Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

Website Twitter Facebook Google+

Wali Kok Sedih

Pagi itu Markesot bangun pagi dengan hati yang sangat lumpuh, badan pegal-pegal, pikiran dikepung dan terbentur tembok-tembok, penglihatan ke depan yang penuh kegelapan, serta penglihatan kepada dirinya sendiri yang ternyata lebih gelap lagi.

Musik Mantra dan Hizib (3): Kaki Kambing yang Kelima

Ketika pada suatu momentum koran-koran banyak memberitakan tentang kambing berkaki lima, pohon kelapa bercabang, lahir anak lembu berkepala seperti manusia, dan seterusnya, seorang guru agama menjelaskan kepada murid-muridnya: “Itu keajaiban bagi kita.

Yang Lebih Berkuasa dari Penguasa Dunia

Hal kuda-kuda Sapu jagat, Tarmihim, Sundusin beserta satu dua teman lagi tetap sepakat untuk mengincar pertemuan dan menciptakan momentum agar bisa mengemukakannya kepada Markesot.

Musik Mantra dan Hizib (2): Menyingkirkan Badai…

Para pelaut tradisional suku Mandar, Sulawesi Selatan bagian utara, kalau tiba-tiba badai datang menyerbu dan membuat perahu mereka oleng serta badan terguncang-guncang, dan jika segala sesuatunya sudah tak mungkin mereka atasi lagi dengan akal, kecerdasan, dan teknologi (tradisional) — mereka merentangkan kedua tangannya ke langit sambil memekik: “Imam Lapeooooo!”

Sering kali, entah bagaimana kita menjelaskannya, badai lantas menyingkir, dan selamatlah mereka.

Cuci Gudang dan Keranjang Sampah

Dalam pertemuan sejumlah teman untuk mempersiapkan pertemuan-pertemuan rutin dengan Markesot, tak sengaja muncul pembicaraan yang setengahnya menyimpulkan beberapa kegerahan Markesot di usia tuanya.