Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

Website Twitter Facebook Google+

Daur-II • 228

Terpeleset di Jalan Allah

“Memang begitulah aslinya sikap pikiran dan pilihan hidup hampir semua komunitas manusia. Ayat itu menggambarkan seolah-olah merupakan penolakan terhadap perubahan dan pembaruan.

Daur-II • 227

Tajdid Bèbèk

“Jadi apa sebenarnya maksudmu dan maumu, Toling?”, tiba-tiba Pakde Brakodin terdengar suaranya.

Beliau-beliau para orang tua mendengarkan dengan seksama semua ungkapan para keponakannya.

Daur-II • 226

Kebudayaan Yalid
Peradaban Yulad

Toling mengusulkan: “Yang sebaiknya menjadi fokus kita sekarang menurut saya bukan memahami dan menggambar dunia dan kehidupan dunia, melainkan menabung dan memaksimalkan silaturahmi kita dengan Al-Qur`an saja.

Roh Mani Rohim

Ada yang iseng menafsirkan bahwa bayi menangis ketika lahir adalah karena menyesal mengetahui Bapaknya kok itu. Ada perjanjian pribadi dengan Tuhan hal rancangan hidup di dunia, tetapi tidak ada klausul di mana sebelum menjadi bayi, manusia berhak memilih lahir dari Bapak dan Ibu yang mana.

Tinggal Satu Gerbang

Sepanjang aku dititipi tulisan, terus kuberikan kepada siapa saja yang mau. Tidak ada tujuan untuk “dimuat di media” sebagaimana dulu. Juga tidak dalam rangka “menjalani profesi sebagai penulis”.

Daur-II • 224

Bukan Ditidurkan oleh Allah

Jitul berpendapat melalui pertanyaan: “Apakah kita semua Kaum Muslimin Nusantara, alias para Ahlul Gua Sirna sekalian, yang kalau shalat Jumat berjamaah selalu disebut oleh Khotibnya sebagai Kaum Muslimin yang berbahagia dan dirahmati Allah ini – sejak abad 14 dibikin ngantuk oleh Allah, kemudian secara bertahap menjadi tertidur pada abad-abad berikutnya, lantas mengigau pada 1945 sampai sekarang – ataukah itu ngantuk-ngantuk kita sendiri, kelalaian kita sendiri, ketidakwaspadaan kita sendiri, ketidak-berpijakan sejarah kita sendiri?”

Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.

Keberanian untuk Lalim

Tiba-tiba menjelang tidur kemarin aku diserbu oleh rasa takut yang luar biasa. Besok kalau aku bangun tidur, keluar rumah, bertemu dengan suatu “hawa” kehidupan yang sebenarnya sudah kurasakan sejak sangat lama – tetapi tiba-tiba itu menjadi sangat menakutkan.

Daur-II • 223

Apa Malaikat Tahu

Belum ditafsirkan kenapa Ashabul Kahfi dibangunkan kembali oleh para Malaikat atas perintah Allah sesudah 309 tahun.

“Andaikan saya tahu Malaikat siapa yang ditugasi Allah membangunkan mereka”, kata Toling, “Saya akan memberanikan diri bertanya, kenapa 309 tahun, kenapa tidak 310, 307 atau 300 tahun saja, atau sekalian 350 tahun”

“Apakah kita yakin para Malaikat tahu apa konsep Allah tentang 309 tahun?”

“Makanya saya pengin tanya”, jawab Toling, “kalau beliau-beliau tidak tahu kan kita jadi tahu bahwa beliau tidak tahu”

“Atau mungkin tahu tapi Allah melarangnya untuk memberitahumu”, Junit menyahut.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image image link