Pada perjalanan menghadiri Maiyahan akhir-akhir ini, saya banyak bertemu pelajaran-pelajaran penting melalui beberapa keadaan dan peristiwa yang aku lalui disepanjang perjalanan. Sebagai misalnya, di malam hari tanggal 12 April yang lalu ketika akan menghadiri maiyahan dalam rangka mengenang 100 tahun Hamengkubuwono IX di Pagelaran Keraton Jogjakarta, saya harus berhenti di tengah jalan sebab hujan teramat deras sehingga aku memutuskan untuk berteduh di sebuah warung sederhana yang telah tutup. Bersama seorang teman yang penggiat wayang kulit, kami menunggu hujan reda sambil menikmati kretek kegemaran dalam hawa dingin serta cuaca gelap yang menerbitkan keraguan pelan-pelan. Hari makin beranjak malam sementara hujan belum nampak akan segera mereda. Kami saling pandang membawa kebimbangan apakah akan meneruskan perjalanan ataukah pulang kembali ke rumah dan membatalkan perjalanan.
Tag: Mocopat Syafaat
Evolusi Spiritual
Kehadiran pengurus Nahdlatul Muhammadiyin di hadapan para jamaah mengawali Mocopat Syafa’at 17 Maret 2012. Pak Mustofa W. Hasyim dan Pak Marzuki tampil ke depan untuk memberikan gambaran tentang kedudukan dan ruang gerak atau aktivitas Nahdlatul Muhammadiyin selama ini dan yang akan datang. Di samping agar keberadaan Nahdlatul Muhammadiyin tidak menimbulkan problem sosial dan psikologis di antara sangat banyak kelompok, pada kesempatan Mocopat Syafa’at malam itu dibukalah ruang diskusi dan komunikasi seputar visi dan kiprah Nahdhatul Muhammadiyin.
Menyongsong Indonesia
Siapapun yang hadir pada acara Macapat Syafa’at 17 Februari 2012 lalu akan merasakan betapa nikmatnya menjalani rasa bersyukur dan berbaik sangka terhadap setiap keadaan apapun termasuk kepada setiap keadaan yang tidak mengenakkan atau sama sekali tidak kita perhitungkan. Ada momentum mati lampu yang hampir bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat lebat ketika acara memasuki paruh ketiga malam sehingga sempat menggoyahkan konsentrasi san kekhusuyukan jama’ah malam itu.
Maiyah untuk Pembebasan
Perubahan sosial dan budaya menuju keadilan, kesejahteraan, kesetaraan dan kemakmuran bangsa, bisa dimulai dari penggalangan jamaah. Tidak harus dalam cakupan besar (kolosal) dan luas, melainkan kecil namun intens dan bermakna dalam membangun jamaah. Penggalangan jamaah harus dipahami sebagai gerakan budaya yang syaratnya terbebas dari kehendak serba kuasa dan nafsu megalomania. Gerakan kebudayaan tidak selamanya identik dengan gerakan berskala besar mencakup wilayah luas, atau bahkan tidak selamanya harus merupakan gerakan serempak beberapa kelompok jamaah dalam satu kawasan tertentu.
Spirit Emha
Saya duduk membonceng di atas sebuah sepeda motor yang meluncur dari kota budaya Yogyakarta di Jawa, Indonesia, untuk menghadiri pertemuan bulanan yang diselenggarakan oleh Emha Ainun Nadjib, seorang kiai dinamis dan berpengaruh. Kami menyusuri jalan yang lumayan jauh meninggalkan kawasan utama kota. Sedemikian sepi saat itu sehingga kami pikir mungkin acara telah dibatalkan. Tetapi, sejauh mata bisa memandang, tiba-tiba kami melihat ratusan mungkin ribuan sepeda motor terparkir di sebuah tempat.