Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

Website Twitter Facebook Google+

Karikatur Cinta

PERGOLAKAN tingkat dunia yang diawali karikatur Jyllands-Posten mungkin akan berlangsung lebih lama, jauh dan mendalam dibandingkan dengan yang kita bayangkan, kita analisis dan perhitungkan.

Daur (57)

Tidak Tega Kepada Nabi Isa

Bagaimana mungkin Markesot bisa tahan untuk tidak mencari Kiai Sudrun. Hatinya sangat lemah. Ia tidak tega kepada Indonesia khususnya, dan kepada seluruh Bangsa Negeri Khatulistiwa umumnya.

Daur (54)

Kemewahan Sebagai Barang Mainan

Lebih 40 tahun Sapron dijejali oleh ceramah-ceramah Markesot. Isi kepala, dada dan perut Sapron adalah ceramah Markesot. Bahkan setiap helai rambutnya, setiap butiran darahnya, bermuatan ceramah Markesot.

Daur (53)

Begini Ini Indonesia?
Begini Ini Negara?

Akhirnya Tonjé dan Kasdu pun kembali ke keluarganya. Tinggal rumah hitam Patangpuluhan, tenggelam ke lubuk terdalam di lautan kesunyian.

Pas mereka mau pergi, Sapron, seorang yang sejak awal tinggal di Patangpuluhan dibawa oleh Markesot dari dusun, muncul.

Daur (52)

Peradaban Bayi-Bayi

Orang yang menjalani hidup di jalan keinginan, cukup berbekal nafsu, ditambah sedikit ilmu yang kompatibel dengan nafsunya itu. Tapi orang yang melakoni kehidupan mencari yang ia butuhkan, bekal yang ia perlukan sejak awal adalah ilmu.

Daur (50)

Kelas Sufi Bolot

Sebaiknya jangan ada yang berpikiran bahwa Mr. Bolot ini tokoh fiksi, figur khayalan, atau pelakon karangan sebagaimana dalam drama atau novel.

Daur (49)

Informasi Bakul, Bakul Informasi

Tonjé dan Kasdu merasakan kegairahan baru dengan kata ‘kudeta’ dan siap merayakannya, bahasa jelasnya: mengkhayalkannya. Tiba-tiba datang seorang tamu. Berjalan memasuki halaman rumah hitam Patangpuluhan dengan langkah jlong-jlong-jlong sangat gagah bak Raden Werkudoro.

Daur (48)

Markesot Mencari Kiai Sudrun

“Dari dulu kita tahu”, celetuk Tonjé, katakanlah demikian nama salah seorang teman Markesot itu, “kalau dia menghilang, ya ke mana lagi…”

“Ke mana memangnya?”, Kasdu, sebut begitu nama teman lainnya.

Daur (47)

Pintu Tanpa Kunci
Rumah Tanpa Isi

Sungguh tidak normal kehidupan Markesot dan rumah hitam Patangpuluhan. Yang didengar lamat-lamat semalam oleh salah seorang temannya, bahwa Bangsa kita sedang benar-benar dihancurkan, dan alat utama penghancuran itu adalah Bangsa kita sendiri, bahwa Ummat kita sedang sungguh-sungguh dirusak, dan alat utama perusakan itu adalah Ummat kita sendiri — termasuk omongan normal atau tidak normal dari Markesot?

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image image link