Lautan Jilbab

Naskah oleh Emha Ainun Nadjib (1987)

Gaung revolusi Islam di Iran yang mendunia pada 1979 menambah semarak berislam di kalangan anak muda sekolah dan kampus di Indonesia. Di antara siswi-siswi sekolah umum banyak yang mulai memakai jilbab di sekolah. Namun di masa Orde Baru pada 1982, Daoed Joesoef–Mendikbud saat itu–melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah negeri melalui Surat Keputusan 052/C/Kep/D.82 tentang Seragam Sekolah Nasional pada 17 Maret 1982. Ini dialami pemakai jilbab yang merupakan imbas kecurigaan pemerintah Orde Baru atas peran Islam politik sejak beberapa tahun sebelumnya yang dianggap merongrong Pancasila.

Melihat kondisi itu, Mbah Nun gelisah karena pelarangan tersebut adalah pelanggaran atas hak setiap manusia untuk memilih dan harus diprotes. Kegelisahan itu beliau tuangkan dalam puisi berjudul “Lautan Jilbab”. Puisi yang ditulis Mbah Nun secara spontan kemudian dibacakan dalam forum “Ramadhan on Campus” yang diselenggarakan Jamaah Shalahuddin UGM pada Mei 1987. Puisi “Lautan Jilbab” mendapat respons yang meriah dari sekitar 6.000 orang yang hadir.

Mbah Nun lalu mengembangkan puisi itu menjadi lakon teater sebagai sarana protes atas kecenderungan Orde Baru menghalangi umat Muslim mengekspresikan keberislaman. Lakon itu dipentaskan pertama kali di UGM. Selama dua hari pementasan, “Lautan Jilbab” ditonton tak kurang dari 5.000 orang. “Lautan Jilbab” sangat fenomenal dan menggelombang. Tidak hanya dipentaskan di Yogyakarta saja, beberapa kota seperti Surabaya dan Makassar pernah menjadi saksi pementasan “Lautan Jilbab”. Bahkan ketika dipentaskan di Stadion Wilis, Madiun, tercatat 35.000 penonton menyaksikan pementasan tersebut. Mbah Nun melibatkan 1.000 pemain teater dalam pagelaran “Lautan Jilbab” saat itu.

Puisi dan pementasan teater tersebut tak ubahnya sebuah ajakan perlawanan. Sejak itu pemakaian jilbab punya arti perlawanan terhadap otoritarianisme Orde Baru.

“Pakai jilbab atau tak berjilbab adalah otoritas pribadi setiap wanita. Pilihan atas otoritas itu silahkan diambil dari manapun: dari studi kebudayaan, atau langsung dari kepatuhan teologis. Yang saya perjuangkan bukan memakai jilbab atau membuang jilbab, melainkan hak setiap manusia untuk memilih” –Mbah Nun (dalam buku Kitab Ketenteraman, 2014)

Mbah Nun turun ke gelanggang menyerukan Lautan Jilbab karena pakai jilbab dihalang-halangi. Dan sekarang, lautan jilbab itu memang lautan, di mana-mana.

Buku Cak Nun