Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

Website Twitter Facebook Google+

Daur (92)

Menshalawati Muhammad
Yang Belum Lahir

Siapa yang meyakini bahwa dirinya adalah hanya dirinya, bahwa tidak ada diri di dalam dirinya yang bukan sebagaimana dirinya yang diri, atau ribuan kalimat berikutnya apabila kalimat ini diteruskan — maka berhentilah mengikuti perjalanan Markesot.

Daur (91)

Baginda Kharmiyo bin Sulaiman

Ada dua kemungkinan. Pertama, karena Markesot adalah putra seorang tokoh yang besar pengaruhnya di masyarakat, ia sengaja melakukan de-eksistensi dan menyembunyikan dirinya, karena toh tak mungkin mencapai atau apalagi melampaui kebesaran Bapaknya.

Daur (90)

Tumbal Nasab

Untung di tempat sepi dan sangat jauh dari perkampungan manusia, sehingga tak ada masalah Markesot tertawa-tawa sendiri. Sebab tak hanya tertawa: terpingkal-pingkal, terkadang terkekeh-kekeh, dan lama sekali durasinya.

Daur (89)

Apakah Itu Suara-Mu?

Tiba-tiba di tepian hutan itu terdengar suara teriakan yang sangat keras dan panjang.

Sebagian makhluk mendengarnya sebagai suara guntur yang menggelegar.

Daur (88)

Penyamaran Sang Wali

Kalau ada orang tersenyum-senyum sendiri di tengah orang banyak, tanpa ada kaitan sosialnya, tentulah ia orang gila, atau sekurang-kurangnya orang yang melamun tapi tidak memperhitungkan ruang dan waktunya.

Daur (87)

Naga di Pintu Depan Sorga

“Perintahkan kepadaku, wahai Baginda Nabi, apa saja, apapun saja, saya akan lakukan dengan sepenuh hati”

Markesot terus bergeremang sendiri.

“Segala perintahmu, yang sukar, yang mudah, yang berat, yang ringan, hingga yang mustahil pun, saya berbahagia melaksanakannya”

“Apa saja, wahai Rasul, karena perintahmu adalah perintah-Nya”

“Asalkan jangan suruh saya menggenggam matahari di tangan kanan dan rembulan di tangan kiri, sebagaimana sumpah Baginda di depan Pamanda Abu Thalib”

“Saya sudah tua, badan saya semakin lemah, tidak mungkin kuat lagi memanggul batu lebih dari satu kwintal di pundak bersangga punggung.

Daur (86)

Baiat Di Bawah Pohon

Markesot meneruskan perjalanan, meninggalkan komunitas kaum filosof di gerbong rongsok. Cuma kali ini tidak meneruskan menelusuri rel, melainkan menuju sungai dan menyisir ke arah sumber mataairnya.

Daur (85)

Batas Syafaat

Sedangkan Rasulullah Saw kekasih utama Allah dibatasi usulannya yang menyangkut neraka dan sorga, hanya sebatas hamba-hamba Tuhan yang mempercayai dan mencintainya.

Daur (84)

Proposal Wabal Pra-Neraka

Atau Markesot bikin proposal ke Allah, ditandatangani oleh Kiai Sudrun, agar Allah mempertegas ketentuan adzab-Nya kepada siapapun sesuai dengan kedurhakaan politik dan moral negara-negara manusia.

Daur (83)

Konflik Dengan Allah

Bagusnya Markesot tidak usah mendongeng atau apalagi memamerkan sulap-sulap picisan kelas restoran dan café rendahan. Tidak usah mendemonstrasikan adegan online-offline kuno.

Daur (82)

Ilmu Maling

Markesot sebenarnya tetap kaget juga oleh lenyapnya orang itu, meskipun ia  mengenal perilakunya sejak dulu. Tapi ia berlagak tidak terkejut dan senyum-senyum saja.

Cincin Nusantara dan Lingkaran Dhadu

Maiyah Punya Makna Defeodalisasi

Hampir di setiap forum maiyahan saya bertanya kepada masyarakat yang hadir: “Menurut Sampeyan, para pemimpin kita, katakanlah antara Pak Amien Rais, Mbak Mega, Gus Dur, dan lain-lain, atau posisi antara berbagai kelompok kekuatan elite politik kita, parpol-parpol kita, itu berposisi melingkar saling menghadapkan wajah dan mempertemukan kesamaan-kesamaan, ataukah saling ungkur-ungkuran alias beradu punggung?” Bisa dikatakan semua lingkaran masyarakat di manapun menjawab tegas: “Ungkur-ungkuran.”

Biasanya lantas saya berkata, “Kalau begitu mari kita belajar tidak ungkur-ungkuran.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image image link