Kepastian Tuhan pada Insinyur Kehidupan

Catatan Sinau Bareng CNKK dalam HUT ke-66 PII, 1 Juni 2018

Malam tujuh belas Ramadlan kali ini, 01 Juni 2018, bertepatan dengan hari pertama rangkaian Sinau Bareng di Malang. Sebelum keesokan harinya akan berlanjut di Universitas Islam Malang. “Menuju Revolusi Industri 4.0”. Begitu yang terpampang jelas di panggung depan rektorat Universitas Brawijaya itu.

Pukul 20.00 WIB, acara belum dimulai, tapi lapangan depan rektorat itu sudah dipenuhi sekumpulan jamaah yang kebanyakan adalah para pemuda. Mereka sudah duduk rapi sejak pukul 18.30 WIB. Motor-motor sudah berjajar rapi di depan dan samping kanan lapangan. Para penjual merchandise Maiyah, cilok, sosis, dan jajajan lainnya sudah siap melayani para jamaah di sekitar lapangan.

Malam nuzulul Qur`an kali ini disambut dengan mensyukuri hari kelahiran Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang ke-66. Sinau Qur`an ala insinyur. Kurang lebih begitulah saya menggambarkan sinau bareng malam itu. Al-Qur`an diturunkan bukan hanya untuk satu golongan tertentu saja. Al-Qur`an diturunkan untuk semua golongan. Tak ada larangan bagi siapapun untuk mentadabburi Al-Qur`an menurut mata pandangnya masing-masing. Dan kali ini, jamaah diajak untuk mencoba menyelami Al-Qur`an dengan menggunakan kaca mata insinyur.

Belajar Menjadi Arsitek Kehidupan

“Kenapa arsitek itu disebut sebagai ilmu pasti? Menurut saya yang pasti itu Tuhan, Cak.” Kurang lebih begitulah yang ditanyakan salah seorang jamaah malam itu. Arsitek menjadi bagian dari ilmu pasti, karena pada kinerja arsitek telah tersemat bagian dari kepastian sunnatullah, kepastian hukum kinerja Tuhan.

Apa yang dilakukan para arsitektur dalam merancang bangunan-bangunan menggunakan perhitungan yang sangat presisi. Segala hal yang bersangkutan dengan bangunan itu, baik di masa sekarang maupun beberapa waktu yang akan datang telah diperhitungkan dengan sangat teliti.

Apa yang telah dilakukan arsitek ini juga mengajarkan kita untuk tidak mengumbar kebenaran. Bahwa yang kita sajikan adalah output dari hasil pengolahan kebenaran. Hingga yang muncul adalah kebaikan dan keindahan. Mbah Nun menggambarkan dengan arsitek yang tidak menampakkan rumus-rumus ataupun teori dari ilmu-ilmu yang dipelajarinya ke khalayak ramai. Teori-teori dan perhitungan-perhitungannya disembunyikan dalam kesunyian dapurnya. Tinggallah bangunan yang apik, yang disajikan para arsitek itu untuk sekitarnya.

Fastabiqul khairat, bukan fastabiqul haq. Berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bukannya berlomba-lomba akan kebenaran. Begitulah yang diajarkan oleh Tuhan kita. Bahwa apapun, sebisa mungkin output-nya harus kebaikan. Bahkan, menurut Mbah Nun, sekalipun ternyata kita masih belum benar, yang penting apa yang kita tampakkan tetap harus berupa kebaikan, berupa kebijaksanaan.

Satu di antara beberapa insinyur yang duduk di atas panggung itupun menceritakan proses pembuatan jembatan Suramadu. Bahwa ada proses panjang yang mengawal setiap langkah pembuatannya. Semua diperhitungkan dengan sangat presisi. Bagaimana jika ada gempa dengan kekuatan sekian skala richter, bagaimana jika ada angin dengan kecepatan sekian kilometer per jam, bagaimana jika beban yang melewatinya sekian, berapa kira-kira umur jembatan, semua diperhitungkan dengan sangat teliti.

Kita sangat perlu belajar dari para insinyur dan para arsitektur dalam mempertimbangkan segala sesuatu guna menjaga keseimbangan kehidupan. Saking pentingnya peran ini, sampai-sampai Mbah Nun pun mengatakan bahwa seorang pemimpin jika bisa memahami arsitek kebudayaan, arsitek sosial, ini akan sangat membantu mengurangi konflik dalam kepemimpinannya. Seorang pemimpin juga perlu mempelajari dan menguasai arsitek kebudayaan.

Asal Kemanusiaanmu Jangan Sampai Hilang

Dalam rangka menuju revolusi industri 4.0 ini, para insinyur di atas panggung itu pun menjelaskan mengenai revolusi industri 4.0 itu sendiri. Revolusi industri 4.0 menawarkan kemudahan-kemudahan melalui teknologi-teknologi dan internet. Dengan revolusi industri ini harapannya akan bisa membantu aktivitas kita sebagai manusia. Hingga kita pun bisa lebih produktif dari yang sebelumnya.

