Markesot Bertutur di Dua Zaman

Jika diminta berbicara tentang “sejarah” Markesot, jujur saja sebenarnya saya bukan orang yang tepat. Maklumlah, pada saat “kelahiran” Markesot, saya masih duduk di bangku SMP. Belum ngeh dan mengenal Cak Nun dan Markesot. Maka, saya akan lebih banyak bertutur tentang perjumpaan pribadi dengan Markesot, plus cerita-cerita yang saya dengar dari para senior mengenai sejarah Markesot (dan buku-buku Cak Nun lainnya) dan Mizan. Kemudian, saya akan lebih berfokus pada masa kini dan (kemungkinan) masa depan Markesot, ketimbang berkutat pada masa lalu.

Saya dan Markesot

Seperti yang sudah disebutkan, pertama kali buku Markesot terbit (1993), saya masih SMP. Wajar kalau Cak Nun dan Markesot belum masuk perhatian saya. Seingat saya, perjumpaan pertama dengan Markesot adalah di tahap-tahap akhir masa SMA. Saya tidak ingat bagaimana persisnya proses perkenalan itu. Tapi sepertinya bersamaan dengan mulai tumbuhnya minat saya pada sastra, sehingga Cak Nun, terutama puisi-puisinya, mulai tertangkap radar saya.

Pertama kali membaca, jujur saja mungkin hanya 50% atau bahkan 40% isinya yang bisa saya serap. Banyak pemikiran, istilah, konteks yang maqam-nya di luar jangkauan saya yang masih berpikiran SMA zaman Orde Baru. Tapi, dari hanya 40-50% yang terserap itu, tetap saya temukan pesona Markesot. Yang pertama nyangkut tentulah candaan-candaan dan pengalaman unik yang dituturkan secara ndagel khas Jawa Timuran.  Tapi lebih dari itu, bagi saya, Markesot mampu mengajak kita memandang realitas, bukan sekadar menerima dan mengikuti. Pun memandangnya sering dari sudut yang tak kita sangka-sangka. Eksplorasinya sungguh gila-gilaan, baik dari segi bahasa maupun pemikiran. Pokoknya akrobatis. Efeknya cukup fantastis terhadap saya, anak SMA yang sedang gandrung Saint Seiya, Tiger Wong, dan Kungfu Boy.

Kalau tak salah ingat, buku Markesot adalah juga salah satu dari buku Mizan pertama yang saya baca.

Tak terlintas sedikit pun di benak saya ketika itu, bagai ditarik pusaran misterius, saya akan dipertemukan dengan Mizan, Markesot, dan Cak Nun, belasan tahun kemudian…

Mizan dan Markesot

Setelah saya bergabung ke dalam keluarga Mizan, barulah saya mulai memahami femonena Markesot secara lebih utuh. Sebagai the next generation di Mizan, saya mendengar “legenda” Markesot disebut-sebut para senior saya, generasi salaf Mizan.

Buku-buku Emha boleh dibilang menjadi tonggak atau tanda tahap baru dalam sejarah Mizan. Pada awalnya, Mizan mengkhususkan diri menerbitkan buku-buku pemikiran Islam yang bercorak akademis — kebanyakan terjemahan. Dengan terbitnya buku Emha — tepatnya yang pertama adalah Dari Pojok Sejarah, tahun 1985 — Mizan mulai memasuki ranah sosial-budaya yang lebih membumi di Indonesia.

Dan juga sekaligus tanda Mizan mulai memasuki sikap kritis. Mungkin susah dibayangkan pembaca sekarang, generasi era kebebasan informasi, tapi tulisan Cak Nun pada zaman Orde Baru tergolong sangat berani. Soal keberanian ini menyimpan sebuah cerita menarik dalam sejarah Mizan. Ketika akan menerbitkan sebuah buku Cak Nun, Mizan sempat menemukan kesulitan menyettingnya. Kenapa? Pada saat itu, setting buku belum menggunakan komputer, masih manual menggunakan mesin setting. Mizan belum punya alat itu, sehingga setiap kali mau menerbitkan buku harus mengorder ke jasa setting. Nah, para setter yang membaca naskah Emha, langsung keder, tidak berani, dan mengembalikan naskahnya ke Mizan. Berpindah-pindah, berkeliling ke semua jasa setting yang ada di Bandung, hasilnya sama. Tidak ada yang berani. Akhirnya Mizan memutuskan membeli mesin setting sendiri. Demi menerbitkan buku Emha.

Tapi toh keberanian itu berbuah manis. Alkisah, seorang kepala toko di Jakarta memasang spanduk besar mengiklankan Markesot Bertutur, sangat besar sampai-sampai menutupi seluruh muka toko, termasuk papan nama toko itu. Perbuatan nekad, karena sebelumnya tidak ada yang seberani itu. Alhasil, dia dipanggil atasannya. Bukan untuk dimarahi atau diberi sanksi, tapi dipromosikan. Karena penjualan Markesot terbilang fenomenal saat itu.

