Bebas

Bebas itu, saya artikan sama dengan burung yang terbang di angkasa raya. Bebas itu rusa yang berlari ke sana ke mari di savanna luas. Bebas adalah monyet-monyet yang meloncat dan bergelantungan pada dahan-dahan yang manapun sesukanya di hutan belantara. Kebebasan itu adalah ikan yang berenang-renang semau-maunya, di perairan yang manapun ia berada. Demikian juga, bebas berarti kemerdekaan setiap orang dari penjajahan siapapun.

Itulah pendekatan yang saya dapatkan dari guru-guru saya sejak kecil. Dan, guru-guru saya itu tentunya memiliki alasan kenapa memilih pendekatan tersebut.

Mungkin, pendekatan itulah yang dianggapnya paling mudah untuk dipahami oleh seorang kanak-kanak macam saya. Pendekatan yang pada akhirnya saya maknai sebagai isyarat agar secepatnya memacu semangat, bangkit mengentaskan kemalasan. Sebab, kebodohan akan membuat siapapun tidak bisa memberi perlawanan ketika diinjak. Kelemahan akan membuat saya bernasib sama dengan burung-burung di pasar, yang terkurung dalam sangkar dan diperjual-belikan. Jika tidak segera rajin belajar, saya, hanya akan menjadi rusa yang berlari lamban dan mudah ditembak oleh pemburu. Atau, saya akan menjadi manusia yang tidak berkutik saat kemerdekaannya dirampas.

Alhasil, satu hal lain yang kemudian ikut saya peroleh dari ungkapan-ungkapan guru-guru saya tadi, adalah adanya pula sebuah syarat yang niscaya muncul demi adanya kebebasan, yakni keberanian dan pengetahuan. Karena, proklamasi kemerdekaan hanya bisa lahir berkat adanya keberanian yang tepat dari sang proklamator. Jebolnya pertahanan musuh hanya terjadi berkat prajurit yang maju dengan strategi jitu, dan menerjang tanpa takut mati. Bahkan, untuk mendapatkan seorang kekasih saja, segugup atau semalu apapun seorang lelaki harus pergi mengucapkan rasa cinta, memberanikan diri menyatakan isi hati kepada sang pujaan hati.

Begitu pula, tanpa adanya keberanian, seorang murid juga tidak akan pernah memberi jawaban ketika kesalahan-kesalahannya dipertanyakan. Sehingga, seiring dengan adanya keberanian dan pengetahuan tadi, pemaknaan atas kebebasan turut pula menyertakan adanya tanggung jawab pada setiap pekerjaan, perbuatan, perjuangan, maupun cita-cita.

Saya membaca bahwa kebebasan itu tidak lebih dari gerakan yang tidak lagi dibelenggu sifat alamiahnya. Yang dengan demikian, juga tidak menyiratkan arti tentang kebebasan yang dapat lepas terpisah dari segala sesuatu. Karena segala pilihan dan keputusan yang ditempuh oleh seseorang, siapapun ia, tetap tidak menjadikan dirinya lolos dari konsekuensi. Kemanapun tindakan seseorang, ia akan terus diancam oleh bermacam ketentuan. Bahkan, terhadap dirinya sendiri, siapapun tetap tidak dapat keluar dari pertanggung-jawaban.

Saya tidak bisa makan sepuas-puasnya tanpa mempertimbangkan gigi, lambung, usus, ginjal, jantung, limpa, atau organ apapun yang di dalam tubuh saya, bakal rusak atau tidak. Saya tidak bisa memerintahkan nafas saya untuk tidak megap-megap ketika saya berlari sekencang-kencangnya dan sejauh-jauhnya, atau mengatur jantung supaya mengiramakan detak-detaknya sesuai dengan kemauan saya tanpa terhalangi oleh apapun. Dan, saya juga tidak bisa mengerem tua.

Itulah sekurang-kurangnya yang mampu saya sadari dibalik ungkapan-ungkapan guru-guru saya sampai hari ini.

Walaupun, saya yang sekarang merasa telah dewasa, disamping itu semua tentu juga membayangkan: apakah ada kebebasan yang sebebas-bebasnya.

Adakah kebebasan yang benar-benar lepas dari segala kondisi, dari segala konsekuensi? Adakah yang bisa untuk tidak makan tapi lapar juga hilang? Adakah kebebasan yang tanpa disertai ketentuan?

Sedangkan, kalau tidak ada, apakah masih layak untuk disebut sebagai kebebasan? Apakah tetap dinamai kebebasan bila ternyata masih terbatasi dan bersyarat? Bila tetap berada dalam suatu wahana, bukankah itu bukan bebas, melainkan hanya berpijak dalam kurungan yang lebih besar saja.

Ikan tidak bebas karena ia tidak bisa berenang di angkasa. Rusa tidak bebas karena ia tidak bisa berlari di dalam air. Burung pun tidak bebas karena ia tidak bisa terbang di dalam tanah. Maka, kalau masih menghadapi pilihan tanpa adanya alternatif selain dari yang sudah dipilihkan, bukankah itu bukan kebebasan?

Adakah, entah dimana, mahluk yang bisa menunaikan keinginan seleluasa-leluasanya, sejauh-jauhnya, hingga tidak terbatasi sama sekali. Adakah yang dapat melakukan semua yang ingin dilakukan, memiliki semua apa yang ingin dimiliki, menelan semua yang enak untuk ditelan, menghancurkan semua yang tidak cocok dengan selera, memusnahkan segala yang tidak sedap dipandang ataupun sumbang didengar, membuang segala yang jelek-jelek, yang busuk-busuk, yang kumuh-kumuh, yang cacat-cacat.

Adakah, ia, yang dapat memutuskan apapun tanpa harus memilih, membuat apapun tanpa referensi, mengkreasikan sesuatu tanpa membutuhkan bahan baku, sehingga keinginan dan kemampuannya memang mutlak betul-betul sebuah kebebasan, yang hadir tanpa adanya faktor kecuali keinginannya itu sendiri.

Adakah, ia, yang dapat kapan saja menjadikan segala sesuatu cukup hanya dari keinginannya, tanpa memerlukan adanya apapun atau siapapun? Adakah, ia, yang keinginannya adalah sekaligus kekuatan, kekuasaan, kesanggupan, yang kehendaknya juga langsung berarti ketersediaan?

Adakah, ia, yang bisa sampai sedemikian itu?

Jika ada, dapatkah saya seperti ia?

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image