Daur-II • 158

Tak Perlu Nunggu di Kuburan

“Kami tidak senang menangisi keadaan dunia”, Seger meneruskan penjelasan Junit, “kami anak-anak muda ini belajar mencari asal usul suatu keadaan, supaya tahu ujung anak panah luncuran keadaan itu. Kami belajar mencari Ibu kejadian, kunci permasalahan. Kami tidak meratapi keadaan manusia di dunia, meskipun kami juga belajar untuk tidak terseret olehnya”

Seger melengkapkan informasinya. “Urutan pernyataan Allah itu sangat jelas: ‘Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang dikerjakannya, diperlihatkan neraka kepada yang melihatnya. Adapun orang yang melampaui batas, yang lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya’. [1] (An-Nazi’at: 35-39).

“Al-Qur`an sangat banyak memberi kunci informasi tentang Sorga dan Neraka”, katanya, “Maka kami anak-anak muda tidak melihat kedua kebijakan Allah itu sebagai objek atau pelengkap penderita. Kami tidak berani menunggu mati dan dikubur dulu untuk sedikit memastikan pengetahuan tentang neraka. Bahkan kami tidak perlu menunggu berusia tua untuk membereskan kejelasan hal tentang Sorga dan Neraka…”

Seger menegaskan, “Kalau dengan rute informasi ayat itu, kami tidak perlu berada di kuburan dulu untuk mengingat apa yang kami perbuat, baru kemudian menyesalinya karena ngeri kepada neraka. Setiap hari, bahkan setiap saat, kami harus selalu ingat apa yang telah kami kerjakan. Supaya Allah memperlihatkan Neraka dengan jelas ketika kami melihatnya. Sebab makhluk tidak mampu melihat Neraka atau Sorga, tanpa Allah berkenan memperlihatkannya. Akal adalah perangkat utama kemakhlukan manusia, tapi itu tidak berarti cukup dengan akal untuk mengakses pengetahuan tentang Sorga dan Neraka. Perangkat utama manusia sesungguhnya adalah perkenan Allah”.