan suhu. Belum lagi dampak sulitnya mata air yang saat ini sudah dialami oleh beberapa negara di Afrika. Di beberapa  negara di Afrika, bahkan penduduknya terpaksa memilih untuk berpindah tempat tinggal menuju daerah yang memiliki kemungkinan untuk bercocok tanam.

Lebih jauh lagi, seperti apa yang sudah disampaikan oleh Cak Nun sebelumnya, bahwa kita harus mampu menyusun skala prioritas terhadap persoalan-persoalan yang kita hadapi. Mana yang harus menjadi urusan primer dan mana yang sekunder. Mungkin, ideologi-ideologi yang kita kenal sekarang dalam bidang politik, seperti kiri dan kanan, tidak akan menjadi persoalan yang penting lagi seperti sebelumnya. Karena persoalan perubahan iklim ini akan menjadi persoalan yang lebih penting.

Jembatan Iman

Sedikit menanggapi pemaparan Ian, Cak Nun mengibaratkan bagaimana seorang supir taksi kemudian mendapatkan penumpang. Ketika seorang supir taksi menyupir mobilnya, ada rentang jarak antara dia keluar dari garasi hingga mendapatkan penumpangnya. Jarak itulah yang kita sebut sebagai Iman. Karena, supir itu tidak tahu pasti dimana ia akan dicegat oleh penumpangnya. Jadi jembatan menuju ketidakjelasan itu hanya satu, yaitu Iman.

Iman itu sebenarnya urusan langit. Kalau bumi sudah kehilangan langit, dan bumi menjadi tanpa langit, kita akan lebih parah lagi. Lanjut Cak Nun yang kemudian menjelaskan bahwa persiapan mental dan ketangguhan fisik adalah hal utama yang harus kita persiapkan dengan matang guna menghadapi perubahan iklim seperti yang sudah dijelaskan oleh Ian.

Disamping ada perubahan suhu bumi, alam, cuaca, panas dan lain sebagainya, sekarang ini kita juga berada di tengah satu konstelasi yang sangat dinamis dan tidak menentu, yang bisa berubah setiap saat dari alamnya manusia. Jadi, pikiran dan hati manusia telah melahirkan pendapat, ide, gagasan, mimpi yang kemudian dirumuskan menjadi ideologi-ideologi, lalu dijadikan sebagai lembaga-lembaga, ada biayanya, dan akhirnya memiliki agenda politik tertentu.

Dulu kita masih simpel, hanya kanan dan kiri, sosialisme dan kapitalisme. Dan akhirnya sekarang ini Islam sendiri sudah mengalami terorisme yang luar biasa. Jadi Islam sendiri sudah menjadi korban terorisme alam pikiran dan stigma-stigma yang bermacam-macam, sehingga kemudian sebagian orang Islam benar-benar menjadi teroris. Kalau anda saya tuduh mencuri setiap hari, maka minggu selanjutnya anda akan benar-benar mencuri. Jadi ketidakbenaran yang konstan akan melahirkan kebenaran. Kejahatan yang terus menerus akan melahirkan anggapan bahwa hal itu adalah kebenaran.

Dengan merefleksi kepada beberapa kisah-kisah Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, Cak Nun menekankan bahwa keutuhan keluarga adalah hal paling utama yang harus dijaga. Zaman kaum ‘Ad, zaman Nabi Nuh, zaman Nabi Luth, atau zaman Nabi Sholeh sesungguhnya terdapat banyak sekali persoalan tetapi melahirkan satu produk yang sama yaitu tidak utuhnya keluarga. Maka nomor satu yang harus anda perhatikan tentu adalah utuhkan keluarga anda. Begitu ada ancaman bahwa keluarga anda tidak utuh, bangun kembali keluarga anda. Keluarga itu nomor satu. Tanpa ada keluarga tidak akan ada peradaban, jelas Cak Nun.

Jika kita tarik ke masa dimana Rasulullah SAW masih hidup, manusia dapat sengat jelas mengidentifikasikan mana kafir mana muslim dan mana munafik. Orang-orang yang hidup di zaman itu mampu menegaskan bahwa Umar Bin Khattab masuk dalam kategori yang mana, Abu Jahal termasuk golongan yang mana, Abdullah Bin Ubay termasuk pihak yang mana. Namun saat ini kita mengalami kesulitan untuk menentukan mana yang Umar bin Khattab, mana yang Abu Jahal dan mana yang Abdullah bin Ubay.

Saat ini kita sangat sukar mengidentifikasikan karena semakin memuncaknya kemunafikan budaya, politik, akhlak, yang bahkan tingkat komplikasinya semakin rumit. Kita sudah tidak bisa memahami kenapa ada ISIS dan segala perilakunya. Kita juga sulit memahami ada orang dijatuhkan dari lantai 6. Kita sukar memahami bagaimana ada perempuan berjilbab ditembak mati bahkan direkam dan video rekamannya disebarluaskan.

Cak Nun menjelaskan, sebenarnya dalam Al Qur’an sudah dijelaskan, bahwa ketika kita bertemu dengan orang kafir, maka yang kita lakukan adalah sesuai dengan apa yang termaktub dalam Surat Al Kafiruun. Bahwa kita hanya diperbolehkan mengatakan bahwa kita tidak menyembah apa yang dia sembah, dan sesembahan kita tidak sama dengan sesembahannya.

Bahkan, Allah lebih tegas lagi di ayat lain dengan menyatakan; faman syaa’a fa-l-yu’min, waman syaa’a fa-l-yakfur, barang siapa beriman maka berimanlah, barang siapa kafir, kafirlah. Kita tidak perlu menghukum orang kafir yang kita temui apabila dia tidak menyakiti kita. Baru ketika mereka menyakiti kita, mencuri barang kita, membuat martabat kita hancur, barulah disitu kita memasuki wilayah hukum dalam Islam.

Cuma sekarang ini kita sangat sukar menentukan yang mana yang kafir, yang mana yang munafik. Kita sekarang selalu melihat secara close up. Sekarang ini masyarakat begitu mudah kagum dengan perilaku-perilaku seseorang yang sebenarnya masih sebatas close up. Kita mudah mengagumi seseorang tanpa mau mencari informasi yang lebih dalam tentang orang tersebut. Kita kagum dengan orang karena perilaku yang kita lihat. Kita kagum dengan orang tersebut karena sebelumnya kita belum pernah melihat ada orang yang mampu berlaku seperti dia.

Layaknya sebuah kompetisi, bisa jadi apa yang kita alami saat ini, entah itu dalam wilayah sosial, politik, budaya, bermasayrakat bahkan bernegara, bisa saja masih berada dalam babak penyisihan. Kita lupa bahwa masih ada babak semi final hingga final. Kita belum tahu maksud dan tujuan orang yang kita kagumi saat ini.

Setiap penipu yang datang ke rumah anda pasti bersikap sopan, pakaiannya sopan dan perilakunya juga sopan. Anda pasti setuju dengan perilakunya. Karena para penipu mesti berlaku baik di hadapan anda dan melakukan sesuatu yang mempesona bagi anda.

Kita jangan sampai lupa. Kita dikasih duit sedikit dalam rangka akan diambil seluruh rumah kita. Cak Nun pun menjelaskan bahwa apa yang kita alami tidak sesimpel seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul. Bukan berarti bahwa perjuangan kita lebih berat dari zaman Nabi dan Rasul, tetapi saat ini kita menghadapi konstelasi yang sangat rumit.

Buku Cak Nun Majalah Sabana