Revolusi industri 4.0 ini juga membantu pekerjaan manusia menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam masalah menangani kebakaran, misalnya. Jika sebelumnya untuk kasus kebakaran yang serupa dikerahkan 1000 orang untuk memadamkannya, dengan revolusi industri ini bisa dihitung dan diramalkan berapa jumlah orang yang tepat untuk menangani kasus ini. Tenaga yang dibutuhkan pun bisa lebih sedikit untuk kasus yang serupa. Selain itu, dengan adanya revolusi industri ini juga bisa membantu kita untuk memprediksi kapan kira-kira banjir akan tiba. Hingga kita pun bisa mempersiapkan segalanya sebelum kedatangannya, agar dampak yang terjadi pun bisa semakin ditekan juga.

Segala sesuatu pastilah ada positif negatifnya. Meminjam bahasa Mbah Nun, segala sesuatu pasti ada knalpotnya. Ada yang masuk, pasti ada yang keluar. Ada yang datang, ada yang pergi. Malam itu, beberapa jamaah pun meminta untuk dijelaskan apa dampak negatif dari revolusi industri ini, jika sebelumnya telah dipaparkan beberapa manfaat dari revolusi indutri 4.0 ini.

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh revolusi industri ini pun ternyata juga menyisakan beberapa dampak negatif. Banyak pekerjaan yang akan digantikan oleh kehadiran mesin-mesin teknologi yang semakin mutakhir. Bahkan, ada yang meramalkan 47 pekerjaan akan hilang digantikan oleh mesin teknologi di era revolusi industri 4.0 ini.

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan juga bisa membuat anak cucu manusia menjadi semakin individualis. Interaksi sosial dan aktivitas fisik akan semakin berkurang. Katakanlah saat ini, jika dalam suatu kumpulan kebersamaan, kebanyakan akan sibuk dengan dunia gadget-nya sendiri-sendiri. Selain itu, kemudahan-kemudahan yang diberikan juga akan membuat manusia semakin rapuh. Layaknya anak kecil yang terbiasa dihujani fasilitas kemudahan oleh orangtuanya, ia akan cenderung kurang mandiri dibandingkan yang dibiasakan dengan kesungguhan dalam berusaha.

Apapun yang akan disisakan oleh revolusi industri 4.0 ini, mau tidak mau kita juga tetap akan menghadapinya. Bagaimanapun kita tidak dapat menghindari kedatangan revolusi industri 4.0 ini. Jadi, kita pun harus siap dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Ojo kalah karo teknologi. Teknologi uduk bosmu, tapi karyawanmu.” Pesan Mbah Nun membesarkan hati para jamaah. Bagaimanapun kita harus optimis, kita harus husnudzan akan pertolongan Tuhan. Bukankah kata Tuhan, ana ‘inda dhanni ‘abdii bi? Aku (Tuhan) sebagaimana persangkaan hamba-Ku. Apappun dan bagaimanapun, semua masih akan tetap kalah dengan qadla dan qadar Tuhan.

Mbah Nun menggambarkan bahwa kehidupan itu tak ubahnya bola dalam suatu permainan sepak bola. Tidak ada yang tahu persis bagaimana arah bola ke depannya. Meskipun kelihatannya akan sangat mungkin menuju ke arah sana, akan tetapi tetap ada kemungkinan lain untuk tiba-tiba bergerak menuju arah yang berlawanan dari yang sebelumnya. Semua tergantung kehendak dan kuasa Tuhan. Karenanya, apapun dan bagaimanapun kondisi kita dan bangsa kita hari ini, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat dan pertolongan Tuhan. Tugas kita sebatas pada usaha dan semoga-semoga. Selebihnya, kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Sebisa mungkin kita tetap berjalan dan belajar, sembari berharap Tuhan meminjamkan sebagian kecerdasan-Nya untuk kita. Agar kita pun bisa menjadi ahli di bidang masing-masing yang kita geluti. Agar kita pun bisa turut memancarkan cahaya Tuhan lebih luas lagi.

Yang jelas, sehebat apapun teknologi, tetap ada beberapa titik yang tidak bisa digantikan oleh teknologi manapun. Rasa. Ia tak akan bisa digantikan oleh teknologi apapun. Artinya, tetap akan ada beda antara karya yang dihasilkan oleh teknologi industri dengnan yang dihasilkan oleh manusia. Begitulah yang disampaikan Mbah Nun malam itu. Pak Suko juga menambahkan, bahwa secanggih apapun teknologi, tetap tidak ada yang bisa menggantikan peran mendidik. “ Iso ta gak, ndidik anak nggawe WA?”

Sebisa mungkin, jangan sampai ada yang merenggut kemanusiaan kita. Kita butuh untuk terus belajar menjadi manusia dan belajar selalu ingat bahwa kita adalah manusia. Mbah Nun juga berpesan, bahwa secanggih apapun teknologi, jangan sampai hal-hal yang baku dari kita itu hilang. “Apa yang baku dari manusia, jangan pernah hilang oleh teknologi manapun.” Seperti halnya Mbah Nun yang masih tetap mau berjalan, meskipun sudah diberikan fasilitas kendaraan yang memudahkan.

“Yaa Allah, jadikanlah urusan kami ini menjadi urusan-Mu, sehingga Engkaulah yang akan membantu menyelesaikannya. Yaa Allah, jadikanlah urusan bangsa Indonesia ini menjadi urusan-Mu, sehingga Engkau yang akan memberikan rencana terbaik untuk masa depan bangsa ini.” Begitulah do’a yang diajarkan Mbah Nun kepada para jamaah di tengah kesungguhan usaha dalam menjalani peran yang telah digariskan Tuhan pada mereka semua.