Dari Buku, Kuta’arufi Maiyah

Maiyah, satu kata yang belum sepenuhnya aku tahu artinya. Setelah mengenal kurang lebih setengah dekade pun masih tetap belum paham maknanya.

Awal perkenalanku dengan Maiyah terjadi secara tidak sengaja. Bermula dari iseng-iseng pinjam buku kawan karib berjudul ‘Folklore madura’ karya Mbah Nun. Sontak saja saya langsung jadi ‘fans’ dadakan dari penulisnya. Dalam buku tipis yang ringan itu tersirat sejuta ilmu dan ‘cheat‘ guna menjalani lucunya hidup.

Dari buku ini, banyak gagasan saya yang masih tertidur pulas dalam saraf otak paling dalam tiba-tiba terbangun. Mulai dari hal sepele seperti menggugat standar “dasi-sepatu lebih rapi dari pada pake sarung dan sandal”. Dilanjutkan dengan tertawakan keputusan jutaan manusia memilih kiblat hidup dengan mati-matian kejar kefanaan. Sampai hal fundamental dalam kasus syahadatain yang ternyata tak hanya cukup diucapkan oleh mulut saja. Namun juga harus dibuktikan dengan perilaku jalani lika-liku hidup.

Sejak buku pertama, saya langsung ketagihan buku-buku karya Mbah Nun lainnya. Mulai dari yang ditulis pada era ayah-bunda saya masih remaja sampai era milenium terbaru. Semua buku itu ada yang repot-repot saya beli hingga sengaja meminjam dari kawan-kawan. Sampai detik ini saja entah berapa buku yang sudah saya lahap dengan rakus. Pastinya buku tulisan beliaulah yang paling banyak saya baca sepanjang hayat. Saking doyannya dengan buku karya beliau, masih ada buku di meja kamar, yang hingga tulisan ini ada, baru saya baca setengah.

Setelah berguru lewat buku inilah, saya mulai tahu adanya maiyahan. Forum pertemuan Mbah Nun dan anak-cucunya ini begitu hebat menarik rasa penasaranku. Namun, sebelum saya percaya diri untuk ikut secara langsung, terlebih dulu saya jadi jamaah YouTuber. Butuh waktu sekitar satu tahun surya untuk akhirnya saya putuskan datang ke maiyahan pertama kali. Bertemu dengan guru yang selama ini hanya lewat perantaraan layaknya Bambang Palgunadi, saya merasakan beribu kebahagian yang diciptakan Yang Maha Pencipta. Ditambah alunan melodi dari KiaiKanjeng yang menggetarkan jiwa, membawa saya larut kepada keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa.

Empat tahunan sudah akhirnya saya rutin bermaiyah. Ratusan lebih kilometer ditempuh demi menghadiri, namun terasa dekat bagai satu langkah saja. Lalu timbul tanya dalam benak, “Apa sih Maiyah buatku?”. Bagi saya Maiyah adalah sarana saya untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Tunggal. Lewat izin dari-Nya, saya dipertemukan dengan jutaan bahkan miliaran pengetahuan lain.

Beberapa waktu lalu sudah 65 tahun Mbah Nun diadakan oleh Yang Maha Pemurah untuk hidup di dunia. Selamat dan terima kasih untuk Simbah telah repot-repot berjuang agar manusia yang sudah menjauhi Rabb-nya seperti saya lebih mendekat lagi pada-Nya. Utamanya dengan Maiyah inilah saya kembali merintis jalan semakin dekat dan akhirnya menghilang menuju ketiadaan dalam kekekalan-Nya.