Muhammad Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

Website Twitter Facebook Google+

Titik Nadir Demokrasi

Yang sedang kita lalui sekarang ini adalah hari-hari yang sedang sangat rawan-rawannya bagi kehidupan hati nurani, akal sehat dan kemanusiaan. Hari-hari penghancur logika, penjungkir-balik rasionalitas dan peremuk kejujuran.

CakNun.com

Antara Tiga Kota

di Yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

CakNun.com

Edaran Untuk Jamaah Maiyah

Kepada semua Khalifah Jamaah Maiyah Nusantara (KJMN)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Dimulai bulannya Rasulullah SAW, terutama dalam jangka pendek menyongsong bulan Maret dan Mei 2012, serta untuk seterusnya, saya mohon kepada para KJMN untuk bersama-sama bahu membahu menyangga Nusantara.

CakNun.com

Demokrasi Yatim Piatu

Demokrasi merupakan puncak pencapaian ilmu, ideologi dan wisdom hasil karya ummat manusia abad 20-21. Demokrasi telah disepakati untuk menjadi satu-satunya “kiblat” dalam urusan kehidupan bernegara dan berbangsa.

CakNun.com

Indonesia Jangan Sampai Besar

Indonesia adalah bangsa besar. Tanda kebesarannya antara lain adalah lapang jiwanya, sangat suka mengalah, tidak lapar kemenangan dan keunggulan atas bangsa lain, serta tidak tega melihat masyarakat lain kalah tingkat kegembiraannya dibanding dirinya.

CakNun.com

Ya Allah, Orang Setulus itu….

Sebagaimana manusia biasa sesungguhnya sampai hari ini hati saya belum bisa “menerima” dipanggilnya Mas Heru Yuwono oleh Yang Maha Memilikinya.

Ya Allah, Engkau panggil hamba-Mu, manusia setulus itu, dari tengah keadaan dimana besarnya kepalsuan manusia jauh lebih besar dari besarnya bumi.

CakNun.com

Hal Wilayah Aman

Kenapa sejak 2 hari yang lalu saya tekankan jarak 4 km dan seterusnya dari puncak, kemudian pengungsi pindah turun lagi seterusnya dan kini 20 km dari puncak Merapi — agar kita tahu bahwa:

  1. Ilmu dan teknologi manusia tidak mampu menjangkau kepastian kapan Merapi menyembur, seberapa besar muntahannya, wedus gembel ataukah lahar atau debu, berapa jauh jangkauannya.
CakNun.com
search cart twitter facebook gplus youtube image image link