Sendhang Kawicaksanan

Mukadimah Waro` Kaprawiran Februari 2019

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Pada dasarnya manusia saling membutuhkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Nenek moyang kita dahulu telah dengan cerdasnya memformulakan hal tersebut dengan membuat tradisi gotong royong, saling membantu dengan yg lain. Namun seiring berkembangnya zaman budaya gotong royong mulai ditinggalkan, manusia di negeri ini malah tumbuh menjadi mahluk yang cenderung tidak peduli sesama. Entah bagaimana caranya yang jelas virus ini tiba-tiba saja sudah mengerogoti tradisi budaya dinegeri kita. Berbicara masalah sosial budaya secara umum memang tidak akan ada habisnya, sudah berapa profesor, ilmuan, aktifis pergerakan atau apalah yang terlahir dari permasalahan sosial budaya ini, namun tak satupun dari mereka bisa mengatasi nya dengan lebih nyata, mereka hanya berhenti pada rumusan-rumusan masalah dan hanya sedikit tindakan yang nyata dan konkrit bagi masyarakat luas, mungkin perlu adanya pembicaraan atau diskusi untuk mencari solusi yang lebih sesuai dengan role mode perkembangan zaman dan lebih menekankan pada teknis pengimplementasian atau pengaplikasian solusi tersebut di kehidupan nyata.

Berkembangnya teknologi sekarang sangat memudahkan bagi penggunanya, dimana pengguna bisa mengetahui kabar dari belahan dunia lain secara real time, sangat memungkinkan mempengaruhi kondisi kesadaran dan pemahaman penggunanya, tak salah bila banyak kebudayaan-kebudayaan asing masuk bak banjir bandang tanpa bisa dibendung ataupun difilter satu persatu, sehingga perlu adanya suatu sistem personal security pada setiap individu yang sanggup membijaksanai setiap informasi yang masuk.

Dengan banyaknya persoalan-persoalan yang begitu kompleks, rumit dan bias ini, bagaimana kita sebagai individu memposisikan diri?, Langkah-langkah seperti apa agar bisa membijaksanai setiap persoalan dikehidupan sehari-hari?, Dan gerakan-gerakan simultan seperti apa yang lebih tepat dengan gerak langkah dan nafas perjalanan panjang ini?. Maka dari itu kami Majelis Masyarakat Maiyah “Waro’ Kaprawiran” mengajak dulur-dulur untuk duduk melingkar bersama, membahas hal-hal yang perlu dibahas, membicarakan hal-hal yang perlu dibicarakan dengan mengusung tema “Sendhang Kawicaksanan”. Sendang secara bahasa berasal dari bahasa Jawa yang berarti sumber mata air. Sedangkan kawicaksanan berasal dari kata bijaksana yang berarti matangnya sebuah sikap, mental, dan hati.

Tak berbeda dengan tujuan Agama sendiri yaitu untuk terbentuknya akhlak yang baik dengan landasan kearifan dan kebijaksanaan seperti kata Dr. Muhammad Nursamad Kamba dalam bukunya KIDS ZAMAN NOW “awwal al-dien al-makrifah” awal agama adalah makrifat. diawali dengan kearifan dan kebijaksanaan yang terbentuk dari tumbuhnya akal sehat, bangkitnya nurani, dan adanya ketajaman intuisi berkat frekuensi ibadah yang dilakukan secara berkualitas dan berkesinambungan. Tak salah bila ritual dalam agama bukan merupakan tujuan, namun yang lebih penting adalah cara kita mendidik jiwa agar memiliki akhlak terpuji dalam pergaulan dengan sesama sehingga tindakan-tindakan yangg arif lagi bijaksanalah yang muncul dari dalam diri kita.

Buku Cak Nun