Kalau tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Anda, kemudian orang tersebut minta dibelikan baju, sepatu, atau bahkan kendaraan, bagaimana kira-kira tanggapan Anda? Padahal orang itu hanya Anda kenal di jalan, atau paling kalau berpapasan hanya saling mengangguk tanpa tegur sapa yang panjang, apalagi bincang-bincang penuh kemesraan? Selanjutnya jika Anda bersahabat dengan seseorang, dan orang itu tiap hari senantiasa menunjukkan kehangatan cinta kepada Anda, berbincang ria dalam suka dan duka, dan tiba-tiba orang itu mengalami kesulitan, kira-kira apa yang akan Anda lakukan terhadap orang itu, meski dia tidak mengungkapkannya langsung kepada Anda?
Tag: Politik
Seabad Hamengkubuwono IX
Peringatan seabad Hamengkubuwono IX beberapa hari yang lalu (12 April 2012) menyiratkan pesan bahwa masyarakat sedang benar-benar merindukan sosok seorang pemimpin yang serius memegang tanggung jawab yang diembannya. Kalau membicarakan kedudukan raja, kebanyakan orang sekarang akan dengan sangat mudah menghubungkannya dengan feodalisme. Tetapi jika kita sedikit saja melacak sejarah hidup Hamengkubuwono IX maka kita akan sampai pada pengertian bahwa secara substantif, Beliau bukan sekedar seorang raja, bukan berhenti pada predikat ulil amri namun Beliau juga memiliki kapasitas sebagai ulama. Sebagaimana Imam Ali pernah mengatakan “untuk melihat seseorang itu ulama atau bukan, lihatlah apa yang ditinggalkan”.
Membentuk Kultur Kenabian dalam Masa Kontemporer
Jum’at malam 30 Maret 2012 lalu digelar Sarasehan Budaya di Pelataran Parkir Timur Fakultas Hukum UII Yogyakarta. Acara malam itu menghadirkan Cak Nun, Pak Busyro Muqaddas serta beberapa pejabat struktural dari universitas bersangkutan. Tema yang diambil yaitu “Membentuk Kultur Kenabian dalam Masa Kontemporer”.
Nabi Darurat dan Dunia yang Hamil Tua
Rencananya bulan-bulan terakhir ini “Sabdopalon Noyogenggong” akan berkeliling kota mementaskan lakon “Nabi Darurat, Rasul Ad-Hoc”. Pertanyaan kita tentu sama: apakah sudah separah inikah kehidupan dunia hingga kita butuh lagi kehadiran seorang Nabi atau Rasul? Apakah (Nur) Muhammad tidak cukup sebagai rasul terakhir untuk membawa ke arah dunia yang rahmatan lil’alamin atau juga bilhikmati wa-lmau’idlati-lhasanah? Apakah tugas beliau gagal hingga kita rusak parah seperti saat ini?
Sekaten: Harmoni Budaya, Ekonomi, dan Religi
Acara pengajian di pelataran Masjid Gede Kauman Yogyakarta pada 26 Januari 2012 malam yang lalu mengemas tema “Harmoni Budaya, Ekonomi, dan Religi”. Kegiatan itu diselenggarakan untuk ikut mangayubagyo menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sejak zaman dahulu di Keraton-Keraton di Jawa selalu diperingati dengan penyelenggaraan “Sekaten”. Menurut beberapa keterangan sejarah maupun para ahli yang mempelajari soal-soal kebudayaan, asal kata “Sekaten” bermula dari kata “syahadatain”, namun pada lidah orang-orang Jawa, kata tersebut lama-kelamaan melebur dan meluluh menjadi “Sekaten”. Mungkin agak sama kasusnya dengan yang terjadi di kampung-kampung padusunan yang mengucap kata Alhamdulillah menjadi “kandulilah”, Bismillah menjadi “Semĕlah”, Allahumma shalli ‘alaa sayyidina wa ‘alaa ‘aliy Muhammad menjadi “Holomo saingolo saidino wo ngolo ngali mukamad”. Saya tahu bahwa anda juga pasti setuju kalau hal ini bukan pemelintiran kata tapi lebih kepada sifat yang natural dari karakteristik dan cara pengungkapan bahasa yang dilakukan oleh manusia-manuisa Jawa terutama oleh mbah-mbah kita pada masa lalu.