Daur-II • 159

Tak Seorang Penolongpun

Pakde Brakodin yang tadi mengusulkan agar anak-anak muda itu tidak hanya berdiskusi tapi juga terjun ke lapangan, mencoba menjelaskan maksudnya: “Tidak berarti pengalaman hidup kalian sehari-hari tidak cukup untuk dipakai menemukan dialektika maknanya dengan Al-Qur`an. Tapi mungkin beda kalau melihat hal yang sama namun dengan pandangan yang sudah berkembang”

“Paham, Pakde”, jawab Seger, “itu selalu kami sadari. Tiap hari kami sering menemui dan mengalami hal yang sama di tengah masyarakat, namun hasilnya berbeda pengetahuan dan cara pandang kami sudah tidak seperti sebelumnya”

“Mungkin juga ada hal lain”, Pakde Brakodin meneruskan, “di dalam realitas masyarakat dan Negara, kenyataan ummat dan Agama, mungkin ada banyak dimensi yang kalian belum bisa melihat atau mengalaminya karena usia kalian. Kalau kalian rajin melakukan penelitian di lapangan, mungkin kalian bisa menembus pemahaman itu tanpa menunggu kalian menjadi dewasa seperti kakak-kakak dan Bapak Mbah kalian seperti kami-kami ini”

Toling menyahut. “Justru kami menemukan pengalaman orang-orang tua sehingga berpikir lebih jauh ke depan. Misalnya lembaga ‘Adalah Ulama’ yang sudah kita bicarakan, umumnya tidak bisa ditawar. Ada era di mana ‘adalah Ulama’ adalah tokoh-tokoh yang teruji integritas moral dan peran sosialnya: Alim, saleh, akhlaqnya karimah, santun dan pengayom masyarakat. Kemudian muncul era di mana ‘adalah Ulama’ tidak lagi didasarkan pada parameter kualitatif. Cukup tanda-tanda luar saja: pokoknya kata orang banyak dia Ulama, ya sudah kita ikut mengakui dia Ulama. Lihat saja pakaiannya, toh jelas biasa kasih tausiyah. Lantas saya ketemu ayat ini: “Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun[1] (Ar-Rum: 29).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra