Pentol-Pentol Surga Menyorong Rembulan

#65TahunCakNun

Mereka yang ke Menturo pada 27 Mei ini, bukan untuk merayakan apa-apa selain mensyukuri kebahagiaan sendiri. Kebahagiaan karena dalam rentang hidup kita yang singkat ini, kita rupanya berjodoh dengan sosok manusia, orang besar, guru, orang tua kita yakni Emha Ainun Najib. Mbah Nun. Karenanya hari kelahiran beliau adalah kebahagiaan kita sendiri, masing-masing.

Tentu rasa bahagia itu tidak hanya muncul dalam ucapan-ucapan, hashtag #65tahunCakNun dalam dua hari terakhir menggelombang, tanpa buzzer apalagi yang bayaran. Tapi bukan itu saja, JM sadar bahwa kebahagiaan Mbah Nun adalah justru ketika menyaksikan anak cucu berdaya dan bahagia, mantap berdaulat ekonominya, terus belajar dan bekerja, sehat pikiran dan tajam batin. Maka satu-satunya cara mempersembahkan hadiah bagi Mbah Nun adalah dengan JM meningkatkan kualitas dirinya. Baik secara individu maupun per lingkar-lingkar.

Karena itu mungkin sejak siang tanggal 27 Mei Menturo sudah sibuk dengan kegiatan workshop dan sharing, diskusi bersama Pak Franky W dan Pak Sugiono.

Lingkar-lingkar Maiyah yang sudah punya usaha dagang menunjukkan produk-produk mereka di lahan yang disediakan oleh panitia di sebelah timur masjid. Katakanlah ini promosi dagang, begitu juga kan tidak buruk. Namun tidak selalu urusan dagang, pancaran wajah yang saya rasakan dari para pelapak ini seperti kalau pembaca yang budiman pernah melihat seorang bocah baru bisa berjalan dan dia melakukan langkah pertamanya di depan orang tuanya, wajah si anak mendongak tersenyum. Ada bangganya, tapi bukan sang anak mau pamer ke orang tuanya, kan? Apalagi menjual kemampuan berjalannya?

Sang anak tau langkah kecilnya adalah kebahagiaan orang tuanya, dia ingin orang tuanya tersenyum dengan kemampuan yang gunanya adalah untuk anak itu sendiri. Inilah anak cucu JM, dengan langkah-langkah kecil yang coba menyusuri jalan sunyi.

Langkah-langkah saya juga menyusuri lokasi acara pada malam itu. Jajanan semarak dan beragam. Jajanan sini bukan jajanan Yogya yang agak basa-basi rasa dan porsinya. Tampaknya di sini memang lebih serius soal rasa, ukuran dan porsi. Saya sempat ngopi di warung, dan tiba-tiba mendapati diri berada di tengah geng penjaja pentol yang berdebat seru mengenai berapa banyak porsi yang harus disediakan pada acara Maiyah, Ngaji Bareng selanjutnya. Ini dielaborasi dengan serius dari pengalaman kaca benggala sejarah berjualan pentol pada Ngaji Bareng sebelum-sebelumnya. Ini obrolan yang saya tidak bisa ikut, tentu saja. Tampaknya ada adukan cinta dan militansi radikalisme Jombang dalam pentol-pentol ini. Pentol surga.

Di panggung, tentu saja persembahan-persembahan cinta juga terus mengalir. Lingkar-lingkar Maiyah berganti-ganti menyatakan kebahagiaan mereka atas hari ini, hari kelahiran orang tua yang kita cintai. Begitupun ekspresi dengan musik, syair, puisi juga tak henti mengalir diantaranya dari Gamelan Batu Aji (Batu, Malang), Gamelan Kiai Iket Udeng (Madiun dan Ponorogo), Gamelan Ajisoko (Bojonegoro) dan Wakijo Sedulur (Semarang). Karena cinta yang membuncah, memang pada saatnya harus tumpah. Tumpahlah keindahan, beberapa air mata menitik. Kami bangga dan bahagia sebagai bocah-bocah di jalan sunyi.

Mas Sabrang MDP didapuk ke atas panggung Oleh Lek Ham. Sebagai “kakang guru”, entah istilah ini benar apa tidak, supaya berkesan dunia persilatan. Mas Sabrang memang yang menjadi pemantik diskusi Sinau Bareng malam ini, tampak para pendekar pun berkelebatan menampilkan jurus-jurus mereka dihadapan kakang Mas Sabrang MDP. Menjura penuh hormat lalu:

“Kakang! Izinkan saya menguji jurus sampean, ciattt… Ajian Jurus Bumi Datar!”

“Adik, jangan sembarangan merapal jurus, tak baik. Jalan tenaga dalam bisa kacau nanti”

“Saya yakin dengan apa yang saya pelajari, namanya juga arek Maiyah. Majulah…”

“Baiklah, terpaksa aku ladeni. Nah, apa itu gravitasi?”

Ya baiklah, itu khayalan saya saja. Saya mau bilang, kebutan jurus alias pertanyaan tak henti-henti mengalir pada Mas Sabrang malam itu. Entah seperti kakak pertama di padepokan yang diuji dengan kekurangjangkepan gerak, masih kurang kokohnya kuda-kuda serta beberapa pendekar muda yang sedang euforia dengan jurusnya.

Semua dihadapi oleh Mas Sabrang dengan pola yang semesra-mesranya, sesekali agak ada debatnya ya itu juga mesra. Anda yang biasa jalan-jalan ke Valhalla, akhiratnya para prajurit Viking, pasti tahu para prajurit di sana saking mesranya justru suka berantem sendiri. Karena kemesraan kaum awam-jelata, prajurit lapangan, beda sama kemesraan ningrat-priyayi yang komandan strategi. Saya sedang menyiapkan satu tulisan mengenai Valhalla ini.

Kemesraan dan keinginan untuk mendewasakan kedirian, meningkatkan ajian, melumat kenyataan, terjun bebas ke kawah candradimuka. Meningkatkan kualitas sebagai manusia, inilah persembahan cinta anak cucu JM dalam Menyorong Rembulan.