Masa Kini Markesot

Tahun 1993. Sekarang 2012. Nyaris genap 20 tahun usia Markesot. Tentu banyak hal yang sudah berubah. Apakah Markesot masih relevan? Masihkah bukunya layak diterbitkan ulang?

Yang jelas, banyak orang merindukan Markesot. Berkali-kali saya bertemu orang yang menanyakan apakah bisa membeli buku Markesot. Mizan pun termasuk yang merindukan sosok seperti Markesot. Dulu, gelanggang kepenulisan di Indonesia dipenuhi esais-esais ulung. Rasanya, kini ada kelowongan sosok esais tanguh di Indonesia, terutama yang mampu memberikan tafsiran-tafsiran sosial-budaya yang mencerahkan sambil disuguhkan secara komunikatif. Maka, selain sebagai obat kerinduan, hadirnya kembali markesot ini semoga bisa memancing tampilnya Markesot-Markesot baru.

Tentang pertanyaan relevansi Markesot pada masa kini, saya menemukan jawabannya saat mempersiapkan penerbitan ulang bukunya. Mau tidak mau saya pun membaca ulang Markesot, karena terlibat dalam proses pengecekan ulang. Dan dengan otak saya yang sekarang, mungkin 80-90% yang bisa saya tangkap.

Anehnya, meski usianya nyaris 20 tahun, buku ini kok rasanya begitu pas membidik permasalahan-permasalahan zaman sekarang. Meski tentu ada perbedaan konteks dan perubahan situasi, dalam beberapa hal hakikat permasalahannya tetap sama. Dulu yang dibahas masalah Perang Teluk, ternyata sampai sekarang Amerika tetap ugal-ugalan di sana, malah merembet ke Afghanistan dan terus-terusan ngincer Iran. Mentalitas pejabat maupun masyarakat Indonesia yang disindir Markesot juga relatif masih sama. Artinya, ada kemungkinan bahwa meskipun Markesot lahir di suatu kurun waktu dan bereaksi pada konteks situasi tertentu, pertanyaan dan jawabannya sesungguhnya membidik suatu tema yang abadi. Atau, kemungkinan yang lebih memprihatinkan, sebenarnya kita, Indonesia, pada level hakiki belum banyak berubah selama 20 tahun ini….

Masa Depan Markesot

Kita tentu sepakat, nostalgia tidak cukup. Lebih penting lagi adalah memandang masa depan. Sejarah penting. Melestarikan dan mewariskan itu penting. Tapi, mengutip salah seorang guru saya, melestarikan dan mewariskan itu jalan di tempat. Kita perlu berjalan maju. Dan jalan itu adalah pengembangan.

Oleh karena itu, setiap kali Mizan menerbitkan ulang karya lama, perhatian utamanya bukan untuk mengenang. Tetapi untuk membuka zaman baru. Dengan terus hadirnya karya lama yang penting, rantai pemikiran masyarakat tidak terputus. Maka, harapan terbesar Mizan dengan kembalinya Markesot, selain menjumpai pembaca-pembaca lamanya, adalah tumbuhnya generasi baru pembaca Markesot. Dan dari generasi baru ini akan tumbuh Markesot-Markesot baru, atau bahkan yang melebihi Markesot.

Kehadiran kembali Markesot di zaman yang berbeda ini menggelitik rasa ingin tahu kita juga. Bagaimanapun, ada perbedaan-perbedaan signifikan dibanding masa kelahiran Markesot. Bagaimana sikap Markesot pada era kebebasan informasi, bukannya era pembatasan segala hal? Bagaimana sikap Markesot terhadap era IT? Apakah Markesot juga akan facebookan, twitteran, BBMan? Dan masih banyak lagi kemungkinan yang membuka peluang untuk eksperimen-eksperimen menarik.

Tentu, masa depan Markesot tidak mesti berwujud Markesot. Generasi baru pembacanya bisa saja menyerap “kode genetik”-nya dan menciptakan tokoh baru. Bagi saya, Markesot memiliki kesamaan gen dengan tokoh-tokoh semacam Nasrudin Hoja, Abu Nawas, Si Kabayan, Pak Lebai Malang, atau termasuk mungkin punakawan. Tokoh-tokoh jester, tokoh-tokoh folklore yang seolah konyol tapi sebenarnya memberi kritik-kritik sosial dan terhadap cara berpikir kita. Mereka adalah tokoh-tokoh immortal, abadi. Setiap generasi baru membuat interpretasi baru dan cerita-cerita baru berdasarkan karakter-karakter itu. Markesot pun berpeluang menjadi immortal, baik tetap dengan nama Markesot maupun dalam penitisan-penitisan baru. Markesot bisa jadi akan berusia lebih panjang dari kita semua….

Bandung, 4 November 2012

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image