Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

Website Twitter Facebook Google+

Daur-II • 158

Tak Perlu Nunggu di Kuburan

“Kami tidak senang menangisi keadaan dunia”, Seger meneruskan penjelasan Junit, “kami anak-anak muda ini belajar mencari asal usul suatu keadaan, supaya tahu ujung anak panah luncuran keadaan itu.

Daur-II • 156

Pengelolaan Keburukan

“Saya merasa sedang menjalani bagian akhir dari ayat itu, Pakde”, kata Junit, “mengamini dengan Amin Ya Mujibassailin saya maknai sebagai merayakan kabar gembira tentang adzab.

Daur-II • 155

Mensyukuri Kerusakan

“Berita buruk adalah berita baik. Berita yang baik adalah tentang yang buruk”, Toling terus memperdalam hal tentang berita buruk, “semakin buruk keadaan atau kejadian, semakin merupakan berita baik”

Jitul menambahkan, “Pada dasarnya pelaku media selalu bersyukur setiap kali ada sesuatu yang buruk terjadi di masyarakat.

Daur-II • 154

Membeli Selimut Api

“Berita buruk adalah berita baik. Berita yang baik adalah tentang yang buruk”, lanjut Toling.

Jitul menambahkan: “Berita tentang keburukan, yang diberitakan dengan nafsu untuk menegaskan dan menyempurnakan keburukan, itulah kebaikan”

“Bukankah memang demikian naluri alamiah manusia?”, Pakde Tarmihim menggoda dengan pertanyaan.

Daur-II • 153

Syarrod-Dawab

“Tidak”, suara Seger lagi, “Saya sama sekali tidak punya kelengkapan ilmu untuk mengatakan bahwa Generasi Millennial, apalagi generasi-generasi sebelumnya, adalah Syarrod-Dawab, seburuk-buruk makhluk di hadapan Allah.

Daur-II • 152

Generasi Kintir

“Kita yang sangat minoritas, yang jumlahnya sangat tidak berarti dibanding puluhan juta anak-anak muda segenerasi, tidak bisa saya simpulkan kecuali bahwa Allah sedang menyelamatkan kita.

Belajar Mudik ke Sorga

Beruk tidak mau kalah, menyumbang pendapat soal Idulfithri dan Mudik.

“Mudik itu istimewa. Selama setahun masyarakat bergerak kesana kemari, lalu lalang dari suatu tempat ke tempat lain, berdesakan, berebut, berlomba, bersaing, bahkan bermusuhan – di dalam mobilitas ekonomi.

Daur-II • 151

Tak Seorang Pemimpinpun

Ketika Pakde Brakodin mengingat kembali dan menuturkan: “Mbah kalian Markesot menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh isinya, yang seolah-olah tak terbatas besar dan luasnya, kalah oleh setetes hidayah Allah…” — tiba-tiba terengar suara Seger.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image image link