“Perahu Retak” aslinya adalah judul sebuah lakon teater di awal 1980an yang berkisah tentang sejarah Nusantara pada awal abad 15. Inti kandungannya adalah kegagalan Bangsa (yang pernah sangat besar) Nusantara untuk menemukan kepribadian sosialnya sesudah punahnya kekuasaan besar Kerajaan Majapahit.
Tag: Maiyah
Mengeja Cahaya
Pada perjalanan menghadiri Maiyahan akhir-akhir ini, saya banyak bertemu pelajaran-pelajaran penting melalui beberapa keadaan dan peristiwa yang aku lalui disepanjang perjalanan. Sebagai misalnya, di malam hari tanggal 12 April yang lalu ketika akan menghadiri maiyahan dalam rangka mengenang 100 tahun Hamengkubuwono IX di Pagelaran Keraton Jogjakarta, saya harus berhenti di tengah jalan sebab hujan teramat deras sehingga aku memutuskan untuk berteduh di sebuah warung sederhana yang telah tutup. Bersama seorang teman yang penggiat wayang kulit, kami menunggu hujan reda sambil menikmati kretek kegemaran dalam hawa dingin serta cuaca gelap yang menerbitkan keraguan pelan-pelan. Hari makin beranjak malam sementara hujan belum nampak akan segera mereda. Kami saling pandang membawa kebimbangan apakah akan meneruskan perjalanan ataukah pulang kembali ke rumah dan membatalkan perjalanan.
Beragama Di Kala Duka
Kalau tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Anda, kemudian orang tersebut minta dibelikan baju, sepatu, atau bahkan kendaraan, bagaimana kira-kira tanggapan Anda? Padahal orang itu hanya Anda kenal di jalan, atau paling kalau berpapasan hanya saling mengangguk tanpa tegur sapa yang panjang, apalagi bincang-bincang penuh kemesraan? Selanjutnya jika Anda bersahabat dengan seseorang, dan orang itu tiap hari senantiasa menunjukkan kehangatan cinta kepada Anda, berbincang ria dalam suka dan duka, dan tiba-tiba orang itu mengalami kesulitan, kira-kira apa yang akan Anda lakukan terhadap orang itu, meski dia tidak mengungkapkannya langsung kepada Anda?
Sumuk
“Tidak ada sesuatu pun di dalam kehidupan yang tidak bisa dipersatukan, karena semuanya berasal dari Satu dan akan kembali kepada Satu. Maka yang apapun saja yang seolah-olah tidak relevan, tidak berkaitan, tidak berhubungan, sesungguhnya semuanya akan gathuk. Orang Jawa sudah mempunyai tradisi othak-athik gathuk. Memang keliru-keliru pada awalnya, tapi kalau engkau ikhlas melakukannya, engkau akan menemukannya. Satu adalah gathuk-nya segala sesuatu.”
Maiyahan itu ya "Nge-Jazz"
Tampaknya tidak ada “pengajian” di bumi pertiwi ini yang “aneh” dan unik seperti Maiyahan yang kita lakukan selama ini. Di Kenduri Cinta 13 April yang lalu, misalnya, pengajian (baca: Maiyahan) kok diiringi musik jazz. Mestinya pengajian ya diiringi “musik Islam” seperti samroh atau kasidah dengan penyanyi perempuan yang berdandan menor pakai “jilbab” dan berlenggak-lenggok seksi dengan iringan gendang ala dangdut yang menonjol. Memang selama ini iringan musik KiaiKanjeng sudah biasa di acara Maiyah, dan mereka juga membawakan aneka jenis musik termasuk jazz, dangdut, keroncong, bahkan “musik Demak Ijo”. Saya pikir 100 tahun mendatang pun saya tidak yakin akan lahir lagi “model pengajian” seperti Maiyah ini.