Beberapa Jamaah Maiyah Gambang Syafaat bertanya kepada saya, “Mas mengapa orang-orang yang pengetahuan dan praktek beragamanya sudah tinggi namun masih juga korupsi?” Saya cukup kaget mendengar pertanyaan tak terduga itu, apalagi teman-teman juga menunjuk bahwa tersangka koruptor wanita kini juga gemar pakai jilbab. Teman-teman ini tidak mau menunjuk nama para koruptor yang kini disorot media tersebut, namun mereka bilang bahwa para koruptor itu juga ada yang pernah nyantri (jadi “mantan” santri, batin saya), ada yang pernah jadi ketua kelompok perkumpulan organisasi Islam, mereka juga banyak memiliki nama yang juga sangat “Islami”, rajin umroh, rajin berkhotbah, dahinya hitam tanda lebih lama bersujud, bahkan ketika masih menjadi mahasiswa/ketika nyantri merupakan orang yang paling keras berteriak soal korupsi. Namun ketika kini masuk lingkaran kekuasaan, mereka ternyata juga orang yang paling kuat menginjak amanah rakyat dan rajin mencuri dan merampok kekayaan negara. Fenomena apa ini?
Tag: Gambang Syafaat
Gambang Syafaat, Mau Apa?
Hari ini tanggal 25 Desember 2011 Jamaah Maiyah Gambang Syafaat (Jamaah GS) berulang tahun ke 12. Kanjeng Nabi sesungguhnya tidak pernah mengajarkan apa itu ulang tahun, bahkan beliau sendiri tidak memilih tanggal lahirnya digunakan sebagai dasar awal pertama tahun baru Islam. Rasulullah Muhammad SAW justru memilih peristiwa hijrah sebagai awal, karena beliau tidak ingin dirinya menjadi “master”, apalagi “icon” Islam. Beliau adalah pribadi yang sangat tawadu` bahwa Muhammad hanya utusan Allah.
Urip Manunggal Gusti
Maiyah Gambang Safaat 25 Nopember 2011 yang lalu benar-benar mencatat rekor karena berlangsung nyaris sampai subuh datang, ”gara-gara” tangisan Mas Sugiyono, tukang becak dari Demak yang demikian setia ber-maiyah di GS. Malam itu para jamaah juga mendapat rejeki dari Allah karena Letto juga turut menaburkan cahaya cinta. Benar-benar malam yang penuh rahmat dan barokah. Para malaikat berseliweran mengikat hati para jamaah agar tetap terpelihara dalam ketauhidan sekaligus merekatkan cintanya pada kekasih Allah, Rasululullah SAW. Rasanya tidak mungkin mencintai Allah tanpa membayangkan orang yang mengenalkan allah kepada kita, yakni Rasululllah SAW.
Urip mung Sakdremo Nglakoni
Terus terang, setiap kali berbicara dan berhadapan dengan Jamaah Maiyah Gambang Safaat (GS) setiap tanggal 25 setiap bulannya, hati ini selalu tergetar, merinding, bahkan sering nervous. Padahal saya terbiasa berbicara di hadapan para pejabat tinggi baik di tingkat Jawa Tengah maupun Kabupaten Kota. Saya juga pernah menghadap dan berbicara langsung pada pejabat setingkat menteri, pernah berbicara langsung kepada gubernur, bupati atau walikota, dsb, namun semuanya saya lalui dengan tenang, tanpa rasa takut sedikit pun.
Urip mung Mampir Ngombe
Alhamdulillah, Maiyah Gambang Syafaat tanggal 25 Oktober 2011 di Baiturrahman Semarang yang lalu tetap meriah, meski yang menemani mereka — saya dan Om Budi — adalah sosok yang masih penuh kemaksiatan. Yang penting kata Cak Nun, harus tetap ada usaha yang serius untuk menjadi “manusia kiai”, meski tidak fasih di mulut, namun selalu berendam cinta, baik cinta kepada Allah SWT, rasululloh dan kepada semua makhluk di alam semesta ini. Seperti pesan Cak Nun, Maiyah ini harus punya sejarah yang jelas dan karenanya setiap perbincangan ditulis, syukur nanti dibukukan agar anak cucu kita memanfaatkannya. Pesan ini saya lakukan dengan tulisan ringan berikut ini.