Foto ≠ Video

Mukadimah SabaMaiya Oktober 2018

Pernah mendengar atau membaca istilah Kiai bau menyan atau istilah ustad bercelak?

Ya, dua istilah itu menjadi trend mutakhir sofistikasi spiritual yang secara gamblang menciptakan nuansa perbedaan asnafnya dengan mengelaborasi kasta kiai blangkon, kiai misik, kiai fortuner, ustad mabrur, ustad berpahala, dan lain sebagainya. Kita melihat pertunjukan, dengan beragam aktor yang harus kita puja sebagai sumber kebenaran.

Semua itu memang dibentuk oleh pasar, untuk menjadi komoditi yang bisa dikomersilkan di tengah kegaringan spiritual. Sementara kita tahu pasar kita hari ini adalah tempat berkumpulnya para politikus, halaqah cicit-cicitnya Qarun, yang menciptakan fatamorgana sorga yang fantastis, sehingga orang-orang kecil menjadi kian kecut nyali dan tidak menemukan solusi ukhrawi kecuali dengan cara bersedekah dan menziarahi kuburan.

Agama kehilangan keteladanannya, yang kita temukan selama ini hanyalah alamat palsu. Yang kita bungkus rapi bagaikan jimat, namun justru menjauhkan nilai-nilai moral dari kaidah agama. Agama tinggal hapalan yang bisa dicopy paste dari selebaran-selebaran gelap, rujukan mbah google. Kita hidup di dunia tahayul yang seakan semuanya perlu di-disiplin-kan dengan banyak fatwa. Padahal kita tahu semenjana, agama menuntun kita untuk lebih memahami perihal tanggung jawab, yang celakanya, hari ini kita justru tidak berani bersikap laiknya orang yang memiliki agama. Apalagi syiar, untuk dan atas nama agama!

Dipihak lain, institusionalisasi agama dan formalisme ajaran-ajarannya semakin berorientasi pada jalan yang paralel dengan ultramatrealisme. Cukup menggabungkan diri dalam salah satu organisasi perkumpulan keagamaan.

Ada seorang kawan yang dulu kuliah di ISI Jogja, dia mengambil jurusan Videografi tapi hidupnya menekuni Fotografi. Dia berkata bahwa puncak dari ilmu fotografi yang dia miliki adalah Dokumentasi. Dan puncak dari kemampuan dan ilmu desaindengan segala tetek mbengeknya adalah Manipulasi.

Dulu, kita mengenal istilah no pict sama dengan hoax dalam segala hal, walaupun foto tersebut menjadi semacam alat bukti eksistensi pribadi. Tetapi foto tidak sama dengan video,foto bukanlah video, dan video juga masih bisa dimanipulasi dengan sentuhan editing dan akting.

Pada edisi bulan Oktober ini, Majelis rutinan SabaMaiya berusaha untuk saling mencari, mencoba mengenali dan meneliti serta mendalami tema ”Foto tidak sama dengan Video”.

*Mukadimah ini disusun dari kutipan buku Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam karya Marja’ Maiyah: Syekh M. Nursamad Kamba.

Buku Cak Nun