“Perahu Retak” aslinya adalah judul sebuah lakon teater di awal 1980an yang berkisah tentang sejarah Nusantara pada awal abad 15. Inti kandungannya adalah kegagalan Bangsa (yang pernah sangat besar) Nusantara untuk menemukan kepribadian sosialnya sesudah punahnya kekuasaan besar Kerajaan Majapahit.
Tag: Cak Nun
Mengeja Cahaya
Pada perjalanan menghadiri Maiyahan akhir-akhir ini, saya banyak bertemu pelajaran-pelajaran penting melalui beberapa keadaan dan peristiwa yang aku lalui disepanjang perjalanan. Sebagai misalnya, di malam hari tanggal 12 April yang lalu ketika akan menghadiri maiyahan dalam rangka mengenang 100 tahun Hamengkubuwono IX di Pagelaran Keraton Jogjakarta, saya harus berhenti di tengah jalan sebab hujan teramat deras sehingga aku memutuskan untuk berteduh di sebuah warung sederhana yang telah tutup. Bersama seorang teman yang penggiat wayang kulit, kami menunggu hujan reda sambil menikmati kretek kegemaran dalam hawa dingin serta cuaca gelap yang menerbitkan keraguan pelan-pelan. Hari makin beranjak malam sementara hujan belum nampak akan segera mereda. Kami saling pandang membawa kebimbangan apakah akan meneruskan perjalanan ataukah pulang kembali ke rumah dan membatalkan perjalanan.
Seabad Hamengkubuwono IX
Peringatan seabad Hamengkubuwono IX beberapa hari yang lalu (12 April 2012) menyiratkan pesan bahwa masyarakat sedang benar-benar merindukan sosok seorang pemimpin yang serius memegang tanggung jawab yang diembannya. Kalau membicarakan kedudukan raja, kebanyakan orang sekarang akan dengan sangat mudah menghubungkannya dengan feodalisme. Tetapi jika kita sedikit saja melacak sejarah hidup Hamengkubuwono IX maka kita akan sampai pada pengertian bahwa secara substantif, Beliau bukan sekedar seorang raja, bukan berhenti pada predikat ulil amri namun Beliau juga memiliki kapasitas sebagai ulama. Sebagaimana Imam Ali pernah mengatakan “untuk melihat seseorang itu ulama atau bukan, lihatlah apa yang ditinggalkan”.
Membentuk Kultur Kenabian dalam Masa Kontemporer
Jum’at malam 30 Maret 2012 lalu digelar Sarasehan Budaya di Pelataran Parkir Timur Fakultas Hukum UII Yogyakarta. Acara malam itu menghadirkan Cak Nun, Pak Busyro Muqaddas serta beberapa pejabat struktural dari universitas bersangkutan. Tema yang diambil yaitu “Membentuk Kultur Kenabian dalam Masa Kontemporer”.
Urip Kudu Tenanan
Ada satu pengalaman berharga yang saya petik pasca-menyaksikan persiapan pementasan Nabi Darurat dan Rasul Ad-Hoc (NDRA) di Semarang 25 Maret lalu. Pengalaman itu ialah bahwa rumus baku untuk mendapatkan barokah dari Allah adalah bahwa amal perbuatan itu yang penting harus dilakukan dengan serius dan dalam bahasa Jawa disebut “tenanan”. Urip kudu tenanan (hidup harus serius). Serius bukan berarti tegang dan penuh tekanan, namun serius mengandung arti bahwa segala sesuatunya harus jelas arah dan tujuannya, dan semua itu ditujukan hanya kepada Allah dan bukan yang lain (ilaihi roji’un).