Wahai Jiwa Jangan Berputus Asa

Corona, 25

Di dan untuk kalangan Jamaah Maiyah sendiri, hampir semua tulisan saya tentang Corona berangkat dari pernyataan di firman-firman Allah tentang musibah adalah disebabkan oleh kelakuan manusia sendiri. “Faman ya’mal mitsqala dzarrotin khairan yaroh waman ya’mal mitsqala dzarratin syarron yaroh” – Allah menyebutnya “dzarrah”, yang bahasa Indonesia menuliskannya “zarah”: mikro, nano, amat kecil. Mari bertanya kepada para ilmuwan, besaran Coronavirus dibanding volume bulatan bumi, dibanding besaran Bumi di tengah volume jagat raya — mana yang lebih besar. Kalau kita berpikir negatif kita bisa membayangkan di tengah konstelasi benda-benda alam semesta, jangan-jangan Bumi adalah Coronavirus bagi makhluk-makhluk lain sejagat.

Maiyah bukan partai politik, organisasi massa, kelompok sosial resmi, golongan tarekat keagamaan, madzhab aliran fiqih Agama atau institusi apapun. Maiyah tidak mengikatkan diri pada organisasi keduniaan apapun, dari Negara hingga lembaga-lembaga dana. Jamaah Maiyah hanya bersaudara secara sosial budaya, saling mengikat satu sama lain dalam prinsip Al-Mutahabbina Fillah, maka ia bernama Maiyah, “inna ma’iya Rabbi”. Hampir 30 tahun Sinau Bareng kegiatannya tidak dibiayai oleh siapapun kecuali oleh Allah dan mereka sendiri. Maka di pundak mereka tidak terpanggul kewajiban formal kenegaraan, karena mereka bukan siapa-siapa, no-one, nobody dalam konteks Negara maupun institusi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.

Pada tahun 1974 kebetulan saya menyodorkan puisi “Nobody” kepada Ebiet, dan itulah lagu bikinan Ebiet yang pertama:

I’m Nobody! Who are you?
Are you – Nobody – too?
Then there’s a pair of us!
Don’t tell! they’d advertise – you know!

How dreary – to be – Somebody!
How public – like a Frog –
To tell one’s name – the livelong June –
To an admiring Bog!

Tanpa sengaja ternyata kemudian, kelak dari waktu itu, sampai hari ini saya ber-”profesi” sebagai Mr. Nobody. Setidaknya demikian di hadapan kebanyakan orang, terutama Pemerintah dan berbagai institusi Negara dan Dunia.

Ketika Corona merebak sampai tingkat mendunia, dan entah bagaimana ummat manusia memaknainya — saya dan Maiyah adalah tetap Nobody. Selama 40 tahun ada sejumlah hal saya kerjakan secara nasional — yang saya menjadi berpenyakit kibriya` kalau saya menyebut daftarnya — dan hasilnya adalah saya Nobody. Dan terhadap mendunianya Coronavirus itu sendiri, saya bersama Jamaah Maiyah benar-benar nobody yang doing nothing except “qu anfusakum wa ahlikum nara”.

Akan tetapi andaikan memang Coronavirus ini adalah produk dari tidak beresnya hubungan ummat manusia dengan Tuhan, termasuk Jamaah Maiyah — maka inilah sebuah karya syair shalawat melantun ke jiwa kita: “Ya nafsu la taqnathi. Min zallatin ‘adhumat. Innal kaba`ira fil Ghufroni kal-lamami”. Saya pribadi awal mendengarkan syair Imam Bushiri itu dari almarhum Ustadz Yasin Hasan Abdullah Pasuruan, yang keindahan dan kewibawaan vokalnya sebanding dengan Haji Jai atau Guru Zaini Sekumpul Martapura. “Wahai jiwa janganlah engkau berputus asa. Sebesar apapun dosamu kepada Allah, ia amat sangat kecil di semesta pengampunan-Nya”.

Di tulisan-tulisan saya seputar Corona dua minggu terakhir ini sudah sangat banyak mendaftari “dosa-dosa” ummat manusia kepada Allah swt, yang di dalamnya pastilah termasuk saya sendiri dan Jamaah Maiyah. Maka saya sangat malu oleh tulisan-tulisan itu pada sisi bahwa saya bukan tidak berada di dalam daftar itu. Saya kira saya masih berada di golongan dari ummat manusia yang “bergelimang dosa”, sehingga permohonan saya sehabis setiap shalat malam agar diberi hidayah tentang obat penawar Coronavirus belum dikabulkan sampai saat ini. Mudah-mudahan ada di antara anak cucuku Jamaah Maiyah yang Allah sudah menyibakkan hijab antara qabul dari-Nya dengan harapan dan permohonannya. Mudah-mudahan totalitas tauhid dan keislaman jiwa Jamaah Maiyah membuat Allah berkenan melimpahkan petunjuk kepada salah seorang dari mereka.

Ummat Islam Indonesia adalah Kaum Muslimin terbesar jumlahnya di dunia dibanding di Negara-negra lain. Kita punya ribuan Ulama, ribuan Kiai, ribuan Ustadz, ribuan Habaib, kita punya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah serta banyak thariqat budaya Islam lainnya. Sangat tidak mustahil Allah berkenan menyelamatkan ummat manusia di Bumi dari Coronavirus melalui beliau-beliau.

Pada hakikinya, sesuai dengan pernyataan Allah bahwa Al-Qur`an adalah rahmat dan syifa, anugerah dan obat, bagi ummat manusia, maka asalkan seseorang meng-Qur`ankan dirinya, menjadikan Al-Qur`an muatan pikiran, hati dan jiwanya, mengalir di darahnya dan berdetak di jantungnya — maka Coronavirus “fil Ghufroni kal lamami”. Kecil dan mudah bagi Allah dan siapapun yang bersama-Nya.

Ada ratusan bahkan ribuan ayat-ayat Allah yang langsung maupun tak langsung berkontekstualisasi ke keselamatan manusia dari apapun. Orang sekarang tinggal di rumah dan memperbanyak baca Al-Qur`an. Atau pilih ayat-ayat tertentu untuk diwiridkan, didzikirkan, dibaca dan ditiupkan sebelum segelas air ia minum, dilantunkan sebelum tidur dan sesudah bangun. Atau dibacakan di seember air kemudian diciprat-cipratkan sekitar rumah dan tempat-tempat terpenting. Atau ada banyak cara lain.

Sebenarnya, tanpa menunggu langkah Pemerintah, setiap orang dan keluarga sudah seharusnya tahu apa yang harus mereka lakukan dan apa yang jangan sampai mereka lakukan. “Bismillahil ladzi la yadhurru ma’asmiHi syai`un fil ardli wala fis sama`i wa Huwas Sami’ul ‘Alim”.

Lockdown 309 Tahun