Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

Website Twitter Facebook Google+

Daur-II • 173

Menyayangi dalam Kelumpuhan

“Kasih sayangnya mana, Pakde?”, Seger bertanya, “Kenapa rutenya hanya keperkasaan, kebijaksanaan, dan ke-alim-an. Kasih sayangnya di mana?”

Pakde Tarmihim agak kaget juga oleh pertanyaan itu.

Daur-II • 172

Bijaksana Dulu, Baru Pandai

“Jadi kami ini dilahirkan, dibesarkan, dan dididik oleh tradisi budaya dan bangunan peradaban di mana anugerah besi yang menyimpan kekuatan yang hebat dari Allah itu terang benderang dipakai manusia untuk menyombongkan diri dan menyombongi sesama manusia.

Daur-II • 171

Bersegera Mengayomi

Padahal, kata Mbah Sot, tidak perlu proses pemikiran yang pelik, tidak perlu pengerahan kerja akal sampai memaksa dahi berkerenyit. Tinggal bersyukur dan menerima kerangka konteks dari Allah itu.

Manusia, Negara, dan Celana

Kalau berkerumun dengan masyarakat, misalnya yang hadir seribu orang, kalau di antara mereka ada 50 saja anak-anak, maka saya menyimpulkan bahwa fokus primer forum itu adalah yang 50 anak-anak. Yang 950 orang-orang dewasa bersama saya dan KiaiKanjeng wajib mengabdi kepada yang dibutuhkan oleh anak-anak itu.

Indonesia Makam Pancasila

Goal puncak kehidupan bernegara kita di Indonesia adalah tercapainya Sila-5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tampaknya itu sudah tercapai. Kalau melihat kegaduhan nasional dua tahun terakhir ini tema utamanya adalah ideologi, filosofi, dan prinsip-prinsip nilai.

Daur-II • 169

Ghaib Itu Perkasa dan Bijaksana

Sebenarnya sejak awal-awal dulu anak-anak muda terlibat dalam komunitas lanjutan Patangpuluhan, sekali dua kali sudah mendengar sejumlah pemahaman dan rumusan tentang keghaiban, berasal dari yang mereka dapat dari Mbah Markesot entah melalui tangan ke berapa.

Daur-II • 168

Padahal Allah Tidak Dilihatnya

“Coba kalian lihat sekeliling, tapi juga imajinasikan yang terjauh”, Pakde Tarmihim meneruskan.

“Maksudnya Pakde?”, Toling mengejar.

“Yang di sekitar kita: pisau, palu, panci, jeruji jendela, rangka pintu, berbagai komponen rumah ini… apa lagi…”

“Motor dengan banyak unsurnya, juga mobil, apalagi pesawat, bahkan handphone yang kecil ini, barang kecil-kecil ruwet di dalamnya…”, sambung Jitul.

Tongkat Perppu dan Tongkat Musa

Belum ada diskusi publik antara berbagai kalangan, termasuk pada Kaum Muslimin sendiri, misalnya apakah mungkin bikin Warung Tempe Penyet “Islam Sunni”, Kesebelasan “Ahlus Sunnah wal Jamaah”, Geng Motor “Jihad fi Sabilillah”, Bengkel Mobil “25 Rasul”, produksi Air “Nokafir”, atau Jagal Sapi “Izroil”. Tapi memang ada Band Group “Wali”, Bank “Syariah” dan “Muamalat”, Sekolah Dasar Islam, atau Islamic Fashion. Meskipun saya tidak khawatir akan muncul “Coca Cola Rasulullah saw”, Paguyuban “Obama Atina Fiddunya Hasanah”, atau Kelompok Pendatang Haram “Visa Bilillah”; tetapi saya merindukan ada Sekolah “Daun Hijau”, Universitas “Pohon Pisang” atau merk rokok “Hisab Akherat”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image